Showing posts with label 2011. Show all posts
Showing posts with label 2011. Show all posts

Sunday, 11 December 2011

AKSEN XVIII Bersama Endah And Rhesa

Pamflet Aksen XVIII SMA Negeri 3 Surakarta
Penampilan duo akustik, Endah And Rhesa, tampaknya menjadi sebuah alternatif untuk menutup akhir pekan. Endah And Rhesa tampil sebagai Guest Star di Aksen XVIII, acara pensi, SMA 3 Surakarta  (11/12). Acara yang digelar untuk ke-18 kalinya ini mengambil venue di Taman Balekambang setelah ditahun-tahun sebelumnya acara Aksen hanya berada digelar di sekolahan. Sebelum duo Endah And Rhesa menyapa Solo, Aksen XVIII telah dibuka oleh beberapa penampilan dari local scene seperti Popradio, Sweet Killer, dan Babylon.

Endah And Rhesa menyapa penonton dengan lagu Waiting yang diambil dari album ke-2 Look What We've Found. Hampir selama 30 menit pasangan suami istri ini menghibur penonton yang mayoritas remaja dengan lagu-lagu andalan mereka. I Wish You Were Here, I Don't Remember, dan When You Love Someone menjadi beberapa lagu pamungkas dalam aksinya kali ini. Bahkan Endah And Rhesa mengcover sebuah lagu lawas In The Jungle karya Solomon Linda tahun 1939. Tak hanya bermodalkan hits-hits mereka yang cimaik namun Endah And Rhesa menunjukan skill mereka dalam bermusik. Endah menunjukan bagaimana dia sungguh piawai dalam bermain gitar dan Rhesa dengan bassnya menjaga rhythm penampilan mereka. Sungguh sebuah  pertunjukan yang luar biasa.
Endah And Rhesa
Penampilan Endah And Rhesa di Balaikambang sedikit memiliki kesan tersendiri bagi mereka. Selain ini adalah penampilan perdana mereka di Solo, Solo merupakan kampung halaman dari Endah. Keluarganya berasal dari Sukoharjo dan sebelum tampil, Endah sempat mengunjungi nenek dan kakeknya yang sudah berumur 90 tahun. "Senang rasanya bisa manggung disini, keluarga saya asli dari solo ..." tutur Endah disela-sela penampilannya.

Untuk nenutup penampilan mereka, Endah And Rhesa membawakan Baby It's You yang dijamming dengan apik. Tampak kepuasan hadir di setiap raut wajah para penonton. Mereka tampaknya senang dengan panmpilan yang luar biasa dari Endah And Rhesa. Semoga Endah And Rhesa bisa segera untuk pulang kampung kembali.

Note:
Special thanks untuk Yudita Trisnanda (@YTrisnanda) untuk tiket AKSEN XVIII :)

Saturday, 10 December 2011

Rising Pop Rising Town #4: Penyegaran Diantara Penyeragaman

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berceletuk di dunia maya bahwa pensi di Kota Solo sudah layaknya acara musik di tv. Keseragaman ini bukan berdasarkan sekeder penonton yang bergaya layaknya pembantu rumah tangga sedang bekerja ataupun anak SD yang sedang diajari menari, tapi lebih kepada musik yang disajikan. Dari panggung ke panggung, pensi ke pensi, bahkan cerita bermusiknya pun segaram. Band-band yang mengisi pentas seni seakan sudah tidak ada pilihan untuk menampilkan band-band lain. Panggung sudah dimonopoli dan pikiran anak-anak SMA sudah di pasang dengan kacamata kuda. Berbeda genre namun seragam dan itu melulu. Beruntung akhir pekan ini, ada sebuah penyelamatan. Setidaknya menjadi alternatif lain bagi yang bosan dengan yang itu-itu melulu. Rising Pop Rising Town kembali digelar untuk keempat kalinya dan masih dengan venue yang sama De Tree Laweyan.
Poster Rising Pop Rising Town #4
Bagi yang asing dengan Rising Pop Rising Town, gigs ini adalah sebuah bentuk pergerakan underground pop di Kota Solo. Sebuah gerilya band-band Solo dan sekitarnya untuk menunjukan taji bahwa Solo memiliki komunitas pop yang cukup aktif dan berbahaya.Mungkin Gigs yang hangat, saling menyapa, saling support, dan tiada batasan adalah gigs yang sebenar-benarnya gigs. selama ini Solo sedang membentuk diri sebagai salah satu barometer scene musik rock tanah air namun jangan lupa bahwa tidak hanya rock namun pop pun masih ada di Kota Bengawan ini. Berawal dari sebuah scene bersepeda dan kini Rising Pop Rising Town sudah menapaki episode ke-4. Semakin besar dan semakin beringas mengkampanyekan suara pop culter Kota Solo.
Kucing Disco
TIket Rising Pop Rising Town #4 | CD Answer Sheet | Krupuk Rambak Kucing Disco | Stiker Winter Issue

Rising Pop Rising Town #4 terjadwal untuk mulai membuka pukul 7 malam dan sedikit telat adalah lumrah lantas terlupakan. Seperti biasa sebelum masuk membeli karcis seharga Rp. 5000,- perak serta mendapatkan stiker. DI depan tampak terjaja dengan rapi beberapa rilisan band-band yang akan bermain dan saya sempat membeli salah satu rilisan yang dijajakan. Masuk venue sudah dihajar dengan band pertama adalah band tuan rumah Kucing Disco. Band Post Rock yang mungkin paling chaos dan ugalan-ugalan dalam acara ini. Lupakan suara melodi, beat yang terdelay, apalagi sound yang bersih. Full distortion dan stage act yang benar-benar terbuka. Semua dapat bernyanyi dan semua dapat berteriak tanpa ada sekat dan pembatas. Hal yang paling chaos dari band ini adalah merchendise yang mereka bagikan yakni berupa kerupuk rambak, krupuk kulit khas Solo, yang diberlabel band mereka Kucing Disco. Overall Kucing Disco adalah kucing paling berbahaya di Kota Solo.
Usai  Kucing Disco membuat huru-hara, saatnya local hero Kota Solo, Home Alone, ujuk kejantanan mereka. 5 jejaka tangguh menguasai panggung dan bermain lebih bersih ketimbang band sebelumnya. Mengusung rock dengan sedikit nuansa post dan melodic, sudah pokoknya mereka bermain, cukup menarik minat penonton. 4 Lagu mereka bawakan dan tampaknya sudah sangat cukup untuk menangkat tensi penonton, terutama para penonton yang baru saja memasuki De Tree.

Kemudian saatnya salah satu band tandang asal Jakarta pengusung psychedelic grungge, Televisi Hitam Putih, siap mengguncang De Tree. 4 pejantan berutubuh kurus dan dengan berjuta kejutan siap menghajar penonton. Setting alat yang cukup lama sempat menurunkan tensi penonton namun ketika gitar siap, tensi penonton seakan kembali pada titik panasnya.  Kasarnya distori, lirik yang sarkas, teatrikal panggung, serta peralatan bermusik yang dibawa sungguh mencengangkan. Dengan gitar, bass, drum, dan banyak pekakas sederhana yang mereka bawah sungguh mencengangkan. Sound-sound efek yang dihasilkan begitu alami akrab ditelinga. Mungkin dengan suara-suara semacam itu membuat teatrikal yang mereka bangun tampak sangat berhasil mengajak penonton merapat akan bibir panggung.

setelah panggung dikuasai oleh band asal Jakarta, Televisi Hitam Putih, kini saatnya band local kembali memegang kembali crowd Rising Pop Rising Town. Carment kembali bangkit setelah vokalis mereka Wisnu kembali dari entah berantah. Sempat memegang kendali dunia pensi di Kota Solo, tampaknya sisa kejayaan mereka masih terasa dan ditunggu oleh banyak orang. Menurut saya, Carment adalah band post rock dengan sound terbersih malam ini benar-benar luar biasa. Akan tetapi tampaknya faktor umur dan sudah lama vakum dari dunia band membuat penampilan mereka tidaklah segahar beberapa tahun silam. Beruntung Discomatematis masih mampu menaikan tensi crowd malam itu sampai pada titik pecah dan mereka berhasil.

Panggung kembali diambil alih oleh band asal Bekasi, Revolution Pop. Seperti nama mereka, Revolution Pop benar-benar membawa pop kedalam tatanan baru. Musik yang sedikit deep namun berhentak keras membuat fasih penonton untuk merapat dengan panggung. Sekilas melihat personil Revolution Pop tampak biasa saja dan kalem namun tunggu sampai biduan mereka menunjukan batang hidungnya. Anda mungkin akan merasa seperti Robert Smith, Jarvis Cocker, serta Brett Anderson merasuk kedalam tubuh vokalis mereka. Berdansa tiada henti, berteriak, melompat, serta menunjukan gimmick pesakitan membuat mereka merevolusi pop biasanya. Patut untuk disimak suatu saat nanti.

Setelah dari Bekasi, kini panggung diambil alih oleh Answer Sheet asal Yogyakarta. Yogyakarta kota pendidikan dan kota seni. Seniman serta musisi hebat akan selalu bermunculan dari Kota Gudeg ini. Anwer Sheet mengusung musik pop yang benar-benar fresh. Bermodalkan Ukulele mereka sudah bisa menciptakan hamonisasi nada-nada yang sangat lembut, tenang, dan sebagai pengantar untuk menikmati hidup. Tak salah ketika saya membeli CD mereka dan harganya pun cukup fantastis Rp. 10.000,-. Ketika biasanya dengan uang segitu anda hanya mendapatkan kebab, maka kali ini dengan Rp. 10.000,- saya mendapatkan sebuah karya yang luar biasa berkarakter. Berucaplah syukur mereka yang lahir di Yogyakarta dan memiliki talenta berbakat.
Leon's Labyrinth
Leon's Labyrinth kembali mengangkat crowd yang dingin setelah Answer Sheet dengan musik slow rock mereka. Leon's Labyrinth mengingatkan saya akan musik-musik rock jaman dulu semacam U2 dan mereka sungguh menyenangkan. Simple namun memiliki karakter yang berbeda dengan band-band yang telah mengicipi panggung Rising Pop Rising Town #4. Untuk Leon's Labyrinth saya minta maaf karena jujur saya tidak mendapatkan feel untuk menikmati kalian.
Winter Issue
Band puncak kali ini di bawa pengang oleh Winter Issue asal Bekasi. Band brith pop yang memiliki personil seorang wanita nan aduhai ini sangat menarik untuk disaksikan. Suara vokalis utama mereka sungguh bulat serta beat yang up membuat sepanjang penampilan mereka sungguh luar biasa mengoyangkan tubuh. Apalagi dengan aktifnya sang biduan berinteraksi dengan penonton membuat semua merasa nyaman bersama Winter Issue. Sound yang dihasilkan pun cukup segar dan menurut kuping saya yang fals ada beberapa sound yang mirip dengan Radiohead. Akan tetapi memiliki sound yang sama dengan Radiohead atau tidak, Winter Issue benar-benar membahagiakan untuk penonton Rising Pop Rising Town.

Acara berkhir? Yak MC sudah menutup acara tersebut dengan Wasalamualaikum namun sebuah band susulan baru saja hadir dari panggung sebelah. Ketika beberapa hari yang lalu saya galau untuk menonton Carment atau Festivalist, maka di Rising Pop Rising Town mereka datang secara mendadak. Tampaknya gong acaranya memang siap untuk ditabuhkan dan menjadi semacam acara after party Festivalist. Satu hari Dua Festival mereka sambangi. Tampak rajut kelelahan dimuka masing-masing personil namun tampaknya Festivalist tahu bagaimana cara bersenang-senang. 4 lagu, tanpa berikade, full body contact, serta gelak tawa sorak gembira mewarnai panggung Festivalist. Festivalist menutup after party mereka dengan doa "Mati Muda". Sedikit sedih ketika Hari Peradaban Terakhir urung dibawakan namun sudahlah mereka luar biasa malam ini.
With Farid Stevy (Festivalist)
Jam menunjukan pukul 12 tepat dan ini pertanda acara benar-benar usai. Acara ditutup dengan bau asap rokok yang bercampur alcohol, telinga yang berdengung, mata pedas, suara habis, serta kebahagiaan yang tak terhingga. Sebuah gigs yang luar biasa dan benar-benar jarang di Kota Solo. Perlu sebuah apresiasi besar pada acara ini dalam membanggun sebuah scene pop di Kota Solo dan semoga Dean Street Billy's bisa membuat sebuah scene yang benar-benar merangkul band-band pop di Kota Solo.


Monday, 28 November 2011

Bercerita Akhir Pekan Bersama Gugun Blues Shelter

Jujur saya bukanlah orang yang intim dengan musik-musik Gugun Blues Shelter. Saya hanya sekedar mengetahui sebagian cerita mereka di akhir-akhir ini takala mereka menang dalam sebuah festival band yang memberangkatkan mereka menuju Hyde Park London. Semenjak itu saya baru mulai memperhatikan gerak-gerik militan mereka di kancah musik Indonesia. Hal pasti yang saya tahu mengenai Gugun Blues Shelter hanyalah mereka band blues Indonesia dan hits mereka, Jangan Berkata Dalam Hati, yang menjadi Jawara 7 jaman 107.7 FiestA FM dalam beberapa pekan. Pada akhirnya kemarin (27/11) Gugun Blues Shelter berkesempatan untuk menampilkan kualitas mereka yang tersohor.

Gugun Blues Shelter tampil dalam sebuah acara yang digagas oleh salah satu produsen rokok di Kampoeng Ikan Lor In. Sebuah kesempatan langka untuk Gugun Blues Shelter sendiri karena show ini merupakan show pertama mereka di Solo dan bagi penonton, jelas ini adalah sebuah show yang syarat akan skill dan menghibur. Sangat menjanjikan dan yang jelas buat saya sendiri ingin tahu seperti apa Gugun Blues Shelter yang kerap digembor-gemborkan oleh kolega saya Fikri Aziz dari Jakarta Stage.

Soloensis
Acara dimulai pukul 19.00 WIB dan tampaknya benar tepat waktu adanya acara itu dimulai. Sebagai pemanasan, terdapat band pembuka yakni Soloensis. Saya tak bisa banyak komentar tentang mereka karena saya datang terlambat dan tidak menyaksikan bagaimana penampilan mereka secara utuh. Akan tetapi dari satu lagu yang saya saksikan dan itu merupakan lagu terakhir, mereka membawakan sebuah hits dari AC/DC. Cukup mencengangkan ketika Soloensis membawakan AC/DC karena di Solo sendiri tak banyak band-band yang membawakan musik-musik Hard Rock semacamnya. Bagi Saya Soloensis sukses mengcover lagu dari AC/DC karena mereka mengarrasment dengan sound mereka sendiri. Tapi tampaknya penonton berkata lain, cukup dingin sambutan yang diberikan kepada band rock and roll asal Solo tulen.

Sweet Killer
Kelar Soloensis mencoba membangkitkan tensi para penonton, majulah band pembuka kedua yakni Sweet Killer. Bagi penikmat musik di Kota Bengawan dan para ABG mungkin nama Sweet Killer bukanlah nama yang asing di gendang telinga mereka. Bisa dibilang Sweet Killer adalah role mode untuk band-band rock and roll di Solo. Mereka langsung menghajar panggung dengan lagu andalan mereka "Abidin" dan menurut saya Sweet Killer tampak berbeda malam itu. Dari segi penampilan mereka terlihat sangat rapih, necis, dan berseragam. Segi atraksi panggung, mereka lebih kalem dan tampak seperti anak mami yang malu-malu untuk tampil. Bukan mengecilkan atau pun sumbang namun atraksi malam itu sungguh mirip dengan atraksi The Changcuters. Bahkan joke-joke yang dilantunkan oleh vokalis Sweet Killer, Galih, terasa garing dan menurunkan tensi penonton. Malam yang cukup buruk bagi Sweet Killer di Rock Moment.

Terdapat jeda yang cukup panjang untuk peralihan dari Sweet Killer menuju Gugun Blues Shelter. Entah untuk set alat atau memang teknis panitia yang tidak terkordinasi dengan baik sehingga lumayan garing menunggu. Akan tetapi musnah ketika Gugun (Gitar - Vox), Jono (Bass), serta Bowie (Drum) masuk kedalam stage dan telah di tunggu oleh sekitar 100 orang lebih. Penampilan pertama dibuka oleh "Ikuti Langkah" yang dimedley oleh "Old friend". Sontak sorak sorai penonton menyambut lengkingan gitar Gugun. Dua lagu ternyata cukup untuk langsung mengangkat tensi penonton yang sedari bisa dibilang dingin dan terbukti Peluh keringat sudah membasahi baju tiap-tiap penonton serta Gugun Blues Shelter. Atraksi yang sangat skillful, bertenaga, dan atraktif membuat musik mereka sangat menenyangkan untuk disaksikan. Women, When I see You Again, Soul On Fire, Jangan Berkata Dalam Hati, dan Give You Love menjadi bagian dari set list mereka dalam memanaskan Minggu malam. Hampir satu setengah jam Gugun Blues Shelter memberikan aksi terbaik mereka dan berkali-kali mendapatkan respon yang baik dari pecinta musik blues malam itu. Hal yang paling menyenangkan dari malam itu adalah ketika berkali-kali Jono mengambil alih mic dan mulai bersapa hangat dengan penonton. For Your Info, Jono adalah seorang ekpatriat yang nama aslinya adalah John. Bisa ditebak bagaimana lucunya Jono ketika dia berbicara dalam Bahasa Indonesia dan berbicara dalam Bahasa Jawa. Gelak tawa penonton menyambut aksen Jono yang aneh dan gila. Sampai pada pukul 22.30 WIB, Gugun Blues Shelter membawakan "Spinning Around Me" yang lagi-lagi di medley dengan "Turn It On". Total Gugun membawakan sekitar 16 lagu mereka dan kebanyang bagaimana puasnya penonton malam itu. Saya sendiri tak habis kagum kepada Gugun dengan skill gitarnya yang luar biasa dan stamina yang luar biasa dalam bernyanyi. Tak salah maka ketika mereka didaulat untuk sepanggung dengan The Killers ataupun Rod Steward. Malam itu saya pulang dengan perasaan bahagia dan takjub akan kualitas musik Indonesia yang mencengangkan.
Bowie I
Bowie II
Gugun I
Gugun II
Jono I
Jono II

Saturday, 26 November 2011

Bangkutaman: Balaikambang Taman Sesungguhnya

Grup Folk asal Jakarta, Bangkutaman, kembali menyapa para penggemar musik cutting edge Kota Solo. Tak terasa hampir 2 tahun kedatangan mereka terakhir pada acara Jangan Marah Record Tour, kini Bangkutaman kembali unjuk gigi. Masih dengan nuansa yang sama namun perbedaanya ini adalah mereka datang setelah merilis Ode Buat Kota yang menjadi album ke-3 mereka.

Bangkutaman membuka pertunjukan dengan melantunkan Alusi. Cukup banyak yang menyanyikan dan tak tampak panas menghalangi niat para penggemar Bangkutaman untuk maju merapat. Lagu ini serasa mengingatkan kita untuk tidak sombong dan merasa diri kita adalah kebenaran tunggal.

Usai Alusi dan Bang Wahyu Nugroho alias Acum bercerita ini adalah pertama kali Bangkutaman tampil ditengah taman yang benar-benar taman. "Ini nih taman, pohon-pohonnya rindang dan rumputnya banyak yang hijau ..." ujar vokalis yang selalu menggunakan penutup kepala ketika sedang tampil bersama Bangkutaman.

Dan untuk menutup atraksi mereka yang kurang lebih berdurasi 30 menit, Bangkutaman menyanyikan lagu Catch Me When I Fall yang dimedley dengan Ode Buat Kota. Kontak paduan saran terbentuk melantunkan dua lagu andalan dari bangkutaman ini. Terasa dengan hikmat bagaimana kedua lagu ini dinyanyikan dan benar-benar terasa keintiman dari setiap penonton.

Meski Bangkutaman on stage pada pukul 13.00 namun mereka tetap tampil dengan maksimal meskipun terasa nanggung bagi penonton karena mereka hanya tampil dengan membawakan sekitar 5 lagu dari album Ode Buat Kota. Saya sendiri menunggu She's Burn The Disco dan Satelit namun apa daya waktu yang diberikan panitia benar-benar pelit. Akan tetapi setidaknya mendingan ketimbang tidak sama sekali. Semoga Lekas rampung album ke-4 dan kembalilah ke taman yang akan menyambut kalian.
Bangkutaman

Dedyk E. Nugroho

Mada

Wahyu Nugroho

J. Irwin

Sunday, 23 October 2011

Adhitia Sofyan @ SGM

Adhitia Sofyan II
Adhitia Sofyan I
Salah satu biduan pria yang bersuara emas, Adhitia Sofyan, akhir pekan lalu (22/10) sukses membius  Penonton disalah satu kawasan berbelanja di Slamet Riyadi. Pria yang terkenal dengan lagu Adelaide sky itu menyambangi Kota Solo dalam rangka sebagai brand ambassador dari salah satu forum di dunia maya. Dengan gitar akustik dan iringan keyboard, Adhitia Sofyan cukup menyita perhatian para pengunjung yang hendak masuk kedalam kawasan berbelanja tersebut.

Pria berkacamata tersebut cukup senang bisa bermain di Kota Solo, pasalnya dia akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya. Adhitia Sofyan pun senang dengan crowd yang menonton pertujukannya dikarena meskipun Solo malam itu terguyur hujan cukup lebat, namun penontonya cukup banyak yang datang hanya untuk sekedar menyaksikan penampilan adhitia sofyan.

Adhitia Sofyan bernyanyi hampir selama 1 jam dengan membawakan beberapa lagu dari album pertama dan keduanya. Tak hanya membawakan lagu-lagu karyanya saja, dia pun turut menyanyikan beberapa lagu anak-anak seperti "Dimana-mana Hati Ku Senang" dan "Hujan". Tepat pukul 20.00, Adhitia menutup penampilannya dengan hits yang berjudul Adelaide sky.

Monday, 19 September 2011

Rock In Solo: Herritage Metal Fest 2011

Setelah tahun lalu Rock In solo Sukses memanaskan para metalhead di Kota Solo, kemarin, 17 Sept. 2011, Rock In Solo kembali hadir mengguncang Alun-Alun Utara Kota Solo. Dengan Bertemakan Herritage Metal Fest 2011, Solo serasa di bakar oleh musik-musik metal yang sangat menggelegar dan membahana sepanjang Hari.

Acara yang di gagas oleh The Think, sukses memanaskan Kota Solo sedari pukul 09.30 sampai 01.00. Tak tanggung-tanggung pula, line up yang berbaris dan berbahaya pun di hadirkan dengan 4 stage yg berbeda menghentak sedari awal. Ditambah dengan line up band-band besar kelas dunia semacam Burgerkill, Isthar, Katalysm, Deranger, Oathen, serta headline tahun ini Death Angel.

"Saya Berharap suatu hari nanti Rock In Solo akan sebesar Wacken di luar sana" Tukas Victor Juliano selaku orang penting yang berhasil Menggas acara ini.

Rock In Solo: Herritage Metal Fest 2011 tak hanya berisikan dengan musik Metal saja namun acara kali ini sarat akan kebudayaan Solo. Terbukti dengan pemilihan Alun-alun sebagai Venue, melibatkan Kraton Kasunanan di acara kali ini, serta mempromosikan Kota Solo kepada penonton sebagai Kota yang bersahabat dan layak untuk di kunjungi. Bahkan Rock In Solo: Herritage Metal Fest 2011 ini direstui dan dihadiri oleh banyak pejabat penting Kota Solo. Bapak Joko Widodo (Jokowi) pun hadir mengenakan kaos Lamb Of God dan berdiri pada barisan terdepan untuk menyaksikan Katalysm dan Death Angel. "Saya berharap sih kalo panitianya mampu di datangkan Metallica." Harap Pak Jokowi ketika ditanya harapan kedepannya Rock In Solo.




*Foto menysusul

Tuesday, 26 July 2011

Pure Saturday: Kesenangan Di Hari Sabtu!

Band pop indie legendaris asal Bandung, Pure Saturday, sukses menarik atensi para penonton di Java Rocking Land 2011 hari ke-2. Bermain pada schedule paling akhir di J.U.M.P. Stage tak mengurangi animo para penonton untuk menyaksikan salah satu pioner musik indie di Indonesia. Luar biasa dan sungguh penuh dengan kesenangan yang dihadirkan oleh band Pure Saturday.

Pure Saturday memulai aksinya pukul 00.15, telat 15 menit dari jadwal yang ditentukan, membuat band pop ini cukup laris dikunjungi oleh para hadiri Java Rocking Land 2011. Mereka bermain disaat The Cranberries membawakan "dreams" yang merupakan lagu terakhir dari set list mereka. Satrio CS membawakan "Buka" sebagai lagu pertama kalian sekaligus beer di tangan sebagai tanda saatnya untuk menikmati malam itu. Serasa sudah menjadi bagian dari diri disetiap penonton, "Buka" langsung disambut oleh koor masal para penonton yang rata-rata sudah bukan anak belasan tahun.
Satrio NB
Terbentuk pada tahun 1994 dengan formasi saat ini Satria NB (vokal, gitar), Aditya Ardinugraha (gitar), Yudistira Ardinugraha (drum), Ade Purnama (bass), dan Arief Hamdani (gitar) tetap menjadi primadona di acara Java Rocking Land disetiap panggungnya. Terbukti dengan 3 kali penyelengaraan festival rock terbesar se-Asia Tenggara ini, Pure Saturday selalu hadir mengisi panggung-panggung yang disediakan oleh panitia.

Set List Java Rocking Land 2011
Menggebrak J.U.M.P. Stage dengan lagu-lagu lawas terbukti dapat membangkitkan adrenalin crowd untuk selalu mendekat dan menambah masa. Kemudian, secara pribadi, set list ke-4 dibawakan "Di Bangkutaman" yang notabanennya adalah lagu requestan saya pribadi membuat para penonton pecah dan berteriak dengan lantang seolah mereka sudah lama tak bertemu dengan Pure Saturday. Pada kesempatan kali ini pun, Pure Saturday membawakan banyak lagu baru mereka. "Kita memang sedang melakukan banyak hal dengan lagu-lagu baru sehingga semoga saja tahun ini bisa rilis album baru, atau kalo tidak yah di tunggu saja tahun depan lagi." ujar Satria sambil berseloroh. Pagi itu 24 Juli 2011, Pure Saturday menutup aksi mereka dengan "Kosong" sebagai senjata pamungkas mereka. Semua berdansa, semua berkaraoke, semua berteriak, dan semua melepas kesenangan mereka.

Seperti namanya, Pure Saturday, mereka tahu bagaimana caranya bersenang-senang diakhir pekan. Menghadirkan aksi panggung yang bersahaja, dekat crowd, serta kelakuan Satria yang mengundang gelak tawa disambut riuh para Pure People (sebutan para fans Pure saturday). Tak salah ketika memberi nama band ini Pure Saturday, mereka selalu tahu bagaimana cara bersenang-senang di hari Sabtu.


Note:
Ini pertama kali gw nonton Pure Saturday dan terima kasih telah membawakan lagu request-an saya di twitter "Di Bangkutaman".

Saturday, 23 July 2011

The Cranberries: Java Rocking Land 2011

Super band asal Irlandia, The Cranberries, sukses melululantahkan panggung utama Java Rocking Land 2011 hari ke-2. Tak kalah dengan 30 Seconds To Mars di hari sebelumnya, mereka mulai naik keatas panggung tepat pada pukul 23.00 WIB dengan langsung menggebrak dengan "Analyse". Kontan seketika penonton langsung bergemuruh mendengar hit single dari album ke-5 The Cranberries "Wake Up and Smell the Coffee".

by: Vivanews.com/Muhamad Solihin
Band yang terbentuk pada 1989 tersebut tampil utuh dengan empat personelnya, yakni Dolores O’Riordian (Vokalis), Noel Hogan (Gitaris), Michael Hogan (Bassist), dan Fergal Lawler (Drummer). Sebelumnya The Cranberries yang sebelumnya diisukan bubar karena hengkangnya Dolores hanyalah rumor belaka. Dolores Memang sempat membuat solo project dan para personil lainya sibuk dengan urusan mereka namun sebenarnya mereka tidaklah bubar. “Kami menerima banyak email berkaitan dengan kabar cerainya Dolores dengan The Cranberries. Ini seperti kejadian pada 1994/1995.” mengutip pernyataan The Cranberries di website resmi mereka.

Malam itu The Cranberries tampil memukau para penonton dengan aksinya yang luar biasa maksimal. Goyangan badan Dolores serta permainan yang rapih membuat penonton hampir selalu ikut bernyanyi sepanjang konser berlangsung. Animal Insting, Linger, Ode To My Family, dan Salvation menjadi lagu favorite para pengunjung Java Rocking Land 2011. Sempat setelah lagu ke-15, Zombie, para personil The Cranberries meninggalkan panggung sejenak untuk meningkatkan adrenalin para penonton namun tak perlu terlalu lama meninggalkan, The Cranberries kembali dengan "Promises" dan menutup malam dengan "Dreams".

Sebuah fakta menarik dalam konser The Cranberries. Sebelum The Cranberries naik keatas pentas, Che dari Cupumanik naik ke atas pentas dan meminta para penonton, yang sedianya menunggu aksi dari Dolores dan cs, untuk menyanyikan lagu "Indonesia Raya". Sebuah kebanggan dan aksi yang luar biasa ketika nasionalisme masih menjadi pucak tertinggi dari sekian banyak gempuran internasional.

Song list:
  1. Analyze
  2. Animal Insting
  3. How
  4. Dreaming My Dreams
  5. Linger
  6. Ode To My Family
  7. Put Me Down/Wanted
  8. Tomorrow
  9. Playboys
  10. Can't Be With You
  11. Waltzing
  12. Free To Decide
  13. Salvation
  14. Ridiculous
  15. Zombie
  16. Promises
  17. Dreams

Saturday, 16 July 2011

Mocca: Annebele And The Music Box

Indonesia telah menjadi sebuah surga musik bagi rakyatnya sendiri dan mungkin di Asia Tenggara. Begitu banyak invansi artis dan musisi mancanegara kelas dunia menyambangi negara jambrud khatulistiwa. Bisa kita sebut Maroon 5, Justin Bieber, Bruno Mars, bahkan akan banyak lagi yang akan menghibur Indonesia. Akan tetapi serbuan bala musisi mancanegara ini tak menyurutkan musisi lokal ini untuk berkarya dan kehilangan penggemar. Terbukti Mocca yang mengadakan last konser yang bertajuk Annebele And The Music Box dapat menyuguhkan konser yang sangat berkelas dan tak kalah dengan artis-artis mancanegara lainnya.

Annebele And The Music Box merupakan last konser sebelum Mocca vakum untuk waktu yang belum ditentukan. Mocca yang motori oleh Indra (Drumer), Toma (Bass), Rico (Gitar), serta Arina (biduan / flute) berencana akan vakum dikarenakan Arina akan menetap di Negeri Paman Sam guna mengikuti calon suaminya. Pernikahan Arina pun seyoganya akan dilaksanakan September 2011. Bukanlah Mocca apabila mereka hanya menampilkan hal-hal yang biasa aja. Dalam konser terakhir mocca ini, mereka mengusung kabaret sebagai bentuk konser terakhir. Dibantu oleh tim Theater SMA Negeri 7 Bandung, Mocca menyajikan sebuah konser tunggal yang luar biasa dan mungkin pertama pula di Indonesia. Annebele And The Music Box pun digarap habis-habisan maksimal oleh Krux Haus sebagai konseptor dan Mlive sebagai promotornya. Kemaksimalan konsep ini pun dipasang sampai batas maksimal ketika dibantu oleh segenap musisi handal Indonesia yang siap menjadi kawan di atas panggung. Bisa kita sebut Ade Firza Paloh (Eks Sore), Mondo Gascaro (Sore), White Shoes and The Couples Company, float, dan Endah & Rhesa. Kemudian jalannya kabaret ini dipandu oleh 2 orang yang memang ahli bersilat lidah yakni Soleh Solihun (Rolling Stone) dan Agus Ringgo Rahman.

Acara yang sedianya dimulai pukul 20.00 WIB ini sedikit mundur menjadi pukul 21.00. sedikit membuat panas udara venue dan penonton mulai terlihat tidak sabar menunggu. Beruntung kemudian pukul 21.00 acara dimulai dengan memutar sebuah video klip terbaru dari Mocca dan lantas acara dibuka oleh kedua story teller Soleh Solihun dan Ringgo Agus Rahman. Keduanya menceritakan bagaimana cerita dari Kabaret Annebele And The Music Box. Tak selang setelah Theater SMA 7 Bandung beraksi, Mocca muncul dengan lagu pertama mereka "Dream". 21 tembang Mocca sajikan kurang lebih 2,5 jam. Berbagai atraksi luar biasa dihadirkan dalam Kabaret Annebele and The Music Box ini. Pada lagu "This Conversation" Mocca berkolaborasi dengan Ade Firza Paloh dan Mondo Gascaro, Kemudian "Me And My Boyfriend" kian romantis dengan kahidran pasangan Endah & Rhesa yang memang romantis adanya, lantas "The Object Of My Affection" Arina diringi oleh Float, dan klimaks kejutannya adalah ketika Mocca dan White Shoes And The Couples Company saling bertukar vokalis pada lagu "What If" dan "Senandung Maaf". Annebele and The Music Box sangat jelas memanjakan dan sebagai kado perpisahan yang sangat indah bagi Swinging Friend (sebutan untuk fans Mocca). Sebuah ganjaran dari Mocca bagi Swinging Friends yang selalu mendukung Mocca Selama 12 Tahun Mocca berkarya.

Pada akhirnya semua yang dimulai haruslah berakhir. Mungkin Mocca Last Concert bukanlah akhir dari perjalanan Mocca namun dapat kita katakan mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Semoga Arina Bahagia ketika menikah kelak dan semoga semua personil Mocca kian sukses. Tak adalah sebuah permohonan tertinggi selain semoga Mocca kembali bersama.

Set List:
  1. Dream
  2. Happy
  3. This Conversation
  4. I Think I'm in Love
  5. Secret Admirer
  6. Me and My Boyfriend
  7. The Best Thing
  8. Listen To Me
  9. The Object of My Affection
  10. Let Me Go
  11. Only One
  12. Dear Diary
  13. Hyper ballad
  14. I Would Never
  15. What If
  16. Senandung Maaf
  17. I Remember
  18. Do What You Wanna Do
  19. Swing It Bob
  20. Lucky Me
  21. Tanah Airku
  22. How Wonderful Life Would Be
  23. Tomorrow
  24. Life Keeps on Running

Thursday, 9 June 2011

Maliq and D'Essentials: Sebarkan Cinta Di Tanah Bengawan

4 Juni 2011, Sabtu yang cukup menyenangkan dan membuat sedikit nostalgia bagi saya pribadi. Pagelaran musik dan riuh suasana mungkin akan sedikit melipur rasa rindu saya akan kampung halaman. Obat pelipur rindu itu adalah Maliq and D'Essentials. Hari ini adalah tanggal dimana Maliq and D'Essentials berkunjung dan mengadakan konser di Sritex arena. Acara ini diadakan sebagai puncak perayaan Dis Natalis sebuah sekolah tinggi di kota Surakarta. Sebuah contoh yang patut ditiru oleh salah satu Universitas Negeri di Kota Surakarta dalam menyambut Dis Natalisnya. Acara yang digelar pun sangat sederhana dan tak ada ritual-ritual sakral sepanjang acara ini berlangsung. Full Entertaiment and have fun along this party.

Twinkle Twinkle
Acara dimulai pukul 19.30 dengan Mc yang tak cukup panjang lebar berorasi memulai acara. langsung saja MC memberikan mic untuk band pembuka pertama Twinkle Twinkle. Band asli Kota Surakarta yang beranggotakan Andila (gitar), Darryl (drum), Alpin (vokal), Fajar (Gitar 1), Franco (Gitar 2) kontan memulai aksi mereka dengan membawakan lagu mereka sendiri. Band pop ini cukup energik dan tampak bersemangat dalam memulai aksi pertama mereka. Bermodalkan 5 lagu, 2 diantaranya adalah lagu dari Nidji dan Bruno Mars, cukup memanaskan telinga para hadirin dengan sound system yang telah disediakan. Tak sampai disitu saja, sang vokalis yang mengenakan jaket ditengah panasnya ruangan acara cukup rajin berlari-lari mengahampiri para penonton untuk sedikit bernyanyi bersama. Sebuah semangat dan stamina yang luar biasa bagi Alpin sang vokalis.

Little Bee
Usai Twingkle Twingkle memanaskan indera pendengaran penonton, langsung dihajar oleh band pembuka selanjutnya yang beraliran Jazz yakni Little Bee. Band dengan 11 personil ini dapat dibilang sukses dalam membuka acara Dis Natalis.  Arransmen yang rapih, suara vokal yang baik,  vokalis yang good looking, dan pemilihan lagu yang tepat menjadi kunci sukses Little Bee menaklukan hadirin yang sedari tadi menunggu Maliq and D'Essentials. Tak perlu menunggu Little Bee kelar on stage ataupun sang vokalis meminta tepuk tangan, para hadirin dengan tulus memberikan tepuk tangan yang meriah setelah mereka membawakan lagu pertama Payung Fantasi yang di populerkan oleh Hendri Rotinsulu. 5 lagu mereka daulat untuk mengisi penampilan mereka dan tepuk tangan riuh penonton selalu menemani penampilan mereka.

Gamelan Jazz
Setalah menikmati indahnya alunan musik Jazz ala Little Bee maka kita disuguhi oleh sajian musik tradisional berbalut kontemporer. Sebuah penyajian musik yang luar biasa kreatif dan atraktif dengan menggabungkan musik tradisional dengan musik disko. Hasil perpaduan ini menciptakan sebuah persepsi dibenak dan sebuah tamparan yang cukup panas bahwa alat-alat musik tradisional dapat dikolaborasikan dengan musik kontemporer dan perpaduan ini sangat berbahaya. Bermodalkan Jimbe, Gendang, Ketipung, dan alat musik tradisional lainnya sekumpulan orang yang menamakan diri mereka Gamelan Jazz berhasil menyihir panca indera para hadirin dan decak kagum dengan tingkatan klimaks. Penampilan akhir mereka ditutup dengan sempurna saat Gamelan Jazz berkolaborasi dengan Maliq and D'Essentials membawakan Heaven.


Maliq and D'Essentials
Tak perlu waktu lama bagi raja panggung malam ini, Maliq and D'Essentials, menaklukan acara ini. Ketika Lale, gitaris Maliq and D'Essentials, naik panggung maka luluh sudah hampir seluruh wanita di acara ini. Takala seluruh personil Maliq and D'Essentials sudah siap dan berkolaborasi dengan Gamelan Jazz, kontan pecah sudah Sritex Arena dengan riuh tepuk tangan dan teriakan histeria. Sing along sudah terjadi sejak awal lagu Heaven dinyanyikan. Usai Heaven ditembangkan, sedikit surprice diberikan D'essentials Team Solo kepada idola mereka yakni berupa kue tart sebagai ucapan anniversary Maliq and D'Essentials ke-9. Layaknya sebuah batrai dengan double power, usai selebrasi dadakan, Maliq and D'Essentials langsung mengajar dengan 3 tembang mereka yakni Blow My Mind, The One, dan Kangen. Kembali pecah venue ketika Angga, vokalis, mengahampiri para penonton yang berada di tribun. Semangat dan Stamina yang luar biasa Maliq and D'Essentials menyuguhkan atraksi panggung yang sangat aktaktif, intim, dan menghibur. Sebuah sajian panggung dan stage act yang patut ditiru oleh musisi lain bagaimana cara menguasai panggung dengan baik. Selain lagu-lagu diatas, Maliq and D'Essentials pun membawakan hits-hits mereka yang lain layaknya Coba Katakan, Menari, Free Your Mind, Dia, dan Untittled yang secara khusus di request oleh D'essentials Team Solo. Mungkin tiada kata yang paling pas menggambarkan kesenangan dan kepuasan penonton dengan kata "ORGASME". Sudah tak dapat ditampung segala rasa euphoria kesenangan dan meluap-luap hingga akhirnya semua bangkit dari kursi yang disediakan dan langsung menuju bibir Panggung. Berteriak, berdansa, menyanyikan Pilihanku, dan melepaskan segala emosi kegirangan menjadi energi tersendiri dalam menutup acara yang memang luar biasa. Maliq and D'Essentials menutup acara dengan sempurna dan meninggalkan kenangan yang sangat indah di Kota Bengawan.


Thanks:
- Yudita Trisnanda
- Nando

Sunday, 3 April 2011

KickFest: The Catton Warriors Strikes Back!! 2011 (2nd day)

Well, this is another clothing exhibition in Yogyakata. Setiap tahun minimal 1x diselenggarakan di Jogja Expo Center. Kick Fest kali ini bertajuk The Catton Warriors Strikes Back!! dan berlangsung dari tanggal 1-3 April 2011. KickFest tahun menurut saya sangat menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Penurunan terjadi karena Brand-brand yang hadir tak begitu banyak, tak begitu banyak alternatif acara seperti tahun lalu, harga tiket yang naik 2rb perak, dan TAK ADA DISKON YANG SINTING! Apakah yang dicari dan dibutuhkan oleh rakyat kecil pas-pasan yang ingin tampil trendis selain KORTINGAN HARGA TAK BERMORAL? Namun sudahlah lupakan itu semua ketika anda membayar Rp. 10.000,- dan melihat para musisi yang hadir di acara kali ini. Sangat sebanding bahkan ini sangat murah. Bisa menyaksikan Burgerkill, Cranial Incisored, Something Wrong, Deadly Weapon, Attack The Headliner, Reason To Die, Spider Last Moment, Hang Out, Efek Rumah Kaca, Jenny, Brilliant At The Breakfast, Koala, The Aline, Quasy, Teman Sebangku, Nada Fiksi, Jogja Hiphop Foundation, Dubyouth, Armada Racun, Serigala Malam, Cacat Nada, Angina, Savior, Perfect Blondie. Lihat Line up ini dan saya rasa inilah kunci kesuksesan acara kali ini. Sepadan dan sangat berbahaya namun dinamis berkelas. Suasana yang dihadirkan dalam acara ini sangat bersahaja dan memikat untuk dirasakan dengan panca indera dan perasaan hati nurani. Banyaknya muda-mudi Yogya yang berkeliaran, dentuman lagu-lagu yang memikat hati, para crew yang ramah, dan sexy dancer mungkin cukup untuk menggambarkan kondisi didalam seperti apa.

Saya telat untuk datang dan hanya menyaksikan outro dari The Aline. Menurut pengamatan saya cukup banyak yang berdiri di depan untuk menyaksikan The Aline dan kebanyakan para remaja belia berkelamin pria yang ingin menyaksikan vokalis dari The Aline yang cukup cantik. Penampilan yang ramah, bersahaja namun energic menjadi semacam andalan The Aline untuk memikat para penonton yang mayoritas duduk dari kejauhan.

Dede ♥ Zummas
Kemudian saya pergi untuk berputar-putar sejenak dan mengunjungi kawan saya, Zummas Rinanda Syifa, yang sedang menjaga salah satu distro, Couster Cattle, dari kota Solo. Kebetulan saya berangkat ke JEC ini bersama kawan lama saya Dede Surya Kusuma yang tak lain merupakan kekasih dari mempelai Zummas ini. Sebenarnya agak sedikit heran juga ketika Dede mengajak saya untuk menonton Efek Rumah Kaca ,namun setalah saya menelaah lebih lanjut akhirnya saya mengerti mengapa itu terjadi. Di KickFest ini pula saya bertemu dengan GM saya di Fiesta FM Dhimas Aryo Sekti Lanang yang sangat penasaran dengan Efek Rumah Kaca. Pertemuan ini sebenarnya secara tidak sengaja karena dia usai futsal, dia penasaran dengan Efek Rumah Kaca, dan akhirnya tuhan mempertemukan kita. Meskipun kami terpisah saat akan menyaksikan panggung namun ini pertama kali  kita bertiga pulang ke Solo dini hari dengan menggunakan bus antar kota jurusan Surabaya. Kami datang dan semua pun senang!

Puas melihat mereka bermesraan, saya kembali menuju panggung dan melihat pernampilan berikutnya oleh Brilliant At The Breakfast. Sebuah band Indie-pop yang menurut saya sangat kreatif. Lagu mereka mengangkat tentang hal-hal kecil disekitar kita seperti tentang sehabat pena, kotak pos, kaos oblong, dll. Selain itu band ini terdapat 2 orang perempuan jenius sebagai motor mereka. Vokalis wanita merangkap pemain bass yang sangat pandai membuat repetoar, dan seorang keyboardist yang senan tiasa mengalunkan nada-nada yang cukup membuat anda mengenang hal-hal disekitar anda. Penampilan yang bersih, minimalis, namun patut anda simak ketika suatu saat anda bersua dengan mereka.



Usai Brilliant At The Breakfast, bibir panggung kian ramai dan berdesakan. Muda-mudi Yogya baik lelaki maupun wanita menuju satu tujuan yaitu panggung untuk menyaksikan Jenny. Jenny bukanlah seorang wanita berparas ayu dan bertubuh sintal menggiyurkan, namun Jenny adalah band rock garage Yogya yang sedang naik daun. berisikan 3 bangsat karib yakni: Roby Setiawan (guitar), Arjuna Bangsawan (bass), Farid Stevy Asta (vocal), serta 1 bangsat kecil Danish Wisnu Nugraha (drummer). 4 lelaki kurus namun sangat terasa kokoh ketika didepan panggung. Kehadiran Roby, Arjuna, Denish yang masuk pertama dihajar dengan riuh penonton yang kian tak sabar untuk melengkuhkan kenikmatan bersama Jenny. Mereka memainkan intro sebagai pemanasan dan terakhir masuklah The Frontman, Farid. Penonton langsung bersorak bersama serempak beraturan berirama dan tak tahu kapan Jenny telah masuk pada lagu pertama. Gimmick dari Farid dan repetoarnya yang cukup provokatif, kasar, namun cerdas sepertinya menjadi ciri khas dari vokalis bertubuh kurus ini. Lagu-lagu mereka seperti The Only one, 120, Menangisi Akhir Pekan, Monster Karoke, Manifesto, Hujan Mata Pisau, dan single terbaru mereka Hari Terakhir Peradaban dibawakan dengan baik. Kekacauan kian menjadi, kian panas, dan menjadi tak menentu saat Farid melakukan Surfing di atas penonton sambil meludah kearah penonton. Bagi yang kerap menonton Jenny, penampilan Farid yang sering meludah adalah hal yang biasa dan ia pun kerap meminta para penonton untuk meludahinya.Penampilan Jenny ditutup oleh Mati Muda yang merupakan lagu pamungkas Jenny. Koor penonton sudah pada puncaknya dan sing along pun tak dapat dihindarkan. Penampilan yang luar biasa dari band Yogya untuk teman pencerita mereka.


Kelar Jenny yang memuaskan Birahi para penonton ternyata tak membuat para penonton kelelahan dan mundur. Berpenuh peluh, pakaian yang berbau keringat, udara yang panas, serta penonton yang sangat rapat tak mengurangi para penonton untuk melewatkan aksi yang mereka tunggu yakni Efek Rumah Kaca. Tak memerlukan waktu yang lama mengeset panggung untuk penampilan Efek Rumah Kaca. Tanpa basa-basi Efek Rumah Kaca langsung saja manggung dan membawakan Tubuhmu Membiru Tragis sebagai pembukaan mereka. Penonton yang telah dipuaskan oleh Jenny tampaknya masih memiliki banyak tenaga untuk bernyanyi bersama dengan Efek Rumah Kaca. Malam itu, Efek Rumah Kaca tak bisa hadir secara full formasi karena Adrian sedang sakit sehingga dia digantikan oleh Hans. Beberapa tembang mereka seperti Sebelah Mata, Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa Dan Hilang, Mosi Tidak Percaya, Kenakalan Remaja di Era Informatika, Hujan Jangan Marah, kesepian, lagu Desember, Balerina, dan Jalang dibawakan namun saya merasa suara Cholil tak sebagus biasanya; Namun ketika penonton sudah senang dan bisa menikmati segalanya, peduli setan dengan segalanya asal tak merugikan! Sebagai penutup playlist Balerina didaulat untuk menutup KickFest 2011: The Catton Warriors Strikes Back!! hari kedua.

 



Thanks to:
- Dede Surya Kusuma
- Dhimas Aryo Sekti Lanang
- Zummas Rinanda Syifa
- Couster Cattle

Sunday, 13 February 2011

Signing book "HABIBIE&AINUN" @Gramedia Amplaz Yogyakerta

5 Februari 2011, Allah Swt. kian menunjukan kebesarnnya dan luar biasa mengabulkan keinginan ku 0ne by one. Setelah awal tahun 2011 ini tuhan mengizinkan hamba-NYA ini untuk bersilahturahmi dengan keluarga di Jakarta dan menghadiahi hamba-NYA kaos Timnas Indonesia, kini giliran Allah Swt. mengizinkan hamba-NYA ini untuk bertemu dengan salah satu Idolanya, Bapak B.J. Habibie, dalam suasana yang luar biasa nyaman.
THC Mandiri selaku penerbit dibawah Habibie Center mengadakan Signing book "Habibie & Ainun" yang akan ditanda tangani oleh Bacharuddin Jusuf Habibie selaku penulis. Acara signing book ini sebelumnya sudah melewati beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya. Kegiatan ini dilaksanakan pukul 14.00 di Gramedia Amplaz Yogyakarta. Pak Pabibie sendiri datang bersama dengan rombongannya yang di sambut oleh team paduan suara yang gw sendiri tak tahu entah berantah dari mana mereka berasal. Sungguh acara yang cukup sepi namun sangat luar biasa antusia yang ditunjukan para penganteri yang ingin bertemu Pak Habibie. Suasana yang menghangatkan meskipun Gramedia adalah kawasan ber-AC.

Pada Acara kali ini, gw ditemani oleh seorang kawan dari Fiesta Fm yaitu Dhimas Aryo Sekti Lanang ( @DhimASL ). Hanya dia yang dapat menemani saya untuk datang ke acara signing book ini. Kami berangkat bersama meskipun berangkat dari tempat yang berbeda. Dia dari Stasiun Balapan dan gw dari Stasiun Purwosari. Kita berjanji untuk berkencan dengan Prameks pukul 10.30 namun apa daya takdir tak bisa dirubah, Mas Dhimas terlambat dan akhirnya kita naik kereta selanjutnya pukul 11.55. Yes, kita turun di Stasiun Maguwo (Bandara Adi Sucipto). Langsung menuju Amplaz dengan Trans Yogya, untung sekali sudah dioperasikan Trans Yogya. Heading to Amplaz dan langsung disambut oleh pemandangan muda-mudi sedang memadu kasih di depan Amplaz. Tapi sudahlah, mereka tak semanarik apa yang akan muncul pada acara kelak di dalam Amplaz. Sebelum ke Gramedia, kami menunaikan Solat Dzuhur sejenak. Lanjut ke Gramedia, Kami membeli buku "Habibie&Ainun" untuk Mas Dhimas dan lantas langsung mengantri. Tak cukup ramai sehingga tak cukup lama untuk bisa berjumpa dan duduk bersama beliau. Benar-benar kharisma dan juaralah aura ketika duduk di sebelah beliau.

Ini salah satu cita-cita yang sudah ditemui dan dihadirkan oleh YANG MAHA KUASA untuk melengkapi salah satu impian. Juara dan tak kan terlupakan!

Thanks to:
Dhimas Aryo Sekti Lanang ( @DhimASL )