Sunday, 2 October 2011

Ada Bom di Rumah-MU, TUHAN!

TEMPO Interaktif, Solo - Sebuah bom bunuh diri meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh yang berada di kawasan Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Satu orang tewas seketika, diduga pelaku bom bunuh diri.

Petugas keamanan gereja, Suharto, menuturkan kejadian tersebut terjadi pada saat kebaktian selesai, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu para jemaat gereja sedang keluar dari gedung dan berada di halaman gereja.

"Pelaku membaur dengan jemaat gereja yang akan keluar," katanya kepada Tempo saat dihubungi melalui telepon, Ahad 25 September 2011.

Dia mengaku tidak sempat memperhatikan pelaku sebelumnya. Namun dia menduga bom tersebut disimpan di tubuh bagian depan. "Perutnya terurai," kata Suharto.

Akibat kejadian itu delapan jemaat dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Oen Kandangsapi, Solo. Sedangkan bangunan gereja tidak mengalami kerusakan berarti.
http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2011/09/25/brk,20110925-358119,id.html (Sunday, 02-10-2011)

Time To Change, Time To Move

Tersadar dari sebuah lamunan panjang tak bertuah. Detik waktu yang mengalir seiring dengan silih berganti matahari dilangit. Terkadang waktu terasa getir, manis, indah, memuakan, membosankan, atau bahkan beracun bagi jiwa-jiwa manusia. Akan tetapi disanalah kekuatan untuk manusia dapat berubah dan bertransformasi menjelma menjadi baru. Waktu merubah segala hal menjadi baru dan berbeda pada aksinya.

Melirik teman dan pecinta di kampus seakan mereka telah berubah. Para biduan yang tak mengacukan fashion seakan mulai menyadari betapa indahnya pintalan benang yang membelit tubuh mereka. Aroma wangi yang menghiasi tubuh seakan menjadi jadi diri dan tanda perubahan di dalam diri mereka. Mulut yang kian berisi dan tajam menunjukan sebuah intelegensi berbeda dengan sebelumnya. Anggun, cantik, dan mempesona adalah sebuah perkenalan dari diri mereka sendiri "INILAH SAYA!" Feminisme merebak dan memenuhi relung-relung yang kosong dan meracuninya.

Melirik kepada sanak saudara diseberang barat sana. melirik kemasa lalu dimana ketika menjadi bagian yang termuda dan terkecil, layaknya raja kecil yang selalu menang akan peperangan hawa nafsu. Mainan, kesenangan, tawa, tangis, tersenyum licik atas saudara-saudara yang menjadi korban sebuah tangan usil menjadi sebuah kebersamaan yang tak kan mampu terulang. Menatap masa kini dan menyongsong masa depan yang sepi, semua telah berlalu. Realitas menumpuk serta tuntutan tanggung jawab menjadi pergumulan sehari-hari yang mengikis segalanya. Sebuah perubahan dramatis ketika gelak tawa kesenangan bersama menjadi sebuah moment langka yang dipuja.
Melirik kepada diri sendiri, saya tak ingin menjadi tua ataupun dewasa. 15 tahun untuk sekarang dan selamanya menjadi dasar dalam menerima segala hal yang terjadi. 15 tahun dimana tak merasakan apa itu sensitivitas, sakit hati, mengesalkan, egoisme, ataupun apa saja yang ingin kau benci. Tertawa lepas, bersenang-senang, dan menikmati hidup adalah sebuah filosofi dari 15 tahun untuk sekarang atau selamanya. Menjadi berbeda dengan segalanya dan mungkin melawan arus perkembangan waktu menjadi sebuah resiko yang harus ditangkap. Bagaimana dengan anda?

Keep Absurd and Abstrak!