Showing posts with label Ide abstrak. Show all posts
Showing posts with label Ide abstrak. Show all posts

Sunday, 4 January 2015

Retrospeksi Diri 2014

Banyak hal satu persatu yang terlewati. Senang, bahagia, gembira, tawa, dan berbagai macam perasaan lainnya. Tergores sudah cerita yang tidak kan pernah terhapuskan di dalam batu historikal. Sebuah jurnal imajinasi yang rapi tersimpan dalam benak dan kelak kan menjadi sebuah pembelajaran yang tentunya tidak ternilai harganya. Terasa tak lengkap dan berimbang jikalau senang dan berbagai perasaan senang lainnya tidak hadir bersama selimut duka yang mengahantui. Yah, datang dan pergi memberikan sebuah cipratan noda diatas memoar indah. Semua berbanding dan saling melengkapi, layaknya sepasang jari yang menggenggam erat.

Menyalahkan Tuhan atas suratan takdir dalam hidup kita? Tidaklah, semua murni atas pilihan umatnya. Jikalau 2010 hingga 2012 bisa dibilang tahun yang gemilang di dalam hidup, maka 2013 menjadi sebuah persimpangan hidup kemana akan menuju. Maka sebuah petunjuk jalan yang ditempuh adalah "KEMALASAN". Menuju malas, dan perlahan menggerogoti dari dalam perlahan namun pasti hingga sepotong hilang sudah. Sedih? Tiada yang menyukai kehilangan. Kecewa? Sudah terjadi dan semua dibalas dengan senyum getir yang menghiasi.

Rasa nyaman, dinding-dinding pembatas baru, serta beban yang kian banyak membuat malas untuk bergerak. Terlena dalam ranjang empuk berbalut selimut tebal mengusir dingin yang menyeruak membuat setan berbisik bahwa berbaring menjadi pilihan yang tampaknya tepat. Buai sanjung dan puji di telinga kiri dan kanan menghanyutkan dari hulu menuju hilir, dari puncak menuju dataran rendah. Singgasana yang tegak berdiri menopang perlahan digergaji satu persatu penyangganya hingga pincang dan siap untuk digulingkan. Malas memang ternyata sebuah perjalanan yang sungguh berat dan berbahaya.

2015, tahun baru sudah di mulai. Genderang perang sudah dipanaskan, siap menuju perang baru. Kekalahan di tahun sebelumnya memang menyakitkan dan membuat luka yang pedih. Saatnya kembali menantang hidup ini, mengais kembali dengan tangan-tangan yang gempal, dan menapaki semak belukar yang entah apa dibaliknya. Tantang lagi hidupmu, dan terjang lagi dunia ini. Dunia belum berakhir dan takkan berakhir hingga nafas terakhir terhembuskan.

Tuesday, 4 November 2014

Kondisi Tenang Yang Membosankan

Rutinitas yang begitu-begitu saja, berulang-ulang dan kemudian kembali berulang. Gelap diujung, diantara dinding-dinding dingin yang tinggi menjulang. Menutup kilau yang memperjelas semuanya. Percaya pada sebuah titik terang yang entah dimana letaknya, kapan digapai, dan semua masih kabur. Membuka kelopak mata yang kian menghitam, menatap langit-langit yang sama. Hitam dan gelap nestapa. Jalan setapak beraspal mulus sudah tersiap dengan rapi hingga entah dimana aspal ini berujung.

Gerak yang terbatasi oleh sulur tipis bak benang namun kokoh layaknya baja murni. Badan mungkin bisa berkelana sesuka namun apa daya kemana pikiran yang terpatri. Terpatri oleh beberapa tanggung jawab yang sesungguhnya semua hanya fana. Buah fikir yang sesungguhnya tidak harus dipenuhi namun terasa wajib karena tiada hal lain. Mengeluh bukan jalannya, rongrongan siap menerkam jika mulut berbicara
Pada akhirnya hanya tersenyum kecut bahwa kondisi tenang berakhir yang membosankan.

Sunday, 12 October 2014

Mereka Pikir

Mereka pikir saya adalah orang yang tenggelam dalam hedonisme. Melaju dari sebuah keramaian anak muda masa kini menuju tempat yang serupa. Kepulan asap yang mengisi ruang-ruang dan cairan alkohol yang membahasi tenggorokan. Bergelimpangan wanita-wanita cantik pemancing birahi dalam dekapan tangan kiri dan kanan. Tenggelam dalam galak tawa dan hilangnya kesadaran sampai menjelang.

Mereka pikir saya adalah orang yang tahu akan segala hal. Menyanyai tentang apa-apa yang mereka ingin ketahui, entah baik ataupun buruk. Memuaskan rada keingintahuan mereka, menggaruk rasa penasaran mereka. Menjawab misteri yang menghantui mereka meski sesungguhnya mereka tidak perlu untuk mengetahuinya. Dahaga penasaran terbasahi tak kala semua terbuka dan lantas mereka hilang tak mengacuhkan.

Mereka pikir saya adalah orang yang tak peduli. Penuh dengan rasa sinis dan arogansi. Tenggang rasa hanya menjadi cerita di kelas sekolah dasar. Pribadi yang angkuh dan self-centris. Persetan dengan orang lain selama tidak menganggu. Tangan dingin yang tidak akan pernah menjabat erat mereka yang hadir dihadapannya. Apa urusan orang lain hingga mengulurkan tangan pun terasa berat. Jangankan uluran tangan, segaris senyum pun tak akan.

Mereka pikir saya adalah orang yang dapat memuaskan semua orang. Merealisasikan berbagai hal untuk keperluan pribadi. Membuat semua orang tertawa lega dan mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi. Memenuhi pundi-pundi mereka dengan emas yang kian tak terhitung jumlahnya. Engkau puas dan kemudian semua senang. Sikut kiri sikut kanan bagi mereka yang tidak sejalan ataupun saingan. Apapun terjadi selama puas.

Mereka pikir...

Friday, 10 October 2014

Selamat Tinggal Jenny, Selamat Datang FSTVLST



Terbilang sudah sekitar, kurang lebih, dua tahun semenjak Jenny berganti nama menjadi FSTVLST (re: Festivalist). Tingkah ugal-ugalan dan lantunan bait yang menohok langsung logika menjadi wangi yang sangat kuat bagi Jenny. Sepeninggalan Arjuna 'Mbah' Bangsawan dan Anis Setiaji, Farid dan Robby akhirnya memutuskan untuk menghiatuskan Jenny dan merubah ke menjadi FSTVLST. Banyak yang bertanya-tanya, untuk apa mengganti nama namun tetap memainkan lagu-lagu Jenny. Tidak bisa dipungkiri, banyak yang terperangkap dalam pusaran pemikiran seperti itu.


Jikalau dalam kurun waktu dua tahun, maka semenjak 2012 hingga awal tahun 2014, FSTVLST cukup menggeber dapur kreatif mereka. Bermodalkan tenaga yang baru, segar, dan energik semenjak ketambahan Danish Wisnu sebagai penjaga hentakan nada dan Humam Mufid sang pemegang kampak. Dalam dua tahun, ada beberapa materi mentah mereka dilempar di dunia maya dan mendapatkan tanggapan positif. Materi baru dengan kualitas rekaman sealakadarnya, cukup membuat penasaran banyak kalangan, tetapi tidak bagi mereka masih jatuh cinta dengan pesona Jenny. Jujur, saya termasuk kedalamnya. Dalam dua tahun lalu, Tidak mengikuti bagaimana sepak terjang FSTVLST membangun citra baru dan melepaskan pesona Jenny pada karakter mereka.

Pada akhirnya beberapa bulan silam, FSTVLST resmi merilis Hits Kitsch sebagai album penuh pertama mereka. Gong penanda era baru siap untuk dituliskan saat ini. Pemikiran awal sebelum membeli album ini adalah is like another Jenny or Jenny wanna be. Sebuah asumsi yang tanpa dasar dan hanya berdasarkan praduga mentah. 25 September 2014, akhirnya FSTVLST menabuhkan genderang perang mereka di Ecobar365. Awalnya menyaksikan FSTVLST untuk bernostalgia dengan Jenny dan menantikan "Mati Muda" (anthem bagi Club Mati Muda). Jelas saja FSTVLST pasti akan membawakan lagu-lagu di album Hits Kitsch sebagai bagian dari promo album terbaru mereka. Malam itu mereka membuka dengan "Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan". Mereka memaikan setlist dengan manis, menyelipkan "Monster Karaoke" pada lagu keempat dan benar-benar membakar Kemang. Tapi hati ini belum bergeming dari pesona Jenny. Lagu ketujuh, "Orang-Orang di Kerumunan" semacam memberikan pertanda dan menggelitik hati. Yah sebuah insting atau pun perasaan aneh yang bergejolak. Kelar FSTVLST memanaskan moshpit, kontan saja menuju meja penjaja Hits Kitsch dan memboyongnya pulang.

A**ING! terlintas saat memutarkan Hits Kitsch pertama kali. Ini jauh dari Jenny namun tetap dengan kesan ugal-ugalan musik Rock. Panas dan membabi buta. Secara keseluruhan, FSTVLST tetap nakal dengan liriknya yang menggoda, petikan gitarnya yang nakal, betotan bass yang ganas, dan semua dibungkus dengan rentetan drum yang rapi. Dari musikalitasnya pun, terasa FSTVLST lebih dewasa dan materinya di rekam dengan sangat baik. Menghentak namun tetap terasa dinamis dan nyaman untuk didengarkan. Keseluruhan materi FSTVLST, kemudian dibungkus dengan epik dengan artwork yang lengkap. Lengkap sentuhan visual disetiap lagu dan lirik materi Hits Kitsch, tersusun rapi dalam sebuah booklet yang manis. Berikut sebuah komentar personal atas materi-materi Hits Kitsch;

Orang-Orang di Kerumunan
Sebuah potret keadaan masa kini. Orang-orang yang berkerumun dan menjadi bersumbu pendek. Lekas Marah dan baku hantam adalah jalannya. Salah satu materi yang benar-benar menggelitik untuk didengarkan dan tepat diletakan sebagai pembuka Hits Kitsch. Ugal-ugalan, beringas, dan jahat!

Menantang Rasi Bintang
"Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah, segera mulailah syukurmu yang pasti indah..." Lirik yang indah dan menjadi lagu yang paling difavoritkan dari seluruh isi Hits Kitsch.

Hujan Mata Pisau
Lagu pertama yang, mungkin, dibuat setelah dirilisnya Manifesto. Sisa-sisa endapan dan gaya Jenny bercerita masih terasa kental pada lagu ini.

Akulah Ibumu
Ini adalah satu-satunya lagi yang masih belum dimengerti apa pesan dibaliknya. Tetapi sentuhan sinden diawal dan materinya yang terasa berat seperti mengisyaratkan untuk merenung tentang awal kehidupan dan sejenisnya. Mungkin akan ditanyakan langsung jikalau bertemu Farid.

Hal-Hal Ini Terjadi
Sebuah sentilan kondisi masyarakat saat ini. Tidak bisa di tolak bahwa kita kini hidup dalam lingkaran seperti yang dibaitkan.

Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan
Lagu Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan seperti sebuah counter dari lagu sebelumnya. Jikalau di lagu Hal-Hal ini Terjadi bercerita tentang busuknya kondisi saat ini, maka kali ini saatnya bangun dan kembali menyusun rumah yang kini kian rusak.

Bulan Setan atau Malaikat
Sebuah lingkaran abu-abu yang masih menanti jawabannya. Sudah jelas seperti judulnya, apakah kamu Setan atau Malaikat?

Satu Terbela Selalu
Disini adalah salah satu track favorite di Hits Kitsch. Jikalau kamu ingin mencoba mendengarkan dan menikmati Hits Kitsch, bisa dimulai dari lagu ini.

Hari Terakhir Peradaban
Jikalau tidak salah, Hari Terakhir Peradaban merupakan titik awal Jenny Menjadi FSTVLST. Masih terasa kental pula sentuhan Jenny di lagu ini.

Ayun Buai Zaman
"Sejauh pandang mata, hamparan kilau emasnya seperti puncak angan..." Cara yang tepat untuk menutup Hits Kitsch dan kembali mengulang ke track awal.

Dalam kurun 2014, bisa dibilang Hits Kitsch menjadi salah satu nominasi album terbaik tahun ini. Sebuah perkenalan ulang dari Farid, Robby, Mufid, dan Danish bahwasanya mereka adalah FSTVLST, bukan Jenny. Selamat tinggal Jenny, selamat datang FSTVLST!

Tulisan ini pun juga dimuat Dean Street Billy's

Thursday, 9 October 2014

Sajak Orang Yang Sedang Jatuh Cinta

Sudah tak terhingga berapa banyak tetesan air mata yang jatuh.
Gundukan amarah yang mengendap di relung hati.
Rasa benci yang mengendap di kerak-kerak kehidupan.
Serta tak pula sedikit kerikil-kerikil kesendirian mengitari.

Rasa rindu yang teramat dalam.
Peluk kasih yang didamba.
Cium hangat di kala dingin.
Selalu di nanti menyejukan hati.

Biarkan doa restu dari Sang Maha Pemilik Segalanya terjadi,
Alam yang mendukung pertemuan kita kelak,
dan kasih hangat mengantikan semua di pertemuan akhir.
Sebuah pertemuan dimana semua menjadi satu dalam ikatan janji yang menggetarkan langit.

Saturday, 27 September 2014

Pada Akhirnya Semua Kembali Pada Titik Nol

Beberapa kaos rangkap dan kemudian dibalut dengan sebuah jaket yang cukup tebal, menghalau terpaan angin malam. Sinar kota menerangi latar belakang pemandangan gedung-gedung yang tinggi menjulang, dan bunyi deru kendaraan sebagai lagu pengantar perjalanan malam hari. Menggilas aspal yang selalu panas dan polusi menemani sedari awal menjelang semua berakhir kelak. Kemang menjadi tujuan di malam hari (25/9), kawasan yang penuh dengan hingar bingar dan kesibukan dua puluh empat jam tiada henti.
Kondisi Thursday Noise Volume 5 Saat The Brandals memanaskan Ecobar (25/9)
Seharusnya tiada yang berbeda dan semua berjalan sama saja. Perasaan dan kesenangan yang sama berbanding beberapa tahun silam. Beberapa tahun silam ketika pertama kali menjadi fotografer musik di Jakarta. Bahkan seharusnya kali ini pun lebih lancar dan menyakinkan dengan pengalaman yang sudah jauh berkembang dan perlengkapan yang lebih memadai berbanding dahulu. Moment dan target objek yang akan dibidik pun bukan objek asing yang tidak terbayangkan. Semua sudah pernah dan kali ini hanya perulangan saja. Tiada yang berbeda dan semua pernah terjadi.

Cuma malam ini terasa sepi dan laju motor tidak berbanding dengan gerak pemandangan. Semua terasa lambat dan berharap tidak lekas menjejakan kaki di Ecobar. Semua terasa lain dan dingin, dingin yang menghembuskan relung hati dan meragukan keadaan nanti. Tiada sapa hangat dan sambutan kebahagiaan di acara kelak. Selimut ragu sempat menghampir, jadi atau tidak? Lanjutkan atau berbalik arah? Atau habiskan malam mencari kehangatan kuliner di kisaran Selatan Jakarta?

Acara berakhir dan sesungguhnya tidak senestapa yang dibayangkan. Gelak tawa bertemu tema-teman lama, merasakan euforia yang hilang sejak lama, serta kegilaan yang tak pernah diluapkan sebelumnya. Bahkan berkat malam ini juga, ini perama kali melakukan stage diving dengan spontan dan entah dari mana timbul keinginan tersebut. Semua liar namun kembali kepada fitrahnya untuk merasakan nikmatnya bersenandung dalam musik. Berteriak dan kita menjadi saudara semalam. Semua tersadar bahkan yang menjadi kerisauan selama ini adalah "Kowe wis ora ning Solo?".

Beberapa temen yang menyapa dan menanyakan kondisi terkini, membuat semua tersadar. Terbiasa di dalam lingkungan yang nyaman, posisi terbaik, penuh dikitari oleh teman-teman, dan menjadi yang berbeda sendiri hingga secara sadar terkontruksi sebagai Ekawan Raharja yang biasa memotret. Disini saatnya kembali dari nol. Mulai berjuang sendiri lagi, mencari dan berusaha mengumpulkan teman-teman yang hangat dan penuh dengan cengkrama, merasakan atmosfir yang liar dan penuh dengan kejutan, serta menjadi seragam dengan yang lainnya dan bersama hitam. Sebuah perbedaan yang mencolok dan gegar kondisi melanda yang harus segara diatasi. Lambat laun, semua ini akan datang sebagai pijakan berkembang dan berkembang. Hingga pada akhirnya semua kembali kepada titik nol.

Sunday, 17 August 2014

Kita Adalah Mahkluk Yang Lemah

Beberapa hari ini, seminggu lebih tepatnya, banyak hal-hal yang terjadi di sekitar. Hal baik dan buruk, cerita bahagia atau sedih, ataupun senyum dan tangis silih datang berganti. Semua datang dan kemudian kembali pergi. Semua sudah menjadi goresan takdir yang konon sudah terukir di saat kita masih di dalam rahim. Mau tidak mau kita hanya bisa menerima dan menerima. Sekeras apapun usaha dan rencana tapi semua sudah ada hasil yang ditentukan. Pasrah adalah menyerahkan sisanya kepada Sang Khalik setelah berusaha dengan segala keringat dan darah yang tersisa hingga mengering.

Akhir-akhir ini, diri ini terasa lemah dan tidak tahu hendak bagaimana. Lidah terlalu kelu untuk berujar, otakpun terasa tumpul untuk mulai berpikir, dan tenaga entah hilang kemana. Hanya bisa menyaksikan keadaan dan takdir yang bergerak mengatur segalanya. Hendak menolong apa daya, manusia biasa dan tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya doa, berdoa semoga Allah SWT. memberikan petunjuk dan jalannya. Jalan menuju apa yang terbaik dari yang terbaik. Membiarkan ruh dan jasad ini berjalan menuju takdir yang sudah ditetapkan.

Tak usah dipikir dengan akal sehat dan memperhatikan hati yang masih belum bisa menerima. Sudah kodrat manusia yang memiliki nafsu untuk selalu bergerak, berusaha, dan berencana akan tetapi jangan lupa bahwa kita bukanlah sesiapa. Bahkan sesungguhnya pun diri ini tidak berkuasa atas apa yang ada dan melekat. Biarkan hati ini mengikhlaskan dan logika menunduk rendah kepada kuasa Allah SWT yang Maha Perkasa. Sandarkan hati ini, dan berikan sujud tertinggi kepada Allah SWT sebagai bentuk syukur karena Allah SWT. masih menunjukan jalannya. Akhirnya ikhlaskan dan ingat bahwa kita bukanlah sesiapa, hanya mahkluk lemah yang butuh belas kasih dari Sang Pemilik Kehidupan.

Monday, 21 April 2014

Hati Kecil Yang Kembali Bergetar

Beberapa bulan ini, kerisauan dan kegelisahan kembali membayangi. Banyak hal dan kendala dalam hidup yang datang silih berganti memberikan warna. Namanya juga hidup, kalo tidak ada masalah dan kendala maka matilah dirinya. Salah satu kendala dan kerisauan yang terjadi adalah dengan segudang hal-hal absurd yang menggendap di kepala, membusuk dan kemudian hilang. Hanya menyisakan bau busuk dan debu-debu kotor yang membuat suasana semakin keruh dan gelap. Jiwa yang seharusnya terang benderang kini mulai meredup perlahan menuju kematian. Menyedihkan dan bersiap menjadi mahkluk hidup yang terombang-ambing dalam derasnya samudra kehidupan.

Miskinnya produktivitas jiwa dan rasa malas yang melanda membuat hasrat tinggallah hasrat. Sendiri yang tersisa, bagai lilin di tengah hujan badai di hutan tropis. Tidak seperti beberapa waktu silam, api yang ganas dan menjadi hutan api, menjilat kerasnya dunia dan meruntuhkan semuanya. Rasa kangen dengan keadaan yang dahulu menjadi cerita nostalgia beberapa saat. Hanya bisa membayangkan masa lalu dengan sepotong lilin di tangan. Kondisi nyaman dan sajungan puja puji membuat lupa dan terlena.

Hingga suatu ketika, kembali sebuah letupan kecil terjadi. Persis seperti dahulu dimana semua bermula. Gesekan-gesekan kecil yang menimbulkan percik api dimulai. Sebuah asa yang harus dimulai dan dimanfaatkan. Kondisi yang nyaman dan tenang kembali terusik, terasa panas di dalam hati. Resah menaungi relung-relung perasaan. Hati kecil yang tenang dan menjadi sumber kebijaksaan berkata, "Sudah saatnya aku kembali bergetar dan memenuhi jiwa yang sudah kian lama mengering."

Monday, 6 January 2014

Saatnya Kita Menendang Kembali Pantat Mereka!

Akhir pekan lalu, tepatnya 4 Januari 2014, adalah pertemuan kembali dengan Sore. Sebuah grup kontemporer yang sudah teruji klinis karya mereka. Terakhir menyaksikan sepak terjang unit berbahaya asal Jakarta ini sendiri pada tahun 2010 di Bandung. Sebuah rentan waktu yang cukup panjang dan mengurat dalam labirin kerinduan. Sayangnya tulisan kali ini bukanlah sebuah review atas penampilan mereka. Berbagai atraksi ataupun format termutakhir band ini tidak akan dibahas, melainkan sebuah perbincangan singkat dengan Ade Paloh (Vox & Guitar) menggelitik tajam di benak.
With Sore at The Parade 2014
Bermula dengan perbincangan hangat soal kaleidoskop musik 2013 perihal banjirnya konser musisi luar negeri yang melakukan lawatan tandang di bumi pertiwi. Kita, penikmat musik di Indonesia, selalu menyambut dengan gegap gempita dan bahkan tiket konser pun bisa ludes secepat kilat. Menghamba dan menyematkan tanda jasa kepada mereka sebagai idola. Hal ini tentu tidak salah karena kita dari awal lebih banyak dicekoki oleh musisi-musisi luar dan masih cukup melekat stigma "mendengarkan musik lokal tidak keren" terngiang-ngiang. Ade sendiri menyebut invasi musik dari luar ini sebagai bentuk kolonialisme musik. Kemudian hal yang selanjutnya dibahas adalah bagaimana dengan musik di Indonesia sendiri saat ini?

Meski beberapa tahun ini kurang mengikuti scene musik di Indonesia, karena berbagai urusan akademis dan hal teknis lainnya, namun musik Indonesia masih bisa dibilang mengalami progress meski cuma sejengkal. Musik di Indonesia bisa dibilang mengalami kemajuan, dilihat dari banyaknya band ataupun musisi-musisi baru yang cukup menjanjikan, pendokumentasian yang kian diperhatikan, banyaknya media independen yang bertebaran, rilisan album bagus di tahun ini, serta mulai bervariasinya bentuk dan pengemasan rilisan. Mulai dari pembuatan boxset, vinyl, hingga gimmick dan pemasaran rilisan kepada masyarakat. Akan tetapi scene musik di Indonesia juga menerima banyaknya tamparan hebat yang cukup membuat kita mengelus dada ataupun menitikan air mata. Masih kurangnya dukungan pemerintah, industri musik Indonesia yang kian berantakan, kemudian angka pembajakan yang masih tinggi dan berimbas kepada banyak tutupnya toko-toko musik di Indonesia seperti Aquarius Mahakam yang melegenda.

Bagai mengurai benang yang terbelit dan basah, dunia musik di Indonesia kian kompleks namun banyak musisi di Indonesia yang kemudian peduli setan dengan segala keadaanya dan terus berkarya dengan ikhlas yang diendapkan disetiap nada-nadanya. Hasilnya pun cukup memuaskan dan membuat mereka yang berhasil menepuk dada dengan bangga. From zero to hero, mereka mulai memiliki fans yang semakin besar dan militan. Bisa diambil contoh dengan fans dari THE S.I.G.I.T., Superman is Dead, Endank Soekamti, ataupun Seringai penuh sesak memenuhi disetiap sudut mosh-pit yang mereka gelar. Belum lagi beberapa penghargaan dan apresiasi dari luar negeri kepada insan musik Indonesia. Ini sebuah pertanda bahwa Indonesia memiliki musikalitas yang tidak kalah dengan musisi internasional.
Adhitia Sofyan at Rown Carnaval 2013
Menurut Ade, sudah bukan jamannya lagi kita mengidolakan musisi luar negeri tetapi orang luar negeri lah yang mengidolakan musisi Indonesia. Ade dan Echa (guitar & vox) bercerita bahwa Sore pernah manggung di luar negeri. Sebelum Sore on stage, ruang di depan panggung kosong tiada yang berdiri, namun takala lagu pertama dimainkan maka ruang kosong itu tidak ada seketika berganti lautan manusia yang penuh sesak. Selain itu Burgerkill dan THE S.I.G.I.T. pun menuai puja dan puji pula usai melaksanakan tour di Australia. Demikian adalah segelintir bukti bahwa musikalitas musisi Indonesia bukan cuma sekedar omong kosong.

Hanya saja perlu kerja keras dan kerja rodi untuk bisa membuat Neo Kolonialisme dimana musik Indonesia menjadi candu di mata dunia. Banyak hal yang perlu dibenahi dan diperhatikan. Semua stake holder scene musik Indonesia harus terlibat dan memberikan pembenahan yang menyeluruh. Bagaimana pun sebaik-baiknya emas apabila tidak di olah dan dipoles dengan baik, enggan orang membeli atau bahkan menyentuhnya. Akan tetapi, kita harus tetap berbangga hati dengan segala apa yang kita punya. Urusan musik, Indonesia harus berbangga hati karena memiliki ragam jenis musik dan musikalitasnya yang mumpuni. Sudah cukup kita mendatangkan para ekspatriat tersebut ke Indonesia, saatnya kita menjajah belahan dunia lain dengan musik-musik dari Indonesia. Sudah cukup kita menjadi kerbau yang dicucuk oleh kolonialisme, dan saatnya kita menendang pantat mereka!

Tuesday, 17 December 2013

Haruskah Kita Merasa Puas?

Teringat dengan perbincangan singkat dengan Yudita Trisnanda beberapa hari silam. Layaknya komentator, bahasan tentang gaya hidup mahasiswa masa kini yang beraneka ragam terlontar ekspresif. Mulai dari yang luar biasa mengagumkan hingga luar biasa mengundang helaan nafas. Meski singkat namun berjuta makna yang bisa diangkat untuk diambil hikmahnya. Salah satu hikmah yang bisa diambil adalah perihal kepuasan.
Salah satu hal yang bikin gw gak pernah puas sih yah koleksi apa yang gw pegang.
Kembali teringat dengan sebuah celetukan "Namanya juga manusia, gak pernah puas!" yang cukup akrab di telinga. Secara ilmiah hal tersebut ada benarnya. Terbukti Abraham Maslow membuat teori Hierarki Kebutuhan. Teori ini muncul karena Maslow sendiri memiliki latar belakang sebagai Psikolog Humanistik, dimana dia percaya bahwa manusia berusaha untuk mencapai kemampuan terbaiknya. Sehingga manusia akan terus dan terus menggali potensi dalam dirinya.

Tidak pernah merasa puas tentu menjadi sebuah sifat yang cukup baik. Sebuah bentuk kritis terhadap hal-hal yang ada disekitarnya. Tentu saja diperbolehkan untuk tidak merasa puas dan terus menerus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. Layaknya seorang karyawan yang tidak pernah merasa puas sebagai karyawan biasa, mahasiswa yang tidak pernah puas sebelum meraih nilai sempurna, ataupun seorang mahkluk hidup yang tidak pernah puas akan pahala yang didapatnya. Semua sah dan diharuskan tidak lekas berpuas diri.

Akan tetapi bagaimana posisinya bila ketidakpuasan tersebut melebihi ambang kemampuan dirinya? haruskah kita tetap harus tidak berpuas diri? Apakah kita harus terus mengejar rasa dahaga manusiawi? Banyak kasus belakangan ini, ketidakpuasan yang membabi buta dan gelap membuat semua salah langkah. Banyaknya teriakan ketidakpuasan membuat lupa untuk mempelajari syukur. Semua ada kesimbangannya, dan ketidakpuasan memiliki anti yakni syukur.

Jadi, sudahkah kalian bercermin dan menilik diri kalian sendiri hari ini? Sudahkah kalian melihat kondisi dan tertawa menertawakan diri sendiri? Semua sah, bebas berpendapat. Pada akhirnya semua pun akan kembali kepada jiwa masing-masing dalam menjalani cerita hidup sendiri.

Thursday, 12 December 2013

Resah

Selfie dengan muka suram bair agak kekinian
Entahlah bagaimana rasanya semacam pergi tanpa arah peraduan yang jelas. Di depan tampak hitam dan gelap. Ingin kaki melangkah jauh menuju titik terang, tanpa alas injak yang selama ini dikenakan. Ingin berjalan menerabas jalan dengan tangan yang kasar dan lemah ini. Ingin rasa bangkit dari kursi yang nyaman dan empuk. Sekali lagi, semua teramat sangat ingin dilakukan namun gelap dan membuat hati bergelimpangan gundah. Resah tampaknya membayangi rasa yang sudah lama nyaman pada peraduan yang semu.

Gelap harus dilawan dengan cahaya, menampik rasa sulit yang mulai memainkan bola es. Resah? Iya, menyelimuti bayang kedepan tanpa harus tahu kemana tujuan. Akankah saya menjadi makhluk yang tenggelam dalam keresahan? sama dengan jutaan makhluk yang tenggelam dalam keresahaan dan tidak pernah lagi tampak tempurung kepalanya? Semoga saja yang pemilik cahaya hendak bermurah hati membagi kepada makhluk yang lemah dan tidak memiliki daya.

Monday, 13 May 2013

I Use Nikon, and You?

Sentuhan DSLR di mulai dengan meminjam kamera Canon 1000D dan berkelana. Entah moment apa dan bagaimana perkanalan saya dengan Nikon selanjutnya, saya pun tidak ingat tetapi saya merasa jatuh cinta dengan Nikon. Kontrasnya yang mengagumkan dan kualitasnya yang menurut saya lebih baik menjadi sisi keindahaanya. 2010 akhirnya berjodoh hingga kini. Yap. I Use Nikon and how about you?

Tuesday, 7 May 2013

Adakah Yang Merindukan Mereka?

C'mon Lennon
Adakah yang merindukan mereka? Ya, saya merindukan mereka. Meski tak pernah menyaksikan mereka semua bersama dalam satu panggung, tetapi saya merindukannya. Saya merindukan karya-karya mereka. Sebuah ikatan terjalin tak kala kaset Ketika La La La digenggam dan didendangkan melalui perangkat pemutar kaset. Jikalau mereka reunian, maka tunailah kewajiban saya sebagai penggemar C'mon Lennon. Suatu saat nanti, cepat atau lambat, semua akan terbayar lunas!

Monday, 11 February 2013

Semua Berubah dan Waktu Menjawab

Apapun yang terjadi dan akan terlaksana tetap menjadi kehendak SANG MAHA MENGATUR. Kita, manusia, hanya bisa menerima dan berbahagia apapun yang terjadi bilang tergariskan sudah. Hari yang terjadi menjadi kejutan bagi insan yang kerap menggerutu dan membangkang ini, sedang besok adalah misteri bagi para penghamba yang masih mencari kehendak.
Ilustrasi
Tiada yang tahu akan terjadi apa besok atas diri mereka dan diri orang lain. Ramalan hanya terkaan semata asal tunjuk. Hari ini kita tertawa, tersenyum, sedih, ataupun menderita bersama. Hari ini kita menjadi kawanan mahkluk yang satu tujuan dan cerita yang sama. Hari ini berlari bersama menggapai layang-layang asa yang terbang di langit yang bebas.

Besok kita tertawa hanya seorang diri dengan perasaan senang diatas kesakitan orang lain, saling tikam menjadi satu-satunya jalan. Besok kita individu yang berbeda cerita dengan tujuan yang berbeda lupa. Berseberangan sudah biasa dan guratan garis atas takdir mereka masing-masing. Besok seseorang menggenggam erat layang-layang asa tersebut dan enggan berbagi dengan lainnya.

Tiada yang tahu akan terjadi apa besok. Akankah kita tetap bersama atau berpisah? Akankah kita tetap tertawa bersama menjadi teman pencerita? Akan besok kita akan bersama? Waktu Menjawab.

Friday, 28 December 2012

Angkringan: Pesona Solo di Malam Hari

Angkringan Kali Kecing - Gentan
Rintik hujan yang jatuh menghantam tanah dengan keras, deru angin semilir dingin menusuk tulang-berulang, serta kepulan asap rokok di dalam sebuah tenda kecil dan sempit. Selonjor berbagai jenis gorengan hingga bermacam sate siap hidang tampak pasrah untuk dijamah. Tiada yang terpisahkan, semua duduk dalam sebuah kerataan kasta bermejakan kayu coklat yang mulai menghitam. Semua terhubung dengan gelak tawa dan angkringan melakukan itu. Daya tarik Angkringan yang khas dan salah satu yang menjadi daya tarik Solo dan juga Yogyakarta. Meski kini mulai diapodsi di kota lain dengan suasana yang komersil terkadang, akan tetapi Angkringan melekat selalu dengan kesederhanan, gelak tawa, dan kebersamaan.

Jikalau mampir di Solo atau Yogyakarta, pastikan anda duduk dan menikmati cita rasa angkringan. Bukan masalah makanannya yang sederhana dan sekepal nasi kucing yang menggelitik perut akan tetapi sensasi yang takkan pernah terbeli. Luka sedih masyarakat yang dibalut perban gelak tawa dan tukar pikiran, kepulan asap panasnya air yang diseduh diatas bara api yang menggelora, serta teh pahit sebagai penyemangat jiwa-jiwa yang pahit sepi akan renungan. Camkan dan rasakan!

Monday, 26 November 2012

Fashion Show Dan Belajar

25 November 2012 adalah hari dimana ECLAIR, sebuah brand fashion dari Solo, mengadakan acara fashion show di Solo's Bistro. ECLAIR memamerkan koleksi terbaru untuk edisi musim gugur dan musim dingin. Jelas sekali akan banyak wanita-wanita menggemaskan hadir untuk menyaksikan acara ini dan ini menjadi salah satu alasan sip yes langsung berangkat liputan. Sesungguhnya pula ini menjadi liputan pertama selain acara musik. Selama ini yang dihadapi adalah kerumuman orang-orang banyak penyembah bebunyian dan atraksi panggung yang ekpresif dan eksplosif. Akan tetapi hari berbeda dan menjadikan sebuah pengalaman baru.
Canggung, kikuk, dan bingung itu adalah perasaan pertama yang muncul ketika awal liputan. Ini merupakan pertama kalinya liputan fashion show dan tidak ada bayangan bagaimana prosesinya kelak berlangsung dalam hitungan jam kedepan. Kemudian crowd yang dihadapi pun berbeda dan udara dingin menyeruak mulai menyelusuri ubun-ubun perasaan. Beruntung diselenggarakannya acara konfrensi pers, meskipun sepi dan jujur saya sedikit heran, dan banyak hal yang bisa ditangkap untuk dijadikan bahan liputan serta pembelajaran pribadi. 

Bertemu dengan Uci, desainer sekaligus pemilik brand ECLAIR, sungguh menyenangkan sekali. Bertemu dengan orang yang sangat kuat dengan keinginannya serta mengetahui apa dunianya membuat ia tampak mengesankan. Bagaimana dia bertutur dengan tegas dan fasih dibalik suaranya yang lembut, menceritakan visinya dengan jelas dan to the point, serta tatapannya yang tajam dibalik bingkai kacamatanya mengisyaratkan bahwa dia benar-benar memahami bagaimana dia memanjakan kepuasaan batinnya. Apa yang menjadi dunia benar-benar ditekuni dengan baik dan bisa dibilang kini menjadi sebuah kepuasaan yang tak terhingga. 

Dibalik itu semua, memberikan pelajaran yang benar-benar sangat penting dan menjadikan contoh yang baik. Bagaimana dia menekui apa yang dicintai dan mengarahkan passion yang dimiliki menuju titik terang yang benderang. Jelas hal ini perlu dicontoh dan menjadi inspirasi untuk kita semua. Tak hanya bermimpi dan hilang tertipu sapuan imajinasi, namun aksi dan reaksi harus segera dilakukan. Apapun passion-mu tekuni dan jalani dengan serius. 

Thursday, 8 November 2012

Suara Dari Surga Itu Terekam di Piringan Hitam

Suatu siang yang sepi dan panas. Tiada aktivitas yang berarti di Lokananta yang kusam dan tampak berjalan lambat disana. Hanya suara tembang-tembang lawas yang mengisi ruang disana. Sebuah lagu hasil rekaman Lokananta dan kemudian diperdengarkan melalui ruang mastering. Sebuah ruangan yang sebenarnya cukup besar namun sesak dengan tumpukan kardus-kardus dan bongkahan piringan hitam yang tersusun. Yah, di ruangan inilah lagu-lagu Lokananta berkumpul menjadi benda yang kasat mata.
Produksi Lokananta
Penuhnya jadwal kuliah dan tugas yang menjejali otak, tak mampu menyurutkan niat untuk bergerilia memutarkan piringan hitam di Lokananta. Sedari pagi kuliah dimulai sampai adzan Dzuhur berkumandang, sebuah piringan hitam yang terbungkus plastik putih tak bergeming sedikit pun. Duduk rapi disamping dan sesekali beberapa pasang mata menuju kepadanya. melirik jam tangan yang setia menemai beberapa tahun ini, pukul 12.00 WIB terpampang dilayarnya. Kuliah usai dengan menyisakan tugas yang bertumpuk dan emosi yang siap meledak.

Lokananta
Saatnya memacu kuda hitam menuju Lokananta, melawati dan melawan panasnya terik matahari yang membakar. Desingan kenalpot dan asap jahat kendaraan bermotor ditabrak dengan kecepatan penuh. Sulit menahan hasrat untuk bermain-main dengan vinyl yang sudah berumur dan sedikit kusam. Tiada kuasa jiwa ini berteriak agar semua terlewati sekejap dan seketika sampai di studio yang paling tua di Indonesia. Berjabat tangan dengan Mas Bemby, penguasa ruangan mastering, dan sedikit bercerita menjadi intro sebelum akhirnya hasrat ini tertuntaskan. Seketika diraihnya piringan hitam yang sejak tadi ingin sekali dijamah dan diperlakukan sebagai mana mestinya. Diletaklah Piringan hitam tersebut disebuah alat pemutar dan jarum pemutar pun diletakkan diatas permukaanya yang hitam, sedikit berdebu, dan kusam.

"Mari-Mari" membuka salam di lagu pertama dan sound khas ala piringan hitam pun diperdengarkan. Bergelinjang resah, gejolak jiwa, serta kerongkongan yang kering sudah di ujungnya. Lagu gubahan Titiek Puspa kali ini diporak-porandakan oleh unit Rock and Roll wanita asal Surabaya, Dara Puspita. Album pertama, Jang Pertama, setelah sekian tahun akhirnya kembali bergaung di seluruh gedung Lokananta. "Minggu Yang Lalu" melanjutkan sensasi yang terbangun sejak awal Dara Puspita bernyanyi. Andai saja itu bukan ruangan kerja, mungkin dansa barbar pun telah terjadi diruangan tersebut. Track demi track pun terlewat disenandungkan sembari sesekali bertukar cerita dengan Mas Bemby. Benar-bener perasaan yang luar biasa dan sensasi yang tak terkira. Eargasme melebihi konser Morrissey di Jakarta bulan Mai 2012 silam.

CD Dara Puspita "Jang Pertama" hasil digitalisasi Lokananta
Benar-benar sungguh nikmat dan terasa melayang dari raga yang membelenggu. Teringat seorang teman di Bandung berkata "Hanya orang-orang pesakitan saja yang bener-bener bisa larut dalam alunan piringan hitam. Siang panas dikala, Lokanantan, dan hati ini menjadi saksi. Sejenak semua beban terlupa dan peduli setan dengan segalanya. Rasukan notasi sederhana dan petikan gitar Fender Jaguar benar-bener serasa secuil surga terhampar. Sebenarnya puncak dari eargasme ini terletak pada sound Dara Puspita yang Lo-Fi. Tampaknya sound yang kotor akibat debu dan kerak kotor pada plat vinyl menjadikannya kasar dan gemerisik. Akan tetapi itulah daya pikatnya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk merekam album itu dalam bentuk digital untuk diperdengarkan dalam rumah. Sayang seribu sayang surga yang terletak pada piringan hitam tersebut tidak dapat direkam dan menang harus diperdengarkan langsung dari piringan hitam "Jang Pertama" Dara Puspita. One day, I'm gonna play it again.

Monday, 5 November 2012

Tidak Melulu "Cutting Edge" Garis Keras

Vinyl "Indonesia Raja" versi 3 Stanza produksi Lokananta
Beberapa tahun silam di kisaran celana gantung berwarna biru melekat hingga kisaran celana panjang skinny abu-abu, idealisme menjadi kunci gerak laju pengisi hari. Melawan norma, menentang dogma, meninju keras paradigma menjadi jalan hidup. Berkompromi dengan kenyataan dan berjabat tangan dengan keadaan menjadi ludah di atas makanan. Salah satunya adalah musik, tidak edggy tidak keren!

Sempat terbesit bahwa musik pop yang ada di televisi setiap paginya dan lagu kisaran cinta adalah sampah. Menyembah dan menuhankan cinta sebagai inspirasi haram hukumnya mengalun di telinga. Bahkan otak belagak naif menolak apa yang hati suka. Demi tuntutan eksistensialisme dan pengelihatan orang, mencoba menjadi jadi pribadi yang Cutting Edge. Akan tetapi cerita berkata lain dan pencarian jati diri.

Saat ini, memandang jauh kemasa remaja belasan tahun dan kemudian memakluminya. Sebuah pencarian jati diri demi pencitraan cemerlang di mata orang lain dengan berlaga memusuhi norma bersama. Asam garam belum memberikan rasa pada hidup yang masih panjang dan hambar. Bekerja dibeberapa media dan memandang realitas dengan logika memandang hidup memang terkadang perlu berkompromi. Tidak memulu musik "cutting edge" adalah yang terbaik. Terbaik untuk siapa? dirimu atau semesta?

Terkadang berkompromi dengan musik di pagi hari pun terasa sah dan termaklumi. Demi sepiring nasi yang bisa ditukarkan dengan mainstream atau idealisme dan semangat yang mati seketika tanpa cerita selanjutnya? Cutting Edge tidak hanya sekedar anti memainkan musik melankolis berdoakan cinta-cinta ataupun musik lambat yang mendayu-dayu.

Tampaknya ketidaktahuan dimasa lampau menjadikan diri ini buta dan berlagak. Saatnya membuka mata dan melihat realitas. Berkompromi bukan berarti menyerahkan segalanya dan melacurkan segalanya, akan tetapi lebih kepada mencari titik tengah kesepakatan. Berjalan selaras dengan realitas antara permintaan, ide, keyakinan, dan perasaan. Waktu dan pendewasaan membawa perubahan dan membelokan persepsi. Jikalau masih ingin menjadi aktivis "Cutting Edge" garis keras adalah mau anda maka silahkan dan jalani dengan sepenuh hati anda akan tetapi saya berbeda dan saya berjalan diantara idealisme dan realitas mulai saat ini.

Wednesday, 10 October 2012

Happy 2nd Anniversary Absurd and Abstrak

Selamat ulang tahun Absurd and Abstrak, tong sampah imajiner, untuk kedua kalinya. Bermulai dengan sebuah sampah dan kemudian didaur ulang untuk digubahkan kepada banyak orang. Penuh dengan lika-liku non-sence dan omong kosong diruntukan dalam sebuah tatanan tulisan. Siapa orang akan berminat dengan sampah dan omong kosong? Mungkin bagi sebuah pihak itu adalah sampah namun pihak lain akan berbeda dan mengkilap bagai intan permata.
Muhammad Wira Jaya - Sosok yang meracuni saya dengan musik. Long life Brithpop!
Siapa sangka banyak hal yang telah diberikan oleh Absurd and Abstrak telah mengubah dan membuka sebuah gerbang yang sangat teramat menggoda untuk dilewati. Sebuah gerbang menuju antara kesenangan, hobi, dan menghasilkan uang. Mungkin ini terawal dari langkah memasuki namun perlahan atau pasti akan tetap menuju material duniawi.

Well, Happy 2nd Anniversary Absurd and Abstrak, my mind, my rubbin, and my jerk!

Monday, 10 September 2012

Renungan dan Pembelajaran

Sebuah DM di saat Idul Fitri
Teknologi komunikasi kian canggih menembuh imajinasi beberapa belas tahun silam. Tiada pernah berpikir bahwa pesan bisa berpindah dalam hentakan jari semata dan cara menyebarkannya pun tergolong mudah. Skip itu hanyalah sebuah prolog semata yang tiada berhubungan ataupun sedang tak ada ide dalam menghubungkannya. Akan tetapi serbuan broadcast message dan tweet masal saat lebaran membanjiri kanal-kanal informasi secara masal dan massive. Akan tetapi terdapat sebuah private massage atau biasa disebut direct message (Twitter) berisikan sebuah ucapan ucapan selamat berlebaran dan permohonan maaf dari Mbak Tyas Permana. Berpikir sejenak, kenapa ini terasa intim dan sangat terasa sakral. Beberapa saat kemudian Mbak Tyas memberikan jawabnnya "ehehe karena minta maaf adalah hal yang sangat personal, ka :)." Seketika terdiam dan berpikir keras, berpikir keras bagaimana untuk membalas pesan ini dan akhirnya menyerah takkan pernah bisa membalas pesan tersebut.

2 hal yang membayangi dan akhirnya mengisi relung pikiran untuk beberapa saat. Pertama, dikala mayoritas mengandalkan kecepatan dan daya jangkau dalam meminta maaf, kualitas terasa kosong terabaikan. Ucapan maaf yang terasa sakral menyentuh hati ke hati kehilangan sentuhannya. Tentu maksud baik agar semua terucap dan tak terlewat namun barang produksi masal tentu tidak akan sebanding dengan barang handmade yang ekslusif nilainya. Ucapan maaf tak kini tak lebih dari sekedar formalitas semata. Kedua, kenapa bukan saya yang pertama kali mengucapkan maaf? kenapa harus orang lain dulu yang mengucapkan? kenapa hanya sekedar untuk meminta maaf terasa berat dan pelu lidah untuk bersilat? Sebegitu angkuh dan berlagaknyakah diriku? Well, akan ada selalu teguran dari Allah Swt. kepada hambanya melalui berbagai cara, serta terima kasih Mbak Tyas untuk renungan dan pembelajarannya. semoga esok bisa nge-gigs bersama kembali :)

*Yaa ampun tampaknya agak sedikit nyinyir pula kali ini