Showing posts with label Jenny. Show all posts
Showing posts with label Jenny. Show all posts

Friday, 10 October 2014

Selamat Tinggal Jenny, Selamat Datang FSTVLST



Terbilang sudah sekitar, kurang lebih, dua tahun semenjak Jenny berganti nama menjadi FSTVLST (re: Festivalist). Tingkah ugal-ugalan dan lantunan bait yang menohok langsung logika menjadi wangi yang sangat kuat bagi Jenny. Sepeninggalan Arjuna 'Mbah' Bangsawan dan Anis Setiaji, Farid dan Robby akhirnya memutuskan untuk menghiatuskan Jenny dan merubah ke menjadi FSTVLST. Banyak yang bertanya-tanya, untuk apa mengganti nama namun tetap memainkan lagu-lagu Jenny. Tidak bisa dipungkiri, banyak yang terperangkap dalam pusaran pemikiran seperti itu.


Jikalau dalam kurun waktu dua tahun, maka semenjak 2012 hingga awal tahun 2014, FSTVLST cukup menggeber dapur kreatif mereka. Bermodalkan tenaga yang baru, segar, dan energik semenjak ketambahan Danish Wisnu sebagai penjaga hentakan nada dan Humam Mufid sang pemegang kampak. Dalam dua tahun, ada beberapa materi mentah mereka dilempar di dunia maya dan mendapatkan tanggapan positif. Materi baru dengan kualitas rekaman sealakadarnya, cukup membuat penasaran banyak kalangan, tetapi tidak bagi mereka masih jatuh cinta dengan pesona Jenny. Jujur, saya termasuk kedalamnya. Dalam dua tahun lalu, Tidak mengikuti bagaimana sepak terjang FSTVLST membangun citra baru dan melepaskan pesona Jenny pada karakter mereka.

Pada akhirnya beberapa bulan silam, FSTVLST resmi merilis Hits Kitsch sebagai album penuh pertama mereka. Gong penanda era baru siap untuk dituliskan saat ini. Pemikiran awal sebelum membeli album ini adalah is like another Jenny or Jenny wanna be. Sebuah asumsi yang tanpa dasar dan hanya berdasarkan praduga mentah. 25 September 2014, akhirnya FSTVLST menabuhkan genderang perang mereka di Ecobar365. Awalnya menyaksikan FSTVLST untuk bernostalgia dengan Jenny dan menantikan "Mati Muda" (anthem bagi Club Mati Muda). Jelas saja FSTVLST pasti akan membawakan lagu-lagu di album Hits Kitsch sebagai bagian dari promo album terbaru mereka. Malam itu mereka membuka dengan "Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan". Mereka memaikan setlist dengan manis, menyelipkan "Monster Karaoke" pada lagu keempat dan benar-benar membakar Kemang. Tapi hati ini belum bergeming dari pesona Jenny. Lagu ketujuh, "Orang-Orang di Kerumunan" semacam memberikan pertanda dan menggelitik hati. Yah sebuah insting atau pun perasaan aneh yang bergejolak. Kelar FSTVLST memanaskan moshpit, kontan saja menuju meja penjaja Hits Kitsch dan memboyongnya pulang.

A**ING! terlintas saat memutarkan Hits Kitsch pertama kali. Ini jauh dari Jenny namun tetap dengan kesan ugal-ugalan musik Rock. Panas dan membabi buta. Secara keseluruhan, FSTVLST tetap nakal dengan liriknya yang menggoda, petikan gitarnya yang nakal, betotan bass yang ganas, dan semua dibungkus dengan rentetan drum yang rapi. Dari musikalitasnya pun, terasa FSTVLST lebih dewasa dan materinya di rekam dengan sangat baik. Menghentak namun tetap terasa dinamis dan nyaman untuk didengarkan. Keseluruhan materi FSTVLST, kemudian dibungkus dengan epik dengan artwork yang lengkap. Lengkap sentuhan visual disetiap lagu dan lirik materi Hits Kitsch, tersusun rapi dalam sebuah booklet yang manis. Berikut sebuah komentar personal atas materi-materi Hits Kitsch;

Orang-Orang di Kerumunan
Sebuah potret keadaan masa kini. Orang-orang yang berkerumun dan menjadi bersumbu pendek. Lekas Marah dan baku hantam adalah jalannya. Salah satu materi yang benar-benar menggelitik untuk didengarkan dan tepat diletakan sebagai pembuka Hits Kitsch. Ugal-ugalan, beringas, dan jahat!

Menantang Rasi Bintang
"Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah, segera mulailah syukurmu yang pasti indah..." Lirik yang indah dan menjadi lagu yang paling difavoritkan dari seluruh isi Hits Kitsch.

Hujan Mata Pisau
Lagu pertama yang, mungkin, dibuat setelah dirilisnya Manifesto. Sisa-sisa endapan dan gaya Jenny bercerita masih terasa kental pada lagu ini.

Akulah Ibumu
Ini adalah satu-satunya lagi yang masih belum dimengerti apa pesan dibaliknya. Tetapi sentuhan sinden diawal dan materinya yang terasa berat seperti mengisyaratkan untuk merenung tentang awal kehidupan dan sejenisnya. Mungkin akan ditanyakan langsung jikalau bertemu Farid.

Hal-Hal Ini Terjadi
Sebuah sentilan kondisi masyarakat saat ini. Tidak bisa di tolak bahwa kita kini hidup dalam lingkaran seperti yang dibaitkan.

Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan
Lagu Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan seperti sebuah counter dari lagu sebelumnya. Jikalau di lagu Hal-Hal ini Terjadi bercerita tentang busuknya kondisi saat ini, maka kali ini saatnya bangun dan kembali menyusun rumah yang kini kian rusak.

Bulan Setan atau Malaikat
Sebuah lingkaran abu-abu yang masih menanti jawabannya. Sudah jelas seperti judulnya, apakah kamu Setan atau Malaikat?

Satu Terbela Selalu
Disini adalah salah satu track favorite di Hits Kitsch. Jikalau kamu ingin mencoba mendengarkan dan menikmati Hits Kitsch, bisa dimulai dari lagu ini.

Hari Terakhir Peradaban
Jikalau tidak salah, Hari Terakhir Peradaban merupakan titik awal Jenny Menjadi FSTVLST. Masih terasa kental pula sentuhan Jenny di lagu ini.

Ayun Buai Zaman
"Sejauh pandang mata, hamparan kilau emasnya seperti puncak angan..." Cara yang tepat untuk menutup Hits Kitsch dan kembali mengulang ke track awal.

Dalam kurun 2014, bisa dibilang Hits Kitsch menjadi salah satu nominasi album terbaik tahun ini. Sebuah perkenalan ulang dari Farid, Robby, Mufid, dan Danish bahwasanya mereka adalah FSTVLST, bukan Jenny. Selamat tinggal Jenny, selamat datang FSTVLST!

Tulisan ini pun juga dimuat Dean Street Billy's

Sunday, 3 April 2011

KickFest: The Catton Warriors Strikes Back!! 2011 (2nd day)

Well, this is another clothing exhibition in Yogyakata. Setiap tahun minimal 1x diselenggarakan di Jogja Expo Center. Kick Fest kali ini bertajuk The Catton Warriors Strikes Back!! dan berlangsung dari tanggal 1-3 April 2011. KickFest tahun menurut saya sangat menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Penurunan terjadi karena Brand-brand yang hadir tak begitu banyak, tak begitu banyak alternatif acara seperti tahun lalu, harga tiket yang naik 2rb perak, dan TAK ADA DISKON YANG SINTING! Apakah yang dicari dan dibutuhkan oleh rakyat kecil pas-pasan yang ingin tampil trendis selain KORTINGAN HARGA TAK BERMORAL? Namun sudahlah lupakan itu semua ketika anda membayar Rp. 10.000,- dan melihat para musisi yang hadir di acara kali ini. Sangat sebanding bahkan ini sangat murah. Bisa menyaksikan Burgerkill, Cranial Incisored, Something Wrong, Deadly Weapon, Attack The Headliner, Reason To Die, Spider Last Moment, Hang Out, Efek Rumah Kaca, Jenny, Brilliant At The Breakfast, Koala, The Aline, Quasy, Teman Sebangku, Nada Fiksi, Jogja Hiphop Foundation, Dubyouth, Armada Racun, Serigala Malam, Cacat Nada, Angina, Savior, Perfect Blondie. Lihat Line up ini dan saya rasa inilah kunci kesuksesan acara kali ini. Sepadan dan sangat berbahaya namun dinamis berkelas. Suasana yang dihadirkan dalam acara ini sangat bersahaja dan memikat untuk dirasakan dengan panca indera dan perasaan hati nurani. Banyaknya muda-mudi Yogya yang berkeliaran, dentuman lagu-lagu yang memikat hati, para crew yang ramah, dan sexy dancer mungkin cukup untuk menggambarkan kondisi didalam seperti apa.

Saya telat untuk datang dan hanya menyaksikan outro dari The Aline. Menurut pengamatan saya cukup banyak yang berdiri di depan untuk menyaksikan The Aline dan kebanyakan para remaja belia berkelamin pria yang ingin menyaksikan vokalis dari The Aline yang cukup cantik. Penampilan yang ramah, bersahaja namun energic menjadi semacam andalan The Aline untuk memikat para penonton yang mayoritas duduk dari kejauhan.

Dede ♥ Zummas
Kemudian saya pergi untuk berputar-putar sejenak dan mengunjungi kawan saya, Zummas Rinanda Syifa, yang sedang menjaga salah satu distro, Couster Cattle, dari kota Solo. Kebetulan saya berangkat ke JEC ini bersama kawan lama saya Dede Surya Kusuma yang tak lain merupakan kekasih dari mempelai Zummas ini. Sebenarnya agak sedikit heran juga ketika Dede mengajak saya untuk menonton Efek Rumah Kaca ,namun setalah saya menelaah lebih lanjut akhirnya saya mengerti mengapa itu terjadi. Di KickFest ini pula saya bertemu dengan GM saya di Fiesta FM Dhimas Aryo Sekti Lanang yang sangat penasaran dengan Efek Rumah Kaca. Pertemuan ini sebenarnya secara tidak sengaja karena dia usai futsal, dia penasaran dengan Efek Rumah Kaca, dan akhirnya tuhan mempertemukan kita. Meskipun kami terpisah saat akan menyaksikan panggung namun ini pertama kali  kita bertiga pulang ke Solo dini hari dengan menggunakan bus antar kota jurusan Surabaya. Kami datang dan semua pun senang!

Puas melihat mereka bermesraan, saya kembali menuju panggung dan melihat pernampilan berikutnya oleh Brilliant At The Breakfast. Sebuah band Indie-pop yang menurut saya sangat kreatif. Lagu mereka mengangkat tentang hal-hal kecil disekitar kita seperti tentang sehabat pena, kotak pos, kaos oblong, dll. Selain itu band ini terdapat 2 orang perempuan jenius sebagai motor mereka. Vokalis wanita merangkap pemain bass yang sangat pandai membuat repetoar, dan seorang keyboardist yang senan tiasa mengalunkan nada-nada yang cukup membuat anda mengenang hal-hal disekitar anda. Penampilan yang bersih, minimalis, namun patut anda simak ketika suatu saat anda bersua dengan mereka.



Usai Brilliant At The Breakfast, bibir panggung kian ramai dan berdesakan. Muda-mudi Yogya baik lelaki maupun wanita menuju satu tujuan yaitu panggung untuk menyaksikan Jenny. Jenny bukanlah seorang wanita berparas ayu dan bertubuh sintal menggiyurkan, namun Jenny adalah band rock garage Yogya yang sedang naik daun. berisikan 3 bangsat karib yakni: Roby Setiawan (guitar), Arjuna Bangsawan (bass), Farid Stevy Asta (vocal), serta 1 bangsat kecil Danish Wisnu Nugraha (drummer). 4 lelaki kurus namun sangat terasa kokoh ketika didepan panggung. Kehadiran Roby, Arjuna, Denish yang masuk pertama dihajar dengan riuh penonton yang kian tak sabar untuk melengkuhkan kenikmatan bersama Jenny. Mereka memainkan intro sebagai pemanasan dan terakhir masuklah The Frontman, Farid. Penonton langsung bersorak bersama serempak beraturan berirama dan tak tahu kapan Jenny telah masuk pada lagu pertama. Gimmick dari Farid dan repetoarnya yang cukup provokatif, kasar, namun cerdas sepertinya menjadi ciri khas dari vokalis bertubuh kurus ini. Lagu-lagu mereka seperti The Only one, 120, Menangisi Akhir Pekan, Monster Karoke, Manifesto, Hujan Mata Pisau, dan single terbaru mereka Hari Terakhir Peradaban dibawakan dengan baik. Kekacauan kian menjadi, kian panas, dan menjadi tak menentu saat Farid melakukan Surfing di atas penonton sambil meludah kearah penonton. Bagi yang kerap menonton Jenny, penampilan Farid yang sering meludah adalah hal yang biasa dan ia pun kerap meminta para penonton untuk meludahinya.Penampilan Jenny ditutup oleh Mati Muda yang merupakan lagu pamungkas Jenny. Koor penonton sudah pada puncaknya dan sing along pun tak dapat dihindarkan. Penampilan yang luar biasa dari band Yogya untuk teman pencerita mereka.


Kelar Jenny yang memuaskan Birahi para penonton ternyata tak membuat para penonton kelelahan dan mundur. Berpenuh peluh, pakaian yang berbau keringat, udara yang panas, serta penonton yang sangat rapat tak mengurangi para penonton untuk melewatkan aksi yang mereka tunggu yakni Efek Rumah Kaca. Tak memerlukan waktu yang lama mengeset panggung untuk penampilan Efek Rumah Kaca. Tanpa basa-basi Efek Rumah Kaca langsung saja manggung dan membawakan Tubuhmu Membiru Tragis sebagai pembukaan mereka. Penonton yang telah dipuaskan oleh Jenny tampaknya masih memiliki banyak tenaga untuk bernyanyi bersama dengan Efek Rumah Kaca. Malam itu, Efek Rumah Kaca tak bisa hadir secara full formasi karena Adrian sedang sakit sehingga dia digantikan oleh Hans. Beberapa tembang mereka seperti Sebelah Mata, Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa Dan Hilang, Mosi Tidak Percaya, Kenakalan Remaja di Era Informatika, Hujan Jangan Marah, kesepian, lagu Desember, Balerina, dan Jalang dibawakan namun saya merasa suara Cholil tak sebagus biasanya; Namun ketika penonton sudah senang dan bisa menikmati segalanya, peduli setan dengan segalanya asal tak merugikan! Sebagai penutup playlist Balerina didaulat untuk menutup KickFest 2011: The Catton Warriors Strikes Back!! hari kedua.

 



Thanks to:
- Dede Surya Kusuma
- Dhimas Aryo Sekti Lanang
- Zummas Rinanda Syifa
- Couster Cattle