Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Friday, 10 October 2014

Selamat Tinggal Jenny, Selamat Datang FSTVLST



Terbilang sudah sekitar, kurang lebih, dua tahun semenjak Jenny berganti nama menjadi FSTVLST (re: Festivalist). Tingkah ugal-ugalan dan lantunan bait yang menohok langsung logika menjadi wangi yang sangat kuat bagi Jenny. Sepeninggalan Arjuna 'Mbah' Bangsawan dan Anis Setiaji, Farid dan Robby akhirnya memutuskan untuk menghiatuskan Jenny dan merubah ke menjadi FSTVLST. Banyak yang bertanya-tanya, untuk apa mengganti nama namun tetap memainkan lagu-lagu Jenny. Tidak bisa dipungkiri, banyak yang terperangkap dalam pusaran pemikiran seperti itu.


Jikalau dalam kurun waktu dua tahun, maka semenjak 2012 hingga awal tahun 2014, FSTVLST cukup menggeber dapur kreatif mereka. Bermodalkan tenaga yang baru, segar, dan energik semenjak ketambahan Danish Wisnu sebagai penjaga hentakan nada dan Humam Mufid sang pemegang kampak. Dalam dua tahun, ada beberapa materi mentah mereka dilempar di dunia maya dan mendapatkan tanggapan positif. Materi baru dengan kualitas rekaman sealakadarnya, cukup membuat penasaran banyak kalangan, tetapi tidak bagi mereka masih jatuh cinta dengan pesona Jenny. Jujur, saya termasuk kedalamnya. Dalam dua tahun lalu, Tidak mengikuti bagaimana sepak terjang FSTVLST membangun citra baru dan melepaskan pesona Jenny pada karakter mereka.

Pada akhirnya beberapa bulan silam, FSTVLST resmi merilis Hits Kitsch sebagai album penuh pertama mereka. Gong penanda era baru siap untuk dituliskan saat ini. Pemikiran awal sebelum membeli album ini adalah is like another Jenny or Jenny wanna be. Sebuah asumsi yang tanpa dasar dan hanya berdasarkan praduga mentah. 25 September 2014, akhirnya FSTVLST menabuhkan genderang perang mereka di Ecobar365. Awalnya menyaksikan FSTVLST untuk bernostalgia dengan Jenny dan menantikan "Mati Muda" (anthem bagi Club Mati Muda). Jelas saja FSTVLST pasti akan membawakan lagu-lagu di album Hits Kitsch sebagai bagian dari promo album terbaru mereka. Malam itu mereka membuka dengan "Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan". Mereka memaikan setlist dengan manis, menyelipkan "Monster Karaoke" pada lagu keempat dan benar-benar membakar Kemang. Tapi hati ini belum bergeming dari pesona Jenny. Lagu ketujuh, "Orang-Orang di Kerumunan" semacam memberikan pertanda dan menggelitik hati. Yah sebuah insting atau pun perasaan aneh yang bergejolak. Kelar FSTVLST memanaskan moshpit, kontan saja menuju meja penjaja Hits Kitsch dan memboyongnya pulang.

A**ING! terlintas saat memutarkan Hits Kitsch pertama kali. Ini jauh dari Jenny namun tetap dengan kesan ugal-ugalan musik Rock. Panas dan membabi buta. Secara keseluruhan, FSTVLST tetap nakal dengan liriknya yang menggoda, petikan gitarnya yang nakal, betotan bass yang ganas, dan semua dibungkus dengan rentetan drum yang rapi. Dari musikalitasnya pun, terasa FSTVLST lebih dewasa dan materinya di rekam dengan sangat baik. Menghentak namun tetap terasa dinamis dan nyaman untuk didengarkan. Keseluruhan materi FSTVLST, kemudian dibungkus dengan epik dengan artwork yang lengkap. Lengkap sentuhan visual disetiap lagu dan lirik materi Hits Kitsch, tersusun rapi dalam sebuah booklet yang manis. Berikut sebuah komentar personal atas materi-materi Hits Kitsch;

Orang-Orang di Kerumunan
Sebuah potret keadaan masa kini. Orang-orang yang berkerumun dan menjadi bersumbu pendek. Lekas Marah dan baku hantam adalah jalannya. Salah satu materi yang benar-benar menggelitik untuk didengarkan dan tepat diletakan sebagai pembuka Hits Kitsch. Ugal-ugalan, beringas, dan jahat!

Menantang Rasi Bintang
"Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah, segera mulailah syukurmu yang pasti indah..." Lirik yang indah dan menjadi lagu yang paling difavoritkan dari seluruh isi Hits Kitsch.

Hujan Mata Pisau
Lagu pertama yang, mungkin, dibuat setelah dirilisnya Manifesto. Sisa-sisa endapan dan gaya Jenny bercerita masih terasa kental pada lagu ini.

Akulah Ibumu
Ini adalah satu-satunya lagi yang masih belum dimengerti apa pesan dibaliknya. Tetapi sentuhan sinden diawal dan materinya yang terasa berat seperti mengisyaratkan untuk merenung tentang awal kehidupan dan sejenisnya. Mungkin akan ditanyakan langsung jikalau bertemu Farid.

Hal-Hal Ini Terjadi
Sebuah sentilan kondisi masyarakat saat ini. Tidak bisa di tolak bahwa kita kini hidup dalam lingkaran seperti yang dibaitkan.

Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan
Lagu Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan seperti sebuah counter dari lagu sebelumnya. Jikalau di lagu Hal-Hal ini Terjadi bercerita tentang busuknya kondisi saat ini, maka kali ini saatnya bangun dan kembali menyusun rumah yang kini kian rusak.

Bulan Setan atau Malaikat
Sebuah lingkaran abu-abu yang masih menanti jawabannya. Sudah jelas seperti judulnya, apakah kamu Setan atau Malaikat?

Satu Terbela Selalu
Disini adalah salah satu track favorite di Hits Kitsch. Jikalau kamu ingin mencoba mendengarkan dan menikmati Hits Kitsch, bisa dimulai dari lagu ini.

Hari Terakhir Peradaban
Jikalau tidak salah, Hari Terakhir Peradaban merupakan titik awal Jenny Menjadi FSTVLST. Masih terasa kental pula sentuhan Jenny di lagu ini.

Ayun Buai Zaman
"Sejauh pandang mata, hamparan kilau emasnya seperti puncak angan..." Cara yang tepat untuk menutup Hits Kitsch dan kembali mengulang ke track awal.

Dalam kurun 2014, bisa dibilang Hits Kitsch menjadi salah satu nominasi album terbaik tahun ini. Sebuah perkenalan ulang dari Farid, Robby, Mufid, dan Danish bahwasanya mereka adalah FSTVLST, bukan Jenny. Selamat tinggal Jenny, selamat datang FSTVLST!

Tulisan ini pun juga dimuat Dean Street Billy's

Sunday, 20 July 2014

Wind from The Foreign Land: Eksistensi Nyata Celtic Punk Indonesia

CD Wind from The Foreign Land
Bertepatan menjelang bulan puasa, skena musik Celtic Punk/ Irish Folk Punk dari seluruh Indonesia merilis sebuah album kompilasi “Wind from The Foreign Land” yang direkam WLRV Recs dan dibantu Spade Kustom dalam penggandaanya. Album kompilasi ini adalah yang pertama di skena Celtic Punk dan melibatkan 14 band dari 7 kota di Indonesia. Awalnya album ini berasal dari sebuah obrolan ringan beberapa personil Dirty Glass dan The Cloves and The Tobacco untuk mempererat skena Celtic Punk di seluruh Indonesia, hingga akhirnya semua dilakukan dan menghasilkan Wind from The Foreign Land. 

Keren adalah kata yang akan disematkan kepada album kompilasi ini. Banyak hal yang membuat album ini menjadi keren dan layak untuk dikoleksi. Menilik dari artwork cover Wind from The Foreign Land, terpampang peta Indonesia dengan warna hijau sebagai dominan warna cover. Jikalau dilihat sekilas, desain yang simple nan cukup mencuri perhatian ini dapat menjelaskan identitas isi dari album Wind from The Foreign Land. Berlanjut dibagian dalam terdapat slave sheet berisikan data-data band yang bergabung di kompilasi Wind from The Foreign Land, lengkap dengan lirik-lirik disetiap lagu mereka. Bagian lyric sheet ini jelas sangat membantu bagi mereka yang ini bersenandung di dalam kondisi apapun. Melengkapi artwork dan isi Wind from The Foreign Land, VWLV Records membungkus album ini dengan jewel box sehingga lebih kokoh dan tahan lama untuk dikoleksi. 

Jikalau membeli sebuah rilisan musik, mayoritas yang dicari adalah materi  di yang terkandung dalam rilisan tsb. Seluruh materi di album kompilasi Wind from The Foreign Land merupakan materi baru yang benar-benar disiapkan oleh setiap band. Jangka waktu enam bulan dalam persiapan album ini tampaknya dimanfaatkan oleh setiap unit Celtic Punk dengan baik dalam penggarapan album ini. Hasilnya bisa dilihat dengan materi yang mereka hasilkan memiliki warna masing-masing meski mereka dibawah atap Celtic Punk. Materi yang baik tentu tidak akan lengkap tanpa recording yang baik pula, dan ini diperhatikan betul dengan baik dalam membungkus materi yang akan disuguhkan. Tema yang terangkum dalam kompilasi ini pun beranekaragam, jika ditarik benang merah maka yang terasa adalah kondisi sosial masyarakat disekitar kita seperti; Penghianatan, kebanggaan, kebersamaan, ataupun cita-cita. Semua diungkapkan dengan lugas layaknya musik punk yang sederhana.­­ 

Pada akhirnya, album kompilasi Wind from The Foreign Land menjadi sebuah rilisan yang lebih dari sekedar alat pemersatu. Wind from The Foreign Land menjadi semacam perkenalan dan pembuktian eksistensi skena Celtic Punk/Irish Folk Punk di Indonesia. Wind from The Foreign Land didistribusikan secara DIY oleh para band yang berpartisipasi dan mendapat sambutan hangat oleh masyarakat. Album ini menjadi fundamental dan mungkin kelak akan menjadi sejarah penting di skena Celtic Punk di Indonesia.
*Artikel ini dimuat pula oleh Deathrockstar 

Saturday, 21 June 2014

Diorama Senja: Hujan Penghantar Kegembiraan



Selepas adzan Magrib berkumandang, rintik demi rintik air mulai membasahi Solo dan sekitar. Hari yang mulai menggelap serta cuaca yang secara mendadak menjadi dingin. Beberapa pengendara kendaraan bermotor roda dua mulai mengeluarkan jas hujannya dan sebagian memilih untuk berteduh. Terpaan angin yang kencang serta derasnya hujan yang kian mencekam membuat beberapa ruas jalan utama di Solo menjadi sepi. Akan tetapi, badai yang menerpa dan dinginnya udara malam ini (18/6) tidak menghalangi beberapa anak muda untuk berkumpul di GOR Manahan.

Diorama Senja membuat malam yang dingin menjadi hangat cenderung panas di dalam GOR UNS. Kurang lebih sekitar 3.500 orang berkumpul untuk menyaksikan Payung Teduh melantunkan bait demi bait pengusik hati, mesti ada pula barisan kaum hawa yang tidak sabar menyaksikan guratan rupawan Comi Aziz Kariko. Berterimakasihlah kepada sebuah produsen rokok yang akhir-akhir ini sedang aktif sekali mengkampanyekan komunitas lokal dan Retroactive sebagai event organizer Diorama Senja.

Sebelum Payung Teduh mulai mendendangkan lagunya, acara Diorama Senja dibuka oleh penampilan beberapa band lokal. Sebagai dukungan terhadap komunitas lokal, beberapa unit lokal dimainkan sembari menunggu para penonton yang sedang antri masuk ke dalam venue. Man Indonesia dan Insomnia bermain dahulu dan saat mengintip ke dalam panggung, para penonton sudah ramai memenuhi tribun dan mosh pit. Tidak begitu jelas bagaimana kondisi awal namun Insomnia mendapatkan sambutan yang cukup panas. Sorak gembira membuat kondisi kian panas dan penuh dengan energi positif.

Adis "Jungkat-Jungkit"
 Berlanjut dengan jungkat-jungkit. Duo blues asal Solo ini mulai melekukan nada-nada blues memanaskan malam. Said dan Adis yang bermain sampai harus bermandikan peluh membahasi sekujur badannya. Denting demi denting dawai gitar dibunyikan berbalut sound blues serta suara serak seksi menjadi pemanja indera telinga disaat itu. Semua terasa sempurna tak kala beberapa alat tiup diperdengarkan dan pukulan drum yang tidak berlebih menjaga ritme disetiap lagu mereka. Bait demi bait diperdengarkan, kucuran keringat tidak dihiraukan oleh Jungkat Jungkit. Semua terasa lunas dan tidak terasa tak kala tepukan riuh penonton memuja mereka memenuhi GOR Manahan disetiap lagi-lagu yang mereka bawakan.

Fisip Meraung
Tak cukup lama usai Jungkat Jungkit, kini giliran Fisip Meraung menunjukan musik rock humor yang mereka usung. Agak sulit juga mendeskripsikan musik mereka, karena rata-rata materi mereka dibawah satu menit berbalut gestur penarik gelak tawa. Di luar dugaan, tampaknya mereka benar-benar membuat pecah GOR Manahan. Humor-humor khas anak muda yang bermaterikan kisah cinta, kondisi sehari-hari, serta dibawakan dengan bahasa sehari-hari anak muda di Solo benar-benar mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Amek, Topik, dan Athir berhak berbangga serta menepuk dada mereka atas apresiasi yang luar biasa. Benar-bener pecah dan lupakanlah suara yang yang indah serta sound yang bagus saat mereka bermain.

Meltic
Kini giliran Meltic bermain dengan nada-nada pop yang mereka usung. Dibuka dengan permainan efek noise oleh gitaris adisional, Bayu, dan saut menyaut antara jimbe serta drum menandai Meltic siap menguncang GOR Manahan. Kondisi venue yang penuh sesak serta udara yang panas pengap berbanding terbalik dengan kondisi diluar yang sangat dingin dan sepi. Duo Aziz dan Fajri sudah tidak diragukan lagi bagaimana mereka menghinotis penonton di Diorama Senja. Bermain dengan rapi serta prima membuat banyak para penonton gigit jari jikalau pergi menonton sendirian tanpa pasangan kekasih. Malam itu, Meltic menghadirkan sesi full band, lengkap dengan tambahan perkusi. Beberapa kali penonton melakukan koor masal menembangkan lagu-lagu mereka dan venue kembali makin panas. Diakhir penampilan, Meltic membawakan materi baru dan mengajak Adis Jungkat-Jungkit untuk berkolaborasi. Penoton puas dan siap untuk kembali dipecahkan malam ini.

 
Payung Teduh
Payung teduh yang dinanti akhirnya tampil tepat dipukul 22.30 WIB, jauh mundur dari waktu yang ditentukan rundown. Mohammad Istiqamah Djamad, Comi Aziz Kariko, Ivan Penwyn, dan Alejandro Saksakame membuka penampilan dengan "Kita adalah Sisa Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan". Koor langsung terjadi dan GOR Manahan menjadi riuh, mengalahkan hujan yang kian mereda. Tidak begitu banyak atraksi yang banyak dilakukan Is malam itu, hanya sesekali bercerita dan mengajak penonton berkolaborasi dibeberapa materi Payung Teduh. Kucari Kamu, Menju Senja, Berdua saja, dan Angin Pujaan Hujan digeber habis diiringi dengan koor penonton yang kian berisik. Satu Jam Payung Teduh menemani Solo dan akhirnya "Untuk Perempuan Yang Sedang di Pelukan" menyelesaikan malam dengan epik dan hujan di luar pun sudah enggan untuk membasi Solo.

Malam yang panas dan berkesan bagi mereka yang hadir menyaksikan Diorama Senja. Hingga beberapa hari kemudian pun, masih banyak para penonton yang belum bisa move on dari event tersebut. Setiap orang punya kesan masing-masing dan cerita yang berbeda, tapi raut bahagia puas menjadi pembalut kesemuanya. Beberapa penonton yang menerobos badai malam itu tidak akan pernah kecewa karena sesungguhnya hujan malam itu adalah hujan penghantar kegembiraan.

*Tulisan ini dimuat pula Dean Street Billy's dan foto selengkapnya di IRockumentary

Tuesday, 23 April 2013

Meltic: Duo Minimalis Masa Kini Rasa Pop 90’ Akhir

 Tidak banyak musisi pop di Kota Solo yang benar-benar tampak dan eksis. Mungkin itu adalah prakata yang cukup tepat untuk menggambarkan scene musik pop di Kota Bengawan. Solo termasyur karena scene metal yang sudah tidak usah diragukan lagi gaungnya. Jikalau ada musisi pop yang hadir, biasanya hanya selintas dan keberadaanya bak oase di padang yang tandus. Maka bisa dibilang Meltic adalah salah satu oase tersebut dan kini cukup ramai diperbincangkan di kalangan hipster Kota Solo.

Band yang terbentuk beberapa tahun silam ini beranggotakan 2 pria yang tampaknya terjebak dalam kisah cinta long distance relationship (LDR) yakni Azis Indro dan Fajri Nossa. Bagi penikmat dan pengamat scene indie di Solo, kedua jejaka tampan ini sudahlah tidak asing. Azis adalah personil unit bengal asli Solo “Sweet Killer” dan Fajri salah satu pentolan dari “PopRadio” yang juga tak akan lama lagi merilis album. Meltic yang mengklaim diri mereka mengusung jazz/accoustic pada awal tahun 2013 ini merilis debut album mereka “Tujuh Belas”.
Album "Tujuh Belas" Meltic
Album perdana mereka ini dimulai dengan 6 lagu plus 1 lagu remix cukup segar untuk didengarkan. Kembali pada format akustik, 6 materi Meltic cukup menyenangkan untuk didengarkan dikala apapun. Easy listening, kalem, dan rapi terdengar ditelinga membuat album “Tujuh Belas” cukup menyenangkan untuk didengarkan dikala santai ataupun menjelang istirahat. Untuk departemen lirik pun, masih bertemakan cinta dan lirik yang disajikan cukup lugas tanpa banyak mengeluarkan kata demi kata maut penebar cinta. Album “Tujuh Belas” ini terasa seperti sebuah cerita yang ingin Aziz dan Fajri ini bagikan kepada yang mendengarkan.

Dilagu pertama yakni “Jauh”, sebuah tembang yang berceritakan soal LDR. Perasaan khawatir perasaan yang kandas dilibas oleh jarak antar dua insan yang bercinta. Takala mendengarkan lagu ini pertama kali cukup kaget karena materi ini direkam dengan full set instrumen band. Di luar prediksi tapi menjadi lagu yang menyenangkan untuk membuka cerita “Tujuh Belas”.

“Rindu” menjadi penghias lagu selanjutnya. Tampaknya disini menjadi sebuah kegoyahan perasaan takala mulai ditinggal. Mungkin itu adalah rasa un-move on feeling. Akan tetapi disini disajikan apa yang menjadi ekspektasi diawal. Petikan senar yang santai dan kalem, tampaknya lagu ini harus dihindari ketika rindu melanda perasaan.

Masih berkutat dengan gejolak rindu dihati, “Hujan” masih melanjutkan perasaan sebelumnya. Hanya saja kali ini lebih dibawakan sedikit lebih cheerful dan sudah mulai terbiasa dengan perasaan rindu ini. “Biar-biarlah hujan membawa seribu kenangan indah antara kita berdua.”

Pemberi harapan palsu (PHP) menjadi tema yang dijadikan di lagu ini. Apakah jarak dan mulainya mengilang perlahan menjadi signal PHP? Mulailah sadar dan mulai mencari kepastian. Full set band menjadi pengiring materi “Apa Benar Cinta” dan menyenangkan untuk didengarkan ditengah-tengah list lagu. Terasa tidak membosankan dan monton. Penempatan yang tepat di tengah.

Pada lagu akhirnya jelas sekali bagaimana posisi hubungan kedunya. It’s like friendzone dan cinta bertepuk sebelah tangan karena baginya “Wanita Terindah”. Saatnya kembali menuju musik melankolis dan ekspetasi duo akustik. Sangat menyegarkan dan menyenangkan untuk didengarkan.

Track ke-6 adalah lagu penutup ”Biarlah” dan disini adalah titik move on di “Tujuh Belas”. Suasana yang lagu yang ceria dan liriknya disini terasa nyata. Liriknya pun tidak terlalu lacur untuk didengarkan namun tidak terlalu puitis. “Selama aku masih bisa menikmati mentari pagi ini yang setia menemani hingga akhir waktu…”

Secara keseluruhan, sound dan lirik yang digubah oleh band yang memiliki akun twitter @melticIndonesia ini melempar saya ke era 90-an akhir. Sekilas mendengarkan album perdana Meltic ini mengingatkan pada band semacam Caffein, Tic Band, Ada Band di era awal, serta sejenisnya. Liriknya tidak terlalu puitis namun tidak juga terlalu merakyat untuk istilah dan diksi yang digunakan. Membeli album Meltic “Tujuh Belas” tidak memberikan penyesalan. Memberikan warna tersendiri di scene musik kota yang berslogan Spirit of Java. Semoga akan ada album selanjutnya.

*Tulisan ini juga dimuat Dean Street Billy's

Monday, 22 April 2013

"Daur, Baur" Pandai Besi: Sentuhan Baru, Materi Lama

Bagi penikmat dan pengamat scene indies Indonesia, beberapa bulan belakangan ini ramai diperbincangkan tentang Pandai Besi. Mungkin sebagian orang banyak yang tidak familiar dengan Pandai Besi, namun apabila menyebut Efek Rumah Kaca (ERK) maka semua akan termangut paham. Pandai Besi merupakan sebuah project sampingan Efek Rumah Kaca disela-sela pengerjaan album ke-3. Untuk mengatasi kebosanan memainkan lagu-lagu dari dua album mereka, Efek Rumah Kaca membuat unit khusus yang mengaransemen lagu-lagu dari dua album terdahulu. Unit Arransmen itu bernama Pandai Besi. "Daur, Baur" hadir atas buah kesenangan Pandai Besi.

Biasanya project sampingan hanya untuk bersenang-senang mengatasi kebosanan, tapi ketika senang-senang itu menjadi sebuah project serius maka direkamlah lagu-lagu arransmen Pandai Besi. Dimana 9 lagu Efek Rumah Kaca kemudian di acak-acak kembali oleh Cholil Mahmud (vokal, gitar) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum) ditambah Airil “Poppie” Nurabadiansyah (bas), Andi “Hans” Sabarudin (gitar), Muhammad Asranur (piano), Agustinus Panji Mahardika (terompet), dan Nastasha Abigail serta Irma (vokal latar). Keseriusan ini ditambah dengan pengerjaanya arransmen ini sendiri dilakukan di Studio Lokananta. Sebuah Studio klasik dengan kekuatan magis musikalitasnya yang sudah teruji klinis.
Masalah materi lagu tidak usah dibahas karena hampir semua orang mengetahui bagaimana materi lagu yang dimiliki ERK sudah sangat mumpuni. Hal yang menarik yang sedikit dibahas adalah keseksian Pandai Besi dalam memporak porandakan lagu-lagu ERK dan kemudian membangun dengan interpretasi mereka. Hasilnya sangat menyegarkan, lebih meriah, dan lebih sexy. Menyegarkan karena jelas musik yang dihasilkan berbeda dengan arransmen baru, lebih meriah karena Pandai Besi berdiri atas delapan orang dengan kemampuan khususnya, serta lebih seksi dengan aura yang diberikan.

Hanya saja, entah karena saya menyaksikan dengan segenap indera perasa saat pengerjaan album ini atau kuping saya yang fals, sound yang dihasilkan ketika lagu ini sudah dipadatkan menjadi cakram tidak sesuai dengan apa yang saya rasakan saat lagu-lagu ini direkam. Bagi saya terasa sound yang dihasilkan saat usai direkam terasa lebih menggelegar dan lepas. Terlepas dari itu, saya ingin mengacungkan jempol untuk Lokananta. Bagaimana ruang studio dan tata akustiknya sungguh luar biasa. Suara yang dihasilkan terbilang cukup jelas dan denting demi denting setiap instrumen terasa. Tiada yang bercampur baur dan semua pas pada porsinya.

Selamat mendengarkan "Daur, Baur" dan nikmati hasil karya kalian semua (orang-orang yang terlibat crowdfunding). Rasakan daurannya, dan pada akhirnya, semua akan membaur di dalam Pandai Besi.

*Tulisan ini juga dimuat oleh Dean Street Billy's