Showing posts with label Dean Street Billy's. Show all posts
Showing posts with label Dean Street Billy's. Show all posts

Friday, 10 October 2014

Selamat Tinggal Jenny, Selamat Datang FSTVLST



Terbilang sudah sekitar, kurang lebih, dua tahun semenjak Jenny berganti nama menjadi FSTVLST (re: Festivalist). Tingkah ugal-ugalan dan lantunan bait yang menohok langsung logika menjadi wangi yang sangat kuat bagi Jenny. Sepeninggalan Arjuna 'Mbah' Bangsawan dan Anis Setiaji, Farid dan Robby akhirnya memutuskan untuk menghiatuskan Jenny dan merubah ke menjadi FSTVLST. Banyak yang bertanya-tanya, untuk apa mengganti nama namun tetap memainkan lagu-lagu Jenny. Tidak bisa dipungkiri, banyak yang terperangkap dalam pusaran pemikiran seperti itu.


Jikalau dalam kurun waktu dua tahun, maka semenjak 2012 hingga awal tahun 2014, FSTVLST cukup menggeber dapur kreatif mereka. Bermodalkan tenaga yang baru, segar, dan energik semenjak ketambahan Danish Wisnu sebagai penjaga hentakan nada dan Humam Mufid sang pemegang kampak. Dalam dua tahun, ada beberapa materi mentah mereka dilempar di dunia maya dan mendapatkan tanggapan positif. Materi baru dengan kualitas rekaman sealakadarnya, cukup membuat penasaran banyak kalangan, tetapi tidak bagi mereka masih jatuh cinta dengan pesona Jenny. Jujur, saya termasuk kedalamnya. Dalam dua tahun lalu, Tidak mengikuti bagaimana sepak terjang FSTVLST membangun citra baru dan melepaskan pesona Jenny pada karakter mereka.

Pada akhirnya beberapa bulan silam, FSTVLST resmi merilis Hits Kitsch sebagai album penuh pertama mereka. Gong penanda era baru siap untuk dituliskan saat ini. Pemikiran awal sebelum membeli album ini adalah is like another Jenny or Jenny wanna be. Sebuah asumsi yang tanpa dasar dan hanya berdasarkan praduga mentah. 25 September 2014, akhirnya FSTVLST menabuhkan genderang perang mereka di Ecobar365. Awalnya menyaksikan FSTVLST untuk bernostalgia dengan Jenny dan menantikan "Mati Muda" (anthem bagi Club Mati Muda). Jelas saja FSTVLST pasti akan membawakan lagu-lagu di album Hits Kitsch sebagai bagian dari promo album terbaru mereka. Malam itu mereka membuka dengan "Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan". Mereka memaikan setlist dengan manis, menyelipkan "Monster Karaoke" pada lagu keempat dan benar-benar membakar Kemang. Tapi hati ini belum bergeming dari pesona Jenny. Lagu ketujuh, "Orang-Orang di Kerumunan" semacam memberikan pertanda dan menggelitik hati. Yah sebuah insting atau pun perasaan aneh yang bergejolak. Kelar FSTVLST memanaskan moshpit, kontan saja menuju meja penjaja Hits Kitsch dan memboyongnya pulang.

A**ING! terlintas saat memutarkan Hits Kitsch pertama kali. Ini jauh dari Jenny namun tetap dengan kesan ugal-ugalan musik Rock. Panas dan membabi buta. Secara keseluruhan, FSTVLST tetap nakal dengan liriknya yang menggoda, petikan gitarnya yang nakal, betotan bass yang ganas, dan semua dibungkus dengan rentetan drum yang rapi. Dari musikalitasnya pun, terasa FSTVLST lebih dewasa dan materinya di rekam dengan sangat baik. Menghentak namun tetap terasa dinamis dan nyaman untuk didengarkan. Keseluruhan materi FSTVLST, kemudian dibungkus dengan epik dengan artwork yang lengkap. Lengkap sentuhan visual disetiap lagu dan lirik materi Hits Kitsch, tersusun rapi dalam sebuah booklet yang manis. Berikut sebuah komentar personal atas materi-materi Hits Kitsch;

Orang-Orang di Kerumunan
Sebuah potret keadaan masa kini. Orang-orang yang berkerumun dan menjadi bersumbu pendek. Lekas Marah dan baku hantam adalah jalannya. Salah satu materi yang benar-benar menggelitik untuk didengarkan dan tepat diletakan sebagai pembuka Hits Kitsch. Ugal-ugalan, beringas, dan jahat!

Menantang Rasi Bintang
"Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah, segera mulailah syukurmu yang pasti indah..." Lirik yang indah dan menjadi lagu yang paling difavoritkan dari seluruh isi Hits Kitsch.

Hujan Mata Pisau
Lagu pertama yang, mungkin, dibuat setelah dirilisnya Manifesto. Sisa-sisa endapan dan gaya Jenny bercerita masih terasa kental pada lagu ini.

Akulah Ibumu
Ini adalah satu-satunya lagi yang masih belum dimengerti apa pesan dibaliknya. Tetapi sentuhan sinden diawal dan materinya yang terasa berat seperti mengisyaratkan untuk merenung tentang awal kehidupan dan sejenisnya. Mungkin akan ditanyakan langsung jikalau bertemu Farid.

Hal-Hal Ini Terjadi
Sebuah sentilan kondisi masyarakat saat ini. Tidak bisa di tolak bahwa kita kini hidup dalam lingkaran seperti yang dibaitkan.

Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan
Lagu Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan seperti sebuah counter dari lagu sebelumnya. Jikalau di lagu Hal-Hal ini Terjadi bercerita tentang busuknya kondisi saat ini, maka kali ini saatnya bangun dan kembali menyusun rumah yang kini kian rusak.

Bulan Setan atau Malaikat
Sebuah lingkaran abu-abu yang masih menanti jawabannya. Sudah jelas seperti judulnya, apakah kamu Setan atau Malaikat?

Satu Terbela Selalu
Disini adalah salah satu track favorite di Hits Kitsch. Jikalau kamu ingin mencoba mendengarkan dan menikmati Hits Kitsch, bisa dimulai dari lagu ini.

Hari Terakhir Peradaban
Jikalau tidak salah, Hari Terakhir Peradaban merupakan titik awal Jenny Menjadi FSTVLST. Masih terasa kental pula sentuhan Jenny di lagu ini.

Ayun Buai Zaman
"Sejauh pandang mata, hamparan kilau emasnya seperti puncak angan..." Cara yang tepat untuk menutup Hits Kitsch dan kembali mengulang ke track awal.

Dalam kurun 2014, bisa dibilang Hits Kitsch menjadi salah satu nominasi album terbaik tahun ini. Sebuah perkenalan ulang dari Farid, Robby, Mufid, dan Danish bahwasanya mereka adalah FSTVLST, bukan Jenny. Selamat tinggal Jenny, selamat datang FSTVLST!

Tulisan ini pun juga dimuat Dean Street Billy's

Saturday, 28 June 2014

Photoset Pelican Agenda 4

Jungkat Jungkit live at Pelican Agenda 4, Arje's Kitchen - Solo.
Jungkat Jungkit live at Pelican Agenda 4, Arje's Kitchen - Solo.
Merah Bercerita live at Pelican Agenda 4, Arje's Kitchen - Solo.
Merah Bercerita live at Pelican Agenda 4, Arje's Kitchen - Solo.
Merah Bercerita live at Pelican Agenda 4, Arje's Kitchen - Solo.
Merah Bercerita live at Pelican Agenda 4, Arje's Kitchen - Solo.
Merah Bercerita live at Pelican Agenda 4, Arje's Kitchen - Solo.
Merah Bercerita live at Pelican Agenda 4, Arje's Kitchen - Solo.
For further photo, please kindly to check iRockumentary and the review can read at Dean Street Billy

Saturday, 21 June 2014

Diorama Senja: Hujan Penghantar Kegembiraan



Selepas adzan Magrib berkumandang, rintik demi rintik air mulai membasahi Solo dan sekitar. Hari yang mulai menggelap serta cuaca yang secara mendadak menjadi dingin. Beberapa pengendara kendaraan bermotor roda dua mulai mengeluarkan jas hujannya dan sebagian memilih untuk berteduh. Terpaan angin yang kencang serta derasnya hujan yang kian mencekam membuat beberapa ruas jalan utama di Solo menjadi sepi. Akan tetapi, badai yang menerpa dan dinginnya udara malam ini (18/6) tidak menghalangi beberapa anak muda untuk berkumpul di GOR Manahan.

Diorama Senja membuat malam yang dingin menjadi hangat cenderung panas di dalam GOR UNS. Kurang lebih sekitar 3.500 orang berkumpul untuk menyaksikan Payung Teduh melantunkan bait demi bait pengusik hati, mesti ada pula barisan kaum hawa yang tidak sabar menyaksikan guratan rupawan Comi Aziz Kariko. Berterimakasihlah kepada sebuah produsen rokok yang akhir-akhir ini sedang aktif sekali mengkampanyekan komunitas lokal dan Retroactive sebagai event organizer Diorama Senja.

Sebelum Payung Teduh mulai mendendangkan lagunya, acara Diorama Senja dibuka oleh penampilan beberapa band lokal. Sebagai dukungan terhadap komunitas lokal, beberapa unit lokal dimainkan sembari menunggu para penonton yang sedang antri masuk ke dalam venue. Man Indonesia dan Insomnia bermain dahulu dan saat mengintip ke dalam panggung, para penonton sudah ramai memenuhi tribun dan mosh pit. Tidak begitu jelas bagaimana kondisi awal namun Insomnia mendapatkan sambutan yang cukup panas. Sorak gembira membuat kondisi kian panas dan penuh dengan energi positif.

Adis "Jungkat-Jungkit"
 Berlanjut dengan jungkat-jungkit. Duo blues asal Solo ini mulai melekukan nada-nada blues memanaskan malam. Said dan Adis yang bermain sampai harus bermandikan peluh membahasi sekujur badannya. Denting demi denting dawai gitar dibunyikan berbalut sound blues serta suara serak seksi menjadi pemanja indera telinga disaat itu. Semua terasa sempurna tak kala beberapa alat tiup diperdengarkan dan pukulan drum yang tidak berlebih menjaga ritme disetiap lagu mereka. Bait demi bait diperdengarkan, kucuran keringat tidak dihiraukan oleh Jungkat Jungkit. Semua terasa lunas dan tidak terasa tak kala tepukan riuh penonton memuja mereka memenuhi GOR Manahan disetiap lagi-lagu yang mereka bawakan.

Fisip Meraung
Tak cukup lama usai Jungkat Jungkit, kini giliran Fisip Meraung menunjukan musik rock humor yang mereka usung. Agak sulit juga mendeskripsikan musik mereka, karena rata-rata materi mereka dibawah satu menit berbalut gestur penarik gelak tawa. Di luar dugaan, tampaknya mereka benar-benar membuat pecah GOR Manahan. Humor-humor khas anak muda yang bermaterikan kisah cinta, kondisi sehari-hari, serta dibawakan dengan bahasa sehari-hari anak muda di Solo benar-benar mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Amek, Topik, dan Athir berhak berbangga serta menepuk dada mereka atas apresiasi yang luar biasa. Benar-bener pecah dan lupakanlah suara yang yang indah serta sound yang bagus saat mereka bermain.

Meltic
Kini giliran Meltic bermain dengan nada-nada pop yang mereka usung. Dibuka dengan permainan efek noise oleh gitaris adisional, Bayu, dan saut menyaut antara jimbe serta drum menandai Meltic siap menguncang GOR Manahan. Kondisi venue yang penuh sesak serta udara yang panas pengap berbanding terbalik dengan kondisi diluar yang sangat dingin dan sepi. Duo Aziz dan Fajri sudah tidak diragukan lagi bagaimana mereka menghinotis penonton di Diorama Senja. Bermain dengan rapi serta prima membuat banyak para penonton gigit jari jikalau pergi menonton sendirian tanpa pasangan kekasih. Malam itu, Meltic menghadirkan sesi full band, lengkap dengan tambahan perkusi. Beberapa kali penonton melakukan koor masal menembangkan lagu-lagu mereka dan venue kembali makin panas. Diakhir penampilan, Meltic membawakan materi baru dan mengajak Adis Jungkat-Jungkit untuk berkolaborasi. Penoton puas dan siap untuk kembali dipecahkan malam ini.

 
Payung Teduh
Payung teduh yang dinanti akhirnya tampil tepat dipukul 22.30 WIB, jauh mundur dari waktu yang ditentukan rundown. Mohammad Istiqamah Djamad, Comi Aziz Kariko, Ivan Penwyn, dan Alejandro Saksakame membuka penampilan dengan "Kita adalah Sisa Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan". Koor langsung terjadi dan GOR Manahan menjadi riuh, mengalahkan hujan yang kian mereda. Tidak begitu banyak atraksi yang banyak dilakukan Is malam itu, hanya sesekali bercerita dan mengajak penonton berkolaborasi dibeberapa materi Payung Teduh. Kucari Kamu, Menju Senja, Berdua saja, dan Angin Pujaan Hujan digeber habis diiringi dengan koor penonton yang kian berisik. Satu Jam Payung Teduh menemani Solo dan akhirnya "Untuk Perempuan Yang Sedang di Pelukan" menyelesaikan malam dengan epik dan hujan di luar pun sudah enggan untuk membasi Solo.

Malam yang panas dan berkesan bagi mereka yang hadir menyaksikan Diorama Senja. Hingga beberapa hari kemudian pun, masih banyak para penonton yang belum bisa move on dari event tersebut. Setiap orang punya kesan masing-masing dan cerita yang berbeda, tapi raut bahagia puas menjadi pembalut kesemuanya. Beberapa penonton yang menerobos badai malam itu tidak akan pernah kecewa karena sesungguhnya hujan malam itu adalah hujan penghantar kegembiraan.

*Tulisan ini dimuat pula Dean Street Billy's dan foto selengkapnya di IRockumentary

Tuesday, 23 April 2013

Meltic: Duo Minimalis Masa Kini Rasa Pop 90’ Akhir

 Tidak banyak musisi pop di Kota Solo yang benar-benar tampak dan eksis. Mungkin itu adalah prakata yang cukup tepat untuk menggambarkan scene musik pop di Kota Bengawan. Solo termasyur karena scene metal yang sudah tidak usah diragukan lagi gaungnya. Jikalau ada musisi pop yang hadir, biasanya hanya selintas dan keberadaanya bak oase di padang yang tandus. Maka bisa dibilang Meltic adalah salah satu oase tersebut dan kini cukup ramai diperbincangkan di kalangan hipster Kota Solo.

Band yang terbentuk beberapa tahun silam ini beranggotakan 2 pria yang tampaknya terjebak dalam kisah cinta long distance relationship (LDR) yakni Azis Indro dan Fajri Nossa. Bagi penikmat dan pengamat scene indie di Solo, kedua jejaka tampan ini sudahlah tidak asing. Azis adalah personil unit bengal asli Solo “Sweet Killer” dan Fajri salah satu pentolan dari “PopRadio” yang juga tak akan lama lagi merilis album. Meltic yang mengklaim diri mereka mengusung jazz/accoustic pada awal tahun 2013 ini merilis debut album mereka “Tujuh Belas”.
Album "Tujuh Belas" Meltic
Album perdana mereka ini dimulai dengan 6 lagu plus 1 lagu remix cukup segar untuk didengarkan. Kembali pada format akustik, 6 materi Meltic cukup menyenangkan untuk didengarkan dikala apapun. Easy listening, kalem, dan rapi terdengar ditelinga membuat album “Tujuh Belas” cukup menyenangkan untuk didengarkan dikala santai ataupun menjelang istirahat. Untuk departemen lirik pun, masih bertemakan cinta dan lirik yang disajikan cukup lugas tanpa banyak mengeluarkan kata demi kata maut penebar cinta. Album “Tujuh Belas” ini terasa seperti sebuah cerita yang ingin Aziz dan Fajri ini bagikan kepada yang mendengarkan.

Dilagu pertama yakni “Jauh”, sebuah tembang yang berceritakan soal LDR. Perasaan khawatir perasaan yang kandas dilibas oleh jarak antar dua insan yang bercinta. Takala mendengarkan lagu ini pertama kali cukup kaget karena materi ini direkam dengan full set instrumen band. Di luar prediksi tapi menjadi lagu yang menyenangkan untuk membuka cerita “Tujuh Belas”.

“Rindu” menjadi penghias lagu selanjutnya. Tampaknya disini menjadi sebuah kegoyahan perasaan takala mulai ditinggal. Mungkin itu adalah rasa un-move on feeling. Akan tetapi disini disajikan apa yang menjadi ekspektasi diawal. Petikan senar yang santai dan kalem, tampaknya lagu ini harus dihindari ketika rindu melanda perasaan.

Masih berkutat dengan gejolak rindu dihati, “Hujan” masih melanjutkan perasaan sebelumnya. Hanya saja kali ini lebih dibawakan sedikit lebih cheerful dan sudah mulai terbiasa dengan perasaan rindu ini. “Biar-biarlah hujan membawa seribu kenangan indah antara kita berdua.”

Pemberi harapan palsu (PHP) menjadi tema yang dijadikan di lagu ini. Apakah jarak dan mulainya mengilang perlahan menjadi signal PHP? Mulailah sadar dan mulai mencari kepastian. Full set band menjadi pengiring materi “Apa Benar Cinta” dan menyenangkan untuk didengarkan ditengah-tengah list lagu. Terasa tidak membosankan dan monton. Penempatan yang tepat di tengah.

Pada lagu akhirnya jelas sekali bagaimana posisi hubungan kedunya. It’s like friendzone dan cinta bertepuk sebelah tangan karena baginya “Wanita Terindah”. Saatnya kembali menuju musik melankolis dan ekspetasi duo akustik. Sangat menyegarkan dan menyenangkan untuk didengarkan.

Track ke-6 adalah lagu penutup ”Biarlah” dan disini adalah titik move on di “Tujuh Belas”. Suasana yang lagu yang ceria dan liriknya disini terasa nyata. Liriknya pun tidak terlalu lacur untuk didengarkan namun tidak terlalu puitis. “Selama aku masih bisa menikmati mentari pagi ini yang setia menemani hingga akhir waktu…”

Secara keseluruhan, sound dan lirik yang digubah oleh band yang memiliki akun twitter @melticIndonesia ini melempar saya ke era 90-an akhir. Sekilas mendengarkan album perdana Meltic ini mengingatkan pada band semacam Caffein, Tic Band, Ada Band di era awal, serta sejenisnya. Liriknya tidak terlalu puitis namun tidak juga terlalu merakyat untuk istilah dan diksi yang digunakan. Membeli album Meltic “Tujuh Belas” tidak memberikan penyesalan. Memberikan warna tersendiri di scene musik kota yang berslogan Spirit of Java. Semoga akan ada album selanjutnya.

*Tulisan ini juga dimuat Dean Street Billy's

Saturday, 25 February 2012

God Save The Pop #6: Jalan Darat Tour 2012 (Solo)

Sebuah tour swadana dengan jadwal padat dan rombongan yang militan tampaknya berhasil mengguncang Solo. Digagas oleh tiga band yang sedang panas diperbincangkan di tahun 2011, yakni Morfem, The Experience Brothers, dan Jude lantas di kemas oleh East Conspiracy sebagai EO dari Jalan Darat Tour 2012. Sesuai dengan namanya Jalan Darat Tour 2012, ketiga band militan ini menggunakan bus untuk menyambangi Kota Solo, Semarang, Malang, dan melangkah ke Bali sebagai tujuan akhir dari tour konspirasi mereka. Hari ini, 24 Februari 2012, Solo menjadi tujuan pertama yang disinggahi.
The Think Organizer didaulat oleh East Conspiracy sebagai penyelenggara di Kota Bengawan ini. Bagi The Think sendiri, masalah pengadaan konser atau pun gigs sudah menjadi santapan sehari-hari dan mereka tampaknya paham betul bagaimana cara untuk hura-hura. Menyambut Jalan Darat Tour 2012, The Think mempersiapkan sebuah acara yang sudah sangat familiar ditelinga anak indies Solo "God Save The Pop". Saat ini God Save The Pop sudah mencapai acara yang ke-6 dan tampaknya akan menyusul untuk seri selanjutnya. Kalo biasanya God Save The Pop bertempat di Taman Budaya Suarakarta, untuk kali ini mengambil venue di Cafe Bola Beteng. Ada kelebihan dan kekurangan dari venue yang kali ini. Kelebihannya adalah tempatnya nyaman dan tak jauh dari pusat kota, namun sisi lainnya adalah tempat yang full AC dengan para pengunjung berkepulan asap nikotin bukanlah kombinasi yang pas di udara, lantas posisi panggung yang sedikit aneh membuat pemain drum tak tampak terhalang oleh TV super besar. Sangat disayangkan tak mendapatkan pemadangan secara menyeluruh namun sudahlah Jalan Darat Tour yang dilabel God Save The Pop adalah acara untuk bersenang-senang, dan terima kasih The Think yang sudah menyelenggarakan acara kali ini.

Untuk membuka senang-senang kali ini, sebuah band asal Kota Yogyakarta, Modern Age, siap untuk dimainkan. Sebuah band Garage Rock yang digawangi oleh Arie (Vocal), Raka (Guitar), Rizky (Bass), dan Henrie (Drum) mulai meraung pada pukul 19.30 WIB. Saya tidak tahu bagaimana persisnya band ini namun dari luar terdengar mereka sempat mengcover The Strokes di awal penampilan mereka. Kurang Lebih Modern Age menyelamatkan musik pop selama 15 menit.

Usai Modern Age, parade band asal Yogyakarta lainnya belum usai. Kini Giliran Suddenly Sunday yang menyelamatkan musik pop. Mungkin bisa dibilang Suddenly Sunday adalah grup super woman karena terdiri atas 3 orang wanita super dan 2 orang lelaki, yakni Dini Yunitasari ( Voc), Adi Wijaya (Guitar), Helmy Febrian (Guitar), Woro Agustin (Bass), Dewi Sarmudyahsari (Drum). Sempat terceletuk oleh Aji, MC God Save The Pop, bahwa Suddenly Sunday adalah Yeah Yeah Yeahs dari kota gudek. Seketika tensi semangat saya meningkat mendengar kata Yeah Yeah Yeahs dan biduan dari Suddenly Sunday sangat aduhai. Saatnya Suddenly Sunday bersenandung dan mendapatkan respon yang cukup apik dari para pengunjung malam ini. Hanya saja ekspresi saya yang terlalu tinggi dimana mereka akan mengcover lagu Yeah Yeah Yeahs tak terlaksana pada malam ini. Akan tetapi overall band ini telah menyelamatkan musik pop sekali lagi.

Usai Yogyakarta yang sukses memberikan kontribusinya kepada musik, kini giliran band asal Salatiga, The Budjang, yang mengambil alih kendali panggung. Sepintas melihat The Budjang, saya teringat dengan band rock and roll asal Solo, Sweet Killer, dalam keadaan beberapa tahun silam. Seterlintas dibenak bahwa panggung akan meraung dan penuh dengan energi yang besar melihat dandanan mereka. Akan tetapi semua musnah dan hilang ketika The Budjang beraksi. Permainan yang tak padu, suara vokal yang lemas, sound yang berantakan, serta stage act di atas panggung yang sangat menyedihkan. Tampaknya para Budjangan ini harus kembali lagi masuk kedalam studio untuk kembali berlatih. Sangat menyayangkan ketika didaulat untuk menunjukan bagaimana scene bermusik dari Salatiga namun yang dipersembahkan tak seperti yang harapkan.

Kini saatnya tuan rumah mengambil alih acara yang diwakili oleh The Leon's Labyrinth. Tak perlu banyak kata untuk memperkenalkan The Leon's Labyrinth yang notabennya kini kian rajin menjamah panggung-panggung di Kota Solo. Seperti biasa dengan tenang namun pasti, The Leon's Labyrinth kembali menyihir God Save The Pop dengan pesonanya. Mungkin dari 4 band pembuka God Save The Pop kali ini, The Leon's Labyrinth merupakan penampilan yang terbaik. Baik secara sound, stage act, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan penonton. Bagi yang belum paham siapakah The Leon's Labyrinth, mereka adalah sindikat jahat Pop/Rock asal Solo yang bermuatan Yanu N Wibisono (Vocal), Mega Rio Pandu (Drums), Sifak Ulkarim (Bass), dan Arya P Sularto (Guitar). Influence dari The Leon's Labyrinth berasal dari Snow Patrol, U2, The Police, Sting, Queen, Cold War Kids, Kasabian, Goo Goo Dolls sehingga akan akan tahu betapa jahatnya musik mereka di telinga.
Jude
Ramah tamah para band pembuka kini telah usai dan saatnya untuk menuju pada prosesi sakral dari acara God Save The Pop yakni Jalan Darat Tour 2012. Prosesi kali ini dimulai dengan menghadirkan Jude untuk membuka Jalan Darat Tour 2012. Jude adalah line up Jalan Darat Tour yang bernuansa paling Vintage dengan bernuansa Pop/Rock ala 60′s dan 70′s. Jude beranggotakan Lukman SW (Drums), Yehezkiel Tambun (Vokal, Gitar), Kaneko Pardede (Keyboards, Vokal), dan Johannes Hutagaol (Bass, Backing Vokal). Mereka telah merilis album perdana pada tanggal 11 Januari 2011 berjudul "Apapun Itu EP" dan  SOLD OUT. Berdandan dengan ala 60's-70's dan tampaknya mereka sangat terasuki dengan sound-sound khas pada masa itu. Jude menggeber panggung sekitar pukul 9 malam dan langsung memainkan 2 lagu yang mereka medley. Hampir semua lagu di Apapun Itu EP mereka bawakan dan riuh tepuk tangan mengiringi Jude selama pertunjukan mereka. Saat ini Semua Sama menjadi lagu penutup Jude malam itu yang merupakan lagu yang hanya ada di album Apapun Itu EP (repacked) yang dicetak khusus untuk Jalan Darat Tour 2012. Secara overall penampilan Jude sangat menyenangkan namun entah kenapa ending pada lagu terakhir terasa gantung dan anti klimaks.
The Experience Brothers
Jalan Darat Tour masih berlangsung dan saatnya The Experience Brothers menunjukan tajinya sebagai duo Modern Psychedelic Rock Blues yang paling berbahaya dari Timur Jakarta. Meski hanya beranggotakan dua orang kakak beradik Bram Saladdin dan Daud Sarassin, bukan menjadi penghalang bagi The Experience Brothers untuk memborbadir God Save The Pop malam itu dengan rentetan drum dari Daud, dan slide-slide gitar Bram. Terbukti dengan deru musik Psychedelic Blues yang mereka sembahkan, para penonton yang sedari anteng di belakang perlahan mulai maju kedepan dan bernyanyi bersama. Gimmick yang cukup ekspresif serta celotehan Bram tampaknya cukup membakar gairah pengunjung. Beberapa lagu The Experience Brothers semacam Stompbox, She’s alright, Young men, Kiss My Ass, dan Killer Eye Contact disapu habis oleh para penonton untuk dinyanyikan bersama. Mengesankan sekaligus Bringas menjadi komentar terhadap kakak beradik The Experience Brothers.
Morfem
Morfem
Morfem
Jam di tangan sudah menujukan pukul 23.00 WIB dan ini adalah saatnya Jalan Darat Tour 2012 mencapai titik puncak acara. Morfem tak butuh waktu lama dan perbincangan basa-basi untuk memulai tugas mereka. Pandu (gitar), Bram (bass), dan Freddie (drum) langsung menghajar crowd malam itu secara membabi buta dengan kecepatan tinggi. Suara desingan gitar Pandu yang khas tampaknya semacam menjadi tanda sirene bagi penonton untuk maju merapat menyentuh panggung. Sudah rapat dan kepulan asap kian pekik, saatnya Jimi (vox) masuk sebagai orang yang paling ditunggu. Langsung malam itu digeber dengan Who Stole My Bike dan Death Kitchen sebagai salam pembuka malam itu. Seperti biasa ceracau dari Jimi yang spontan dan bertata cukup apik sedikit menghadirkan gelak tawa disela-selalu lagunya. Akan tetapi gelak tawanya tersebut cukup terhapus ketika Morfem secara ajaib membawakan Paranoid dari Black Sabbath dan disambung oleh koor dari barisan belakang yang tak lain dan bukan merupakan barisan para metalhead di Kota Solo. Hampir semua lagu dari Morfem di libas habis untuk dijadikan koor masal dan puncaknya adalah Gadis Suku Pedalaman. Eargasme adalah komentar untuk penampilan band liar dari Jakarta.

Sebagai salam penutup untuk Jalan Darat Tour 2012 Kota Solo, seluruh pengisi acara God Save The Pop naik keatas panggung untuk menyanyikan sebuah lagu lawas dari band Rock and Roll kenamaan asal Surabaya, Dara Puspita. Semua pecah dan semua menyaksikan betapa ramainya panggung di akhir acara, bahkan saya sempat bersama Aji Down For Life menyanyikan A Go Go dari bawah panggung.

Puas dan penuh dengan kesenangan. Seperti biasa The Think selalu tahu bagaimana caranya untuk bersenang-senang. Line up yang mumpuni serta lagu-lagu yang liar sekali lagi berhasil menyelamatkan musik pop di Kota Solo. Meskipun terdapat sedikit kekurangan namun sekali lagi tak ada acara yang sempurna. Namun ada sebuah kekecawaan yang sedikit tertinggal disana, dimanakah para penonton God Save The Pop yang biasanya selalu berjubel dan ramai sesak? Apakah para penonton ini kini pindah ke dunia maya dan puas dengan #Nowplaying? Semoga di acara selanjutnya akan kembali ramai dan lebih chaos.
With Jude
Morfem on my Hall of Fame
Some Merchendise
With Morfem
 Tulisan ini juga dimuat oleh Maximosh & Dean Street Billy's

Monday, 23 January 2012

Interconnection 2: Tour Antar Kota Yang Hangat

Sebuah gigs kecil yang penuh dengan suka cita telah tergelar di Gedung Kesenian Solo (GKS) pada Minggu, 22 Januari 2012. Sebuah acara pembuka di awal tahun yang sangat menyenangkan ketika SRM berkolaborasi dengan Dean Street Billy’s. Awal tahun 2012 ini mungkin sebagai pertanda juga bahwa Solo kian mulai diminati para musisi Indonesia sebagai tujuan pangung bermusik mereka. Interconnection 2 merupakan sebuah tour yang di gagas oleh SRM Management yang bertujuan untuk menyambung silahturahmi bermusik antar Jakarta dengan Solo. Dari Jakarta diwakili oleh Dried Cassava, L’alphalpha, serta Leonardo Ringo. Sedangkan Solo diwakili oleh Sua dan The Leon’s Labyrinth. Ketika menilik line-up yang akan meramaikan acara silahturami ini, maka sudah terbayang betapa luar biasanya acara kali ini.
Poster Interconnection 2
Acara yang semestinya dimulai pukul 14.30 ini mendadak molor untuk waktu yang cukup lama. Listrik yang padam menjadi kendala utama ketika semua band akan melakukan sound check. Tak lama kemudian, hujan lebat mengguyur Solo namun crowd di Solo tidaklah takut dengan hujan, banyak yang berdatangan menuju GKS ketika hujan mengguyur. Tak lebih dari sekitar 70 orang memadati GKS yang merupakan sebuah studio film jaman dulu. Pukul 17.00 sound check usai dan saatnya Interconnection 2 dimulai.
merchandise
Sua menjadi band pertama yang membuka Interconnection 2 pada sore kali itu. Sua merupakan band pop yang lain dari pada lainnya. Ketika band pop pada umunya berbicara tentang cinta, kasih sayang, dan kegalauan risalah hati dengan lirik yang renyah, maka Sua menggebrak paradigma musik pop tersebut. Sua dengan musiknya berbicara tentang alam, kondisi sosial masyarakat kita, serta keluh kesah masyarakat pada umumnya dengan lirik yang penuh dengan tendensi pesan yang berbobot. Lirik-lirik yang mereka gunakan pun cukup berbeda dengan lirik musik pop pada umumnya. Sekilas mendengarkan Sua seperti mendengarkan Iwan Fals dikala muda. 3 Lagu Sua bawakan dan tentu saja ini mendapatkan respon yang cukup luar biasa dari para penonton Interconnection 2. Bahkan di belakang panggung sendiri, beberapa orang dari Jakarta terkesima dan kagum dengan musik Sua.
SUA
SUA
Usai Sua membuka Interconnection 2, kini giliran The Leon’s Labyrinth yang memanaskan tensi penonton. Band pop rock asal Solo yang beranggotakan Yanu N Wibisono (Vocal), Mega Rio Pandu (Drums),  Sifak Ulkarim (Bass), dan Arya P Sularto (Guitar) berhasil menghentak penonton Interconnection 2 dengan musik yang mereka bawakan. Ketika dulu saya pernah menulis The Leon’s Labyrinth merupakan band yang biasa aja, tampaknya mereka malam ini membuktikan bahwa mereka bukan band yang biasa-biasa saja. Penampilan The Leon’s Labyrinth kali ini lebih perkasa baik secara musikalitas dan penampilan mereka. Pada Interconnection 2 kali ini, The Leon’s Labyrinth lebih bersemangat dan sound yang dihasilkan jauh lebih bertenaga. Kemudian distorsi yang mereka hadirkan lebih bersih dan sangat enak di telinga. Sang vokalis The Leon’s Labyrinth, Yanu N. Wibisono, tampak lebih bergairah malam ini. Dengan kacamata gelap yang dikenakan, Yanu tampak selayaknya Jon Bon Jovi sebagai vokalis The Leon’s Labyrinth.
The Leon’s Labyrinth
The Leon’s Labyrinth
Usai sudah 2 local heroes asal Solo memanaskan acara silahturahmi kali ini, saatnya rombongan dari Jakarta yang mengambil alih panggung. Dried Cassava didaulat menjadi pembuka pertama. Band ini berpersonilkan Baskoro Adhijuwono (Vocalist), Nandie Daniel (Guitarist), Bana Drestanta (Bassist) dan Kago Mahardono (Drumer). Dried Cassava merupakan Band alternative Funk Rock yang dijamah oleh Blues, cukup liar dan penuh dengan noise. Tak banyak yang dapat saya ceritakan untuk band ini karena saat band ini bermain saya sedang keluar untuk melaksanakan ibadah Magrib. Tapi berdasarkan pengelihatan saya saat Dried Cassava sedang sound check, band ini akan penuh dengan kejutan sound-sound yang mereka buat berbalut dengan skill yang sangat mumpuni. Dan tampaknya tebakan saya tak salah ketika saya kembali kedalam venue, tampak wajah penonton tampak puas menyaksikan Dried Cassava.
Dried Cassava
Dried Cassava
Dried Cassava
Kini Saatnya L’alphalpha yang saatnya unjuk gigi. L’alphalpha merupakan band yang paling di tunggu oleh crowd Interconnection 2. Mengusung Post Rock yang disentuh dengan shoe gaze membuat band ini sangat patut untuk di simak. Untuk kualitas bagaimana musikalitas mereka, tak perlulah meragukan mereka. Berbagai apresiasi sudah mereka dapatkan, bahkan Singapura pun sudah mereka sambaing. L’alphalpha beranggotakan Herald Reynaldo, Yudishtira Mahendra, Tercitra Winitya, Ildo Reynardian, Byatriasa Ega, dan Purusha Irma. Di Interconnection 2 ini, L’alphalpha membuka show dengan lagu Peace, Completeness, and welfare (Silent). Lagu pertama sukses membuat penonton sing along bersama tanpa menunggu komando. Penampilan L’alphalpha selama Interconnection 2 terbilang cukup baik dengan gimmick Herald dan suara merdu Yayas cukup memukau penonton. Bahkan pada Interconnection 2 ini, L’alphalpha menyanyikan lagu mereka yang sebelumnya tidak dibawakan di Interconnection 1. Sebagai penutup, The Day When Everything Around Us Fall Asleep and We don't Remember How to Awake dibawakan dan gemuruh tepuk tangan membahana di GKS.
L’alphalpha
L’alphalpha
L’alphalpha
L’alphalpha
L’alphalpha
L’alphalpha
Sudah pukul 19.30 dan GKS kian memanas namun geliat penonton tidaklah kurang. Terakhir sebagai penutup pesta malam ini, para penonton yang sedari tadi terduduk kini mereka bangkit untuk menyambut Leonardo. Tak perlu waktu cukup lama untuk set alat, satu persatu anggota band yang dibawa Leonardo mulai mengisi pos-pos mereka. Swing ‘n Jingle menjadi lagu pembuka aksi Leonardo. Sentuhan vokal berat dan beat-beat rock and roll ala Leonardo membuat penonton mulai menggerakan badannya mengikuti lagu. Dan ketika Blatant dimainkan, Leonardo memanggil seorang bintang tamu yang menjadi backing vokalnya, yakni Mian Meuthia. Blatant berhasil membuat penonton bernyanyi dan berteriak dengan lantang. Sepanjang penampilannya, Leonardo tampak tak pernah kehabisan energi untuk terus bergerak, meloncat, dan berdansa dengan Gretsch G5120 kesayangannya. Bahkan ketika penampilannya kian memanas, Leonardo masih suka berceloteh dengan jokes yang membuat perut penonton kian keram. Tak dapat disangkal bahwa Leonardo merupakan salah satu penyanyi di Indonesia dengan Showmanship terbaik. Sebagai penutup acara, Leonardo membawakan Midnight Hooray dan sukses mengajak penonton untuk bernyanyi bersama.
Leonardo Ringo and Band
Leonardo Ringo and Band
Leonardo Ringo and Band
Leonardo Ringo and Friends
Leonardo Ringo and Band
Mian Meuthia
Leonardo Ringo and band
Setlist Leonardo Ringo
Leonardo Ringo and Band
Mian Meuthia
Jam sudah menunjukan pukul 21.00 kurang sedikit dan Interconnection 2 telah usai. Sebuah gigs kecil di Kota Budaya Solo yang sangat intim dan hangat. Sound yang pas-pasan, tanpa berikade, dan semua bisa bernyanyi berbaur bersama tanpa melihat status sosial setiap individu yang hadir disana. Kekurangan tentu saja ada namun semua kekurangan itu tertutup dengan acara yang benar-benar tahu bagaimana cara untuk bersenang-senang. Mungkin di Solo tidaklah banyak acara yang benar-bener penuh dengan tensi kesenang namun Dean Street Billy’s dengan keterbatasannya berusaha menciptakan itu semua. Dengan membuat Interconnection 2, diharapkan Dean Street Billy’s kian berkembang dan membuat scene pop di Solo kian ramai.
W/ L'Alphalpha
CD Leonardo Ringo + Setlist
W/ Leonardo Ringo
CD L'alphalpha + Setlist
 *tulisan ini juga di muat oleh Gigsplay.com