Showing posts with label Leon's Labyrinth. Show all posts
Showing posts with label Leon's Labyrinth. Show all posts

Saturday, 25 February 2012

God Save The Pop #6: Jalan Darat Tour 2012 (Solo)

Sebuah tour swadana dengan jadwal padat dan rombongan yang militan tampaknya berhasil mengguncang Solo. Digagas oleh tiga band yang sedang panas diperbincangkan di tahun 2011, yakni Morfem, The Experience Brothers, dan Jude lantas di kemas oleh East Conspiracy sebagai EO dari Jalan Darat Tour 2012. Sesuai dengan namanya Jalan Darat Tour 2012, ketiga band militan ini menggunakan bus untuk menyambangi Kota Solo, Semarang, Malang, dan melangkah ke Bali sebagai tujuan akhir dari tour konspirasi mereka. Hari ini, 24 Februari 2012, Solo menjadi tujuan pertama yang disinggahi.
The Think Organizer didaulat oleh East Conspiracy sebagai penyelenggara di Kota Bengawan ini. Bagi The Think sendiri, masalah pengadaan konser atau pun gigs sudah menjadi santapan sehari-hari dan mereka tampaknya paham betul bagaimana cara untuk hura-hura. Menyambut Jalan Darat Tour 2012, The Think mempersiapkan sebuah acara yang sudah sangat familiar ditelinga anak indies Solo "God Save The Pop". Saat ini God Save The Pop sudah mencapai acara yang ke-6 dan tampaknya akan menyusul untuk seri selanjutnya. Kalo biasanya God Save The Pop bertempat di Taman Budaya Suarakarta, untuk kali ini mengambil venue di Cafe Bola Beteng. Ada kelebihan dan kekurangan dari venue yang kali ini. Kelebihannya adalah tempatnya nyaman dan tak jauh dari pusat kota, namun sisi lainnya adalah tempat yang full AC dengan para pengunjung berkepulan asap nikotin bukanlah kombinasi yang pas di udara, lantas posisi panggung yang sedikit aneh membuat pemain drum tak tampak terhalang oleh TV super besar. Sangat disayangkan tak mendapatkan pemadangan secara menyeluruh namun sudahlah Jalan Darat Tour yang dilabel God Save The Pop adalah acara untuk bersenang-senang, dan terima kasih The Think yang sudah menyelenggarakan acara kali ini.

Untuk membuka senang-senang kali ini, sebuah band asal Kota Yogyakarta, Modern Age, siap untuk dimainkan. Sebuah band Garage Rock yang digawangi oleh Arie (Vocal), Raka (Guitar), Rizky (Bass), dan Henrie (Drum) mulai meraung pada pukul 19.30 WIB. Saya tidak tahu bagaimana persisnya band ini namun dari luar terdengar mereka sempat mengcover The Strokes di awal penampilan mereka. Kurang Lebih Modern Age menyelamatkan musik pop selama 15 menit.

Usai Modern Age, parade band asal Yogyakarta lainnya belum usai. Kini Giliran Suddenly Sunday yang menyelamatkan musik pop. Mungkin bisa dibilang Suddenly Sunday adalah grup super woman karena terdiri atas 3 orang wanita super dan 2 orang lelaki, yakni Dini Yunitasari ( Voc), Adi Wijaya (Guitar), Helmy Febrian (Guitar), Woro Agustin (Bass), Dewi Sarmudyahsari (Drum). Sempat terceletuk oleh Aji, MC God Save The Pop, bahwa Suddenly Sunday adalah Yeah Yeah Yeahs dari kota gudek. Seketika tensi semangat saya meningkat mendengar kata Yeah Yeah Yeahs dan biduan dari Suddenly Sunday sangat aduhai. Saatnya Suddenly Sunday bersenandung dan mendapatkan respon yang cukup apik dari para pengunjung malam ini. Hanya saja ekspresi saya yang terlalu tinggi dimana mereka akan mengcover lagu Yeah Yeah Yeahs tak terlaksana pada malam ini. Akan tetapi overall band ini telah menyelamatkan musik pop sekali lagi.

Usai Yogyakarta yang sukses memberikan kontribusinya kepada musik, kini giliran band asal Salatiga, The Budjang, yang mengambil alih kendali panggung. Sepintas melihat The Budjang, saya teringat dengan band rock and roll asal Solo, Sweet Killer, dalam keadaan beberapa tahun silam. Seterlintas dibenak bahwa panggung akan meraung dan penuh dengan energi yang besar melihat dandanan mereka. Akan tetapi semua musnah dan hilang ketika The Budjang beraksi. Permainan yang tak padu, suara vokal yang lemas, sound yang berantakan, serta stage act di atas panggung yang sangat menyedihkan. Tampaknya para Budjangan ini harus kembali lagi masuk kedalam studio untuk kembali berlatih. Sangat menyayangkan ketika didaulat untuk menunjukan bagaimana scene bermusik dari Salatiga namun yang dipersembahkan tak seperti yang harapkan.

Kini saatnya tuan rumah mengambil alih acara yang diwakili oleh The Leon's Labyrinth. Tak perlu banyak kata untuk memperkenalkan The Leon's Labyrinth yang notabennya kini kian rajin menjamah panggung-panggung di Kota Solo. Seperti biasa dengan tenang namun pasti, The Leon's Labyrinth kembali menyihir God Save The Pop dengan pesonanya. Mungkin dari 4 band pembuka God Save The Pop kali ini, The Leon's Labyrinth merupakan penampilan yang terbaik. Baik secara sound, stage act, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan penonton. Bagi yang belum paham siapakah The Leon's Labyrinth, mereka adalah sindikat jahat Pop/Rock asal Solo yang bermuatan Yanu N Wibisono (Vocal), Mega Rio Pandu (Drums), Sifak Ulkarim (Bass), dan Arya P Sularto (Guitar). Influence dari The Leon's Labyrinth berasal dari Snow Patrol, U2, The Police, Sting, Queen, Cold War Kids, Kasabian, Goo Goo Dolls sehingga akan akan tahu betapa jahatnya musik mereka di telinga.
Jude
Ramah tamah para band pembuka kini telah usai dan saatnya untuk menuju pada prosesi sakral dari acara God Save The Pop yakni Jalan Darat Tour 2012. Prosesi kali ini dimulai dengan menghadirkan Jude untuk membuka Jalan Darat Tour 2012. Jude adalah line up Jalan Darat Tour yang bernuansa paling Vintage dengan bernuansa Pop/Rock ala 60′s dan 70′s. Jude beranggotakan Lukman SW (Drums), Yehezkiel Tambun (Vokal, Gitar), Kaneko Pardede (Keyboards, Vokal), dan Johannes Hutagaol (Bass, Backing Vokal). Mereka telah merilis album perdana pada tanggal 11 Januari 2011 berjudul "Apapun Itu EP" dan  SOLD OUT. Berdandan dengan ala 60's-70's dan tampaknya mereka sangat terasuki dengan sound-sound khas pada masa itu. Jude menggeber panggung sekitar pukul 9 malam dan langsung memainkan 2 lagu yang mereka medley. Hampir semua lagu di Apapun Itu EP mereka bawakan dan riuh tepuk tangan mengiringi Jude selama pertunjukan mereka. Saat ini Semua Sama menjadi lagu penutup Jude malam itu yang merupakan lagu yang hanya ada di album Apapun Itu EP (repacked) yang dicetak khusus untuk Jalan Darat Tour 2012. Secara overall penampilan Jude sangat menyenangkan namun entah kenapa ending pada lagu terakhir terasa gantung dan anti klimaks.
The Experience Brothers
Jalan Darat Tour masih berlangsung dan saatnya The Experience Brothers menunjukan tajinya sebagai duo Modern Psychedelic Rock Blues yang paling berbahaya dari Timur Jakarta. Meski hanya beranggotakan dua orang kakak beradik Bram Saladdin dan Daud Sarassin, bukan menjadi penghalang bagi The Experience Brothers untuk memborbadir God Save The Pop malam itu dengan rentetan drum dari Daud, dan slide-slide gitar Bram. Terbukti dengan deru musik Psychedelic Blues yang mereka sembahkan, para penonton yang sedari anteng di belakang perlahan mulai maju kedepan dan bernyanyi bersama. Gimmick yang cukup ekspresif serta celotehan Bram tampaknya cukup membakar gairah pengunjung. Beberapa lagu The Experience Brothers semacam Stompbox, She’s alright, Young men, Kiss My Ass, dan Killer Eye Contact disapu habis oleh para penonton untuk dinyanyikan bersama. Mengesankan sekaligus Bringas menjadi komentar terhadap kakak beradik The Experience Brothers.
Morfem
Morfem
Morfem
Jam di tangan sudah menujukan pukul 23.00 WIB dan ini adalah saatnya Jalan Darat Tour 2012 mencapai titik puncak acara. Morfem tak butuh waktu lama dan perbincangan basa-basi untuk memulai tugas mereka. Pandu (gitar), Bram (bass), dan Freddie (drum) langsung menghajar crowd malam itu secara membabi buta dengan kecepatan tinggi. Suara desingan gitar Pandu yang khas tampaknya semacam menjadi tanda sirene bagi penonton untuk maju merapat menyentuh panggung. Sudah rapat dan kepulan asap kian pekik, saatnya Jimi (vox) masuk sebagai orang yang paling ditunggu. Langsung malam itu digeber dengan Who Stole My Bike dan Death Kitchen sebagai salam pembuka malam itu. Seperti biasa ceracau dari Jimi yang spontan dan bertata cukup apik sedikit menghadirkan gelak tawa disela-selalu lagunya. Akan tetapi gelak tawanya tersebut cukup terhapus ketika Morfem secara ajaib membawakan Paranoid dari Black Sabbath dan disambung oleh koor dari barisan belakang yang tak lain dan bukan merupakan barisan para metalhead di Kota Solo. Hampir semua lagu dari Morfem di libas habis untuk dijadikan koor masal dan puncaknya adalah Gadis Suku Pedalaman. Eargasme adalah komentar untuk penampilan band liar dari Jakarta.

Sebagai salam penutup untuk Jalan Darat Tour 2012 Kota Solo, seluruh pengisi acara God Save The Pop naik keatas panggung untuk menyanyikan sebuah lagu lawas dari band Rock and Roll kenamaan asal Surabaya, Dara Puspita. Semua pecah dan semua menyaksikan betapa ramainya panggung di akhir acara, bahkan saya sempat bersama Aji Down For Life menyanyikan A Go Go dari bawah panggung.

Puas dan penuh dengan kesenangan. Seperti biasa The Think selalu tahu bagaimana caranya untuk bersenang-senang. Line up yang mumpuni serta lagu-lagu yang liar sekali lagi berhasil menyelamatkan musik pop di Kota Solo. Meskipun terdapat sedikit kekurangan namun sekali lagi tak ada acara yang sempurna. Namun ada sebuah kekecawaan yang sedikit tertinggal disana, dimanakah para penonton God Save The Pop yang biasanya selalu berjubel dan ramai sesak? Apakah para penonton ini kini pindah ke dunia maya dan puas dengan #Nowplaying? Semoga di acara selanjutnya akan kembali ramai dan lebih chaos.
With Jude
Morfem on my Hall of Fame
Some Merchendise
With Morfem
 Tulisan ini juga dimuat oleh Maximosh & Dean Street Billy's

Monday, 23 January 2012

Interconnection 2: Tour Antar Kota Yang Hangat

Sebuah gigs kecil yang penuh dengan suka cita telah tergelar di Gedung Kesenian Solo (GKS) pada Minggu, 22 Januari 2012. Sebuah acara pembuka di awal tahun yang sangat menyenangkan ketika SRM berkolaborasi dengan Dean Street Billy’s. Awal tahun 2012 ini mungkin sebagai pertanda juga bahwa Solo kian mulai diminati para musisi Indonesia sebagai tujuan pangung bermusik mereka. Interconnection 2 merupakan sebuah tour yang di gagas oleh SRM Management yang bertujuan untuk menyambung silahturahmi bermusik antar Jakarta dengan Solo. Dari Jakarta diwakili oleh Dried Cassava, L’alphalpha, serta Leonardo Ringo. Sedangkan Solo diwakili oleh Sua dan The Leon’s Labyrinth. Ketika menilik line-up yang akan meramaikan acara silahturami ini, maka sudah terbayang betapa luar biasanya acara kali ini.
Poster Interconnection 2
Acara yang semestinya dimulai pukul 14.30 ini mendadak molor untuk waktu yang cukup lama. Listrik yang padam menjadi kendala utama ketika semua band akan melakukan sound check. Tak lama kemudian, hujan lebat mengguyur Solo namun crowd di Solo tidaklah takut dengan hujan, banyak yang berdatangan menuju GKS ketika hujan mengguyur. Tak lebih dari sekitar 70 orang memadati GKS yang merupakan sebuah studio film jaman dulu. Pukul 17.00 sound check usai dan saatnya Interconnection 2 dimulai.
merchandise
Sua menjadi band pertama yang membuka Interconnection 2 pada sore kali itu. Sua merupakan band pop yang lain dari pada lainnya. Ketika band pop pada umunya berbicara tentang cinta, kasih sayang, dan kegalauan risalah hati dengan lirik yang renyah, maka Sua menggebrak paradigma musik pop tersebut. Sua dengan musiknya berbicara tentang alam, kondisi sosial masyarakat kita, serta keluh kesah masyarakat pada umumnya dengan lirik yang penuh dengan tendensi pesan yang berbobot. Lirik-lirik yang mereka gunakan pun cukup berbeda dengan lirik musik pop pada umumnya. Sekilas mendengarkan Sua seperti mendengarkan Iwan Fals dikala muda. 3 Lagu Sua bawakan dan tentu saja ini mendapatkan respon yang cukup luar biasa dari para penonton Interconnection 2. Bahkan di belakang panggung sendiri, beberapa orang dari Jakarta terkesima dan kagum dengan musik Sua.
SUA
SUA
Usai Sua membuka Interconnection 2, kini giliran The Leon’s Labyrinth yang memanaskan tensi penonton. Band pop rock asal Solo yang beranggotakan Yanu N Wibisono (Vocal), Mega Rio Pandu (Drums),  Sifak Ulkarim (Bass), dan Arya P Sularto (Guitar) berhasil menghentak penonton Interconnection 2 dengan musik yang mereka bawakan. Ketika dulu saya pernah menulis The Leon’s Labyrinth merupakan band yang biasa aja, tampaknya mereka malam ini membuktikan bahwa mereka bukan band yang biasa-biasa saja. Penampilan The Leon’s Labyrinth kali ini lebih perkasa baik secara musikalitas dan penampilan mereka. Pada Interconnection 2 kali ini, The Leon’s Labyrinth lebih bersemangat dan sound yang dihasilkan jauh lebih bertenaga. Kemudian distorsi yang mereka hadirkan lebih bersih dan sangat enak di telinga. Sang vokalis The Leon’s Labyrinth, Yanu N. Wibisono, tampak lebih bergairah malam ini. Dengan kacamata gelap yang dikenakan, Yanu tampak selayaknya Jon Bon Jovi sebagai vokalis The Leon’s Labyrinth.
The Leon’s Labyrinth
The Leon’s Labyrinth
Usai sudah 2 local heroes asal Solo memanaskan acara silahturahmi kali ini, saatnya rombongan dari Jakarta yang mengambil alih panggung. Dried Cassava didaulat menjadi pembuka pertama. Band ini berpersonilkan Baskoro Adhijuwono (Vocalist), Nandie Daniel (Guitarist), Bana Drestanta (Bassist) dan Kago Mahardono (Drumer). Dried Cassava merupakan Band alternative Funk Rock yang dijamah oleh Blues, cukup liar dan penuh dengan noise. Tak banyak yang dapat saya ceritakan untuk band ini karena saat band ini bermain saya sedang keluar untuk melaksanakan ibadah Magrib. Tapi berdasarkan pengelihatan saya saat Dried Cassava sedang sound check, band ini akan penuh dengan kejutan sound-sound yang mereka buat berbalut dengan skill yang sangat mumpuni. Dan tampaknya tebakan saya tak salah ketika saya kembali kedalam venue, tampak wajah penonton tampak puas menyaksikan Dried Cassava.
Dried Cassava
Dried Cassava
Dried Cassava
Kini Saatnya L’alphalpha yang saatnya unjuk gigi. L’alphalpha merupakan band yang paling di tunggu oleh crowd Interconnection 2. Mengusung Post Rock yang disentuh dengan shoe gaze membuat band ini sangat patut untuk di simak. Untuk kualitas bagaimana musikalitas mereka, tak perlulah meragukan mereka. Berbagai apresiasi sudah mereka dapatkan, bahkan Singapura pun sudah mereka sambaing. L’alphalpha beranggotakan Herald Reynaldo, Yudishtira Mahendra, Tercitra Winitya, Ildo Reynardian, Byatriasa Ega, dan Purusha Irma. Di Interconnection 2 ini, L’alphalpha membuka show dengan lagu Peace, Completeness, and welfare (Silent). Lagu pertama sukses membuat penonton sing along bersama tanpa menunggu komando. Penampilan L’alphalpha selama Interconnection 2 terbilang cukup baik dengan gimmick Herald dan suara merdu Yayas cukup memukau penonton. Bahkan pada Interconnection 2 ini, L’alphalpha menyanyikan lagu mereka yang sebelumnya tidak dibawakan di Interconnection 1. Sebagai penutup, The Day When Everything Around Us Fall Asleep and We don't Remember How to Awake dibawakan dan gemuruh tepuk tangan membahana di GKS.
L’alphalpha
L’alphalpha
L’alphalpha
L’alphalpha
L’alphalpha
L’alphalpha
Sudah pukul 19.30 dan GKS kian memanas namun geliat penonton tidaklah kurang. Terakhir sebagai penutup pesta malam ini, para penonton yang sedari tadi terduduk kini mereka bangkit untuk menyambut Leonardo. Tak perlu waktu cukup lama untuk set alat, satu persatu anggota band yang dibawa Leonardo mulai mengisi pos-pos mereka. Swing ‘n Jingle menjadi lagu pembuka aksi Leonardo. Sentuhan vokal berat dan beat-beat rock and roll ala Leonardo membuat penonton mulai menggerakan badannya mengikuti lagu. Dan ketika Blatant dimainkan, Leonardo memanggil seorang bintang tamu yang menjadi backing vokalnya, yakni Mian Meuthia. Blatant berhasil membuat penonton bernyanyi dan berteriak dengan lantang. Sepanjang penampilannya, Leonardo tampak tak pernah kehabisan energi untuk terus bergerak, meloncat, dan berdansa dengan Gretsch G5120 kesayangannya. Bahkan ketika penampilannya kian memanas, Leonardo masih suka berceloteh dengan jokes yang membuat perut penonton kian keram. Tak dapat disangkal bahwa Leonardo merupakan salah satu penyanyi di Indonesia dengan Showmanship terbaik. Sebagai penutup acara, Leonardo membawakan Midnight Hooray dan sukses mengajak penonton untuk bernyanyi bersama.
Leonardo Ringo and Band
Leonardo Ringo and Band
Leonardo Ringo and Band
Leonardo Ringo and Friends
Leonardo Ringo and Band
Mian Meuthia
Leonardo Ringo and band
Setlist Leonardo Ringo
Leonardo Ringo and Band
Mian Meuthia
Jam sudah menunjukan pukul 21.00 kurang sedikit dan Interconnection 2 telah usai. Sebuah gigs kecil di Kota Budaya Solo yang sangat intim dan hangat. Sound yang pas-pasan, tanpa berikade, dan semua bisa bernyanyi berbaur bersama tanpa melihat status sosial setiap individu yang hadir disana. Kekurangan tentu saja ada namun semua kekurangan itu tertutup dengan acara yang benar-benar tahu bagaimana cara untuk bersenang-senang. Mungkin di Solo tidaklah banyak acara yang benar-bener penuh dengan tensi kesenang namun Dean Street Billy’s dengan keterbatasannya berusaha menciptakan itu semua. Dengan membuat Interconnection 2, diharapkan Dean Street Billy’s kian berkembang dan membuat scene pop di Solo kian ramai.
W/ L'Alphalpha
CD Leonardo Ringo + Setlist
W/ Leonardo Ringo
CD L'alphalpha + Setlist
 *tulisan ini juga di muat oleh Gigsplay.com

Saturday, 10 December 2011

Rising Pop Rising Town #4: Penyegaran Diantara Penyeragaman

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berceletuk di dunia maya bahwa pensi di Kota Solo sudah layaknya acara musik di tv. Keseragaman ini bukan berdasarkan sekeder penonton yang bergaya layaknya pembantu rumah tangga sedang bekerja ataupun anak SD yang sedang diajari menari, tapi lebih kepada musik yang disajikan. Dari panggung ke panggung, pensi ke pensi, bahkan cerita bermusiknya pun segaram. Band-band yang mengisi pentas seni seakan sudah tidak ada pilihan untuk menampilkan band-band lain. Panggung sudah dimonopoli dan pikiran anak-anak SMA sudah di pasang dengan kacamata kuda. Berbeda genre namun seragam dan itu melulu. Beruntung akhir pekan ini, ada sebuah penyelamatan. Setidaknya menjadi alternatif lain bagi yang bosan dengan yang itu-itu melulu. Rising Pop Rising Town kembali digelar untuk keempat kalinya dan masih dengan venue yang sama De Tree Laweyan.
Poster Rising Pop Rising Town #4
Bagi yang asing dengan Rising Pop Rising Town, gigs ini adalah sebuah bentuk pergerakan underground pop di Kota Solo. Sebuah gerilya band-band Solo dan sekitarnya untuk menunjukan taji bahwa Solo memiliki komunitas pop yang cukup aktif dan berbahaya.Mungkin Gigs yang hangat, saling menyapa, saling support, dan tiada batasan adalah gigs yang sebenar-benarnya gigs. selama ini Solo sedang membentuk diri sebagai salah satu barometer scene musik rock tanah air namun jangan lupa bahwa tidak hanya rock namun pop pun masih ada di Kota Bengawan ini. Berawal dari sebuah scene bersepeda dan kini Rising Pop Rising Town sudah menapaki episode ke-4. Semakin besar dan semakin beringas mengkampanyekan suara pop culter Kota Solo.
Kucing Disco
TIket Rising Pop Rising Town #4 | CD Answer Sheet | Krupuk Rambak Kucing Disco | Stiker Winter Issue

Rising Pop Rising Town #4 terjadwal untuk mulai membuka pukul 7 malam dan sedikit telat adalah lumrah lantas terlupakan. Seperti biasa sebelum masuk membeli karcis seharga Rp. 5000,- perak serta mendapatkan stiker. DI depan tampak terjaja dengan rapi beberapa rilisan band-band yang akan bermain dan saya sempat membeli salah satu rilisan yang dijajakan. Masuk venue sudah dihajar dengan band pertama adalah band tuan rumah Kucing Disco. Band Post Rock yang mungkin paling chaos dan ugalan-ugalan dalam acara ini. Lupakan suara melodi, beat yang terdelay, apalagi sound yang bersih. Full distortion dan stage act yang benar-benar terbuka. Semua dapat bernyanyi dan semua dapat berteriak tanpa ada sekat dan pembatas. Hal yang paling chaos dari band ini adalah merchendise yang mereka bagikan yakni berupa kerupuk rambak, krupuk kulit khas Solo, yang diberlabel band mereka Kucing Disco. Overall Kucing Disco adalah kucing paling berbahaya di Kota Solo.
Usai  Kucing Disco membuat huru-hara, saatnya local hero Kota Solo, Home Alone, ujuk kejantanan mereka. 5 jejaka tangguh menguasai panggung dan bermain lebih bersih ketimbang band sebelumnya. Mengusung rock dengan sedikit nuansa post dan melodic, sudah pokoknya mereka bermain, cukup menarik minat penonton. 4 Lagu mereka bawakan dan tampaknya sudah sangat cukup untuk menangkat tensi penonton, terutama para penonton yang baru saja memasuki De Tree.

Kemudian saatnya salah satu band tandang asal Jakarta pengusung psychedelic grungge, Televisi Hitam Putih, siap mengguncang De Tree. 4 pejantan berutubuh kurus dan dengan berjuta kejutan siap menghajar penonton. Setting alat yang cukup lama sempat menurunkan tensi penonton namun ketika gitar siap, tensi penonton seakan kembali pada titik panasnya.  Kasarnya distori, lirik yang sarkas, teatrikal panggung, serta peralatan bermusik yang dibawa sungguh mencengangkan. Dengan gitar, bass, drum, dan banyak pekakas sederhana yang mereka bawah sungguh mencengangkan. Sound-sound efek yang dihasilkan begitu alami akrab ditelinga. Mungkin dengan suara-suara semacam itu membuat teatrikal yang mereka bangun tampak sangat berhasil mengajak penonton merapat akan bibir panggung.

setelah panggung dikuasai oleh band asal Jakarta, Televisi Hitam Putih, kini saatnya band local kembali memegang kembali crowd Rising Pop Rising Town. Carment kembali bangkit setelah vokalis mereka Wisnu kembali dari entah berantah. Sempat memegang kendali dunia pensi di Kota Solo, tampaknya sisa kejayaan mereka masih terasa dan ditunggu oleh banyak orang. Menurut saya, Carment adalah band post rock dengan sound terbersih malam ini benar-benar luar biasa. Akan tetapi tampaknya faktor umur dan sudah lama vakum dari dunia band membuat penampilan mereka tidaklah segahar beberapa tahun silam. Beruntung Discomatematis masih mampu menaikan tensi crowd malam itu sampai pada titik pecah dan mereka berhasil.

Panggung kembali diambil alih oleh band asal Bekasi, Revolution Pop. Seperti nama mereka, Revolution Pop benar-benar membawa pop kedalam tatanan baru. Musik yang sedikit deep namun berhentak keras membuat fasih penonton untuk merapat dengan panggung. Sekilas melihat personil Revolution Pop tampak biasa saja dan kalem namun tunggu sampai biduan mereka menunjukan batang hidungnya. Anda mungkin akan merasa seperti Robert Smith, Jarvis Cocker, serta Brett Anderson merasuk kedalam tubuh vokalis mereka. Berdansa tiada henti, berteriak, melompat, serta menunjukan gimmick pesakitan membuat mereka merevolusi pop biasanya. Patut untuk disimak suatu saat nanti.

Setelah dari Bekasi, kini panggung diambil alih oleh Answer Sheet asal Yogyakarta. Yogyakarta kota pendidikan dan kota seni. Seniman serta musisi hebat akan selalu bermunculan dari Kota Gudeg ini. Anwer Sheet mengusung musik pop yang benar-benar fresh. Bermodalkan Ukulele mereka sudah bisa menciptakan hamonisasi nada-nada yang sangat lembut, tenang, dan sebagai pengantar untuk menikmati hidup. Tak salah ketika saya membeli CD mereka dan harganya pun cukup fantastis Rp. 10.000,-. Ketika biasanya dengan uang segitu anda hanya mendapatkan kebab, maka kali ini dengan Rp. 10.000,- saya mendapatkan sebuah karya yang luar biasa berkarakter. Berucaplah syukur mereka yang lahir di Yogyakarta dan memiliki talenta berbakat.
Leon's Labyrinth
Leon's Labyrinth kembali mengangkat crowd yang dingin setelah Answer Sheet dengan musik slow rock mereka. Leon's Labyrinth mengingatkan saya akan musik-musik rock jaman dulu semacam U2 dan mereka sungguh menyenangkan. Simple namun memiliki karakter yang berbeda dengan band-band yang telah mengicipi panggung Rising Pop Rising Town #4. Untuk Leon's Labyrinth saya minta maaf karena jujur saya tidak mendapatkan feel untuk menikmati kalian.
Winter Issue
Band puncak kali ini di bawa pengang oleh Winter Issue asal Bekasi. Band brith pop yang memiliki personil seorang wanita nan aduhai ini sangat menarik untuk disaksikan. Suara vokalis utama mereka sungguh bulat serta beat yang up membuat sepanjang penampilan mereka sungguh luar biasa mengoyangkan tubuh. Apalagi dengan aktifnya sang biduan berinteraksi dengan penonton membuat semua merasa nyaman bersama Winter Issue. Sound yang dihasilkan pun cukup segar dan menurut kuping saya yang fals ada beberapa sound yang mirip dengan Radiohead. Akan tetapi memiliki sound yang sama dengan Radiohead atau tidak, Winter Issue benar-benar membahagiakan untuk penonton Rising Pop Rising Town.

Acara berkhir? Yak MC sudah menutup acara tersebut dengan Wasalamualaikum namun sebuah band susulan baru saja hadir dari panggung sebelah. Ketika beberapa hari yang lalu saya galau untuk menonton Carment atau Festivalist, maka di Rising Pop Rising Town mereka datang secara mendadak. Tampaknya gong acaranya memang siap untuk ditabuhkan dan menjadi semacam acara after party Festivalist. Satu hari Dua Festival mereka sambangi. Tampak rajut kelelahan dimuka masing-masing personil namun tampaknya Festivalist tahu bagaimana cara bersenang-senang. 4 lagu, tanpa berikade, full body contact, serta gelak tawa sorak gembira mewarnai panggung Festivalist. Festivalist menutup after party mereka dengan doa "Mati Muda". Sedikit sedih ketika Hari Peradaban Terakhir urung dibawakan namun sudahlah mereka luar biasa malam ini.
With Farid Stevy (Festivalist)
Jam menunjukan pukul 12 tepat dan ini pertanda acara benar-benar usai. Acara ditutup dengan bau asap rokok yang bercampur alcohol, telinga yang berdengung, mata pedas, suara habis, serta kebahagiaan yang tak terhingga. Sebuah gigs yang luar biasa dan benar-benar jarang di Kota Solo. Perlu sebuah apresiasi besar pada acara ini dalam membanggun sebuah scene pop di Kota Solo dan semoga Dean Street Billy's bisa membuat sebuah scene yang benar-benar merangkul band-band pop di Kota Solo.