Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Friday, 9 March 2012

House of Horror Zine #1: Ini Adalah Seni

Sudah tahunan menulis untuk media, dan berbagai media telah tergoreskan. Menulis untuk berbagai media macam untuk electronic, internet, bahkan cetak sudah pernah. Akan tetapi baru sekali dalam hidup, sebuah tuntutan kata demi kata yang dikaitkan dan tertuang untuk media cetak sampai tersentuh oleh jemari kecil yang tak terbiasa untuk bekerja. House of Horror Zine #1 rilis dan mari kita semua mengucap syukur!

Sebuah kejutan untuk menghela nafas dikala hujan menjadi peneman laju kendaraan menuju peraduan. Tergolek sebuah paket di atas ranjang yang sepi. Kiriman dari teman-teman House of Horror yang berupa bacaan berseni. Full seni grafis atau apalah kalian ingin menyebut namun saya akan menyebut ini adalah benda yang berisikan full seni.
House of Horror Zine #1 + Poster + Stiker + 2 pcs gambar berwarna
Artikel Answer Sheet
Artwork sederhana Bangkutaman
Artwork

Sunday, 25 December 2011

Lagu-lagu Nasional, Kian Terlupa!

Melihat anak-anak SD berlari dan bermain kemudian mereka bersenandung layaknya dunia adalah surga bagi mereka. Guratan polos tanpa maksud ataupun tendensi terselubung masih menyinari wajah mereka. Senyum tulus dan kadang tangisan kencang pertanda bahwa mereka masihlah anak-anak yang butuh lidungan. Lindungan dari kedua orang tua, saudara, bahkan lindungan dari negara ini.

Berbicara soal negara, apakah anak-anak kecil ini tahu tentang negara? saya berharap mereka cukuplah tahu bahwa negara kita adalah Indonesia dan kita memiliki lagu-lagu nasional yang luar biasa. Lagu-lagu yang dapat menggubah semangat dan menggetarkan rasa cinta kepada tanah air kita Indonesia. Teringat sebuah momen dimasa kecil saya dimana saya pulang sekolah pukul 12 siang dan berjalan menyusuri rel untuk menuju rumah. Berjalan melewati panas dan keringnya hari tak mematahkan semangat untuk bernyanyi. Sehari-hari saya menyanyikan lagu-lagu nasional semacam Tanah Airku, Garuda Pancasila, ataupun Indonesia Raya. Bahkan terkadang saya menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini yang kini saya sadari liriknya tersebut cukup aneh dan tidak sesuai dengan jaman. Namun sudahlah lupakan lirik Ibu Kita Kartini, lagu-lagu nasional menjadi teman perjalanan pulang.

Sempat berpikir beberapa saat dewasa ini, masihkah anak-anak SD ini tahu dengan lagu-lagu nasional? Invasi musik pagi di pesawat televisi sepertinya tidak pernah membahas tentang hal tersebut. Upacara bendera? saya yakin mereka lebih memilih bersenda gurau ketimbang menyanyikan lagu-lagu Indonesia Raya dan lain-lain. Boys dan Girls band tampaknya saat ini menjadi lagu nasional mereka yang dengan lantang mereka nyanyikan. Belum lagi musik-musik pengumbar syahwat yang kini sedang populer menambah racun dalam dunia bermusik mereka. Apakah itu mendidik? yah tentu mendidik mereka menjadi penerus bangsa yang galau dan penuh hura-hura.

Kemanakah para musisi kita? tampaknya mereka semua sibuk berbicara tentang cinta dan kemalangan nasib mereka sendiri. Menunjukan skill dan gaya mentereng tanpa menghiraukan pesan moral yang mereka ingin sampaikan. Cinta adalah segalanya dan FUCK WITH THE OTHER! Tampaknya pada saat ini lagu-lagu nasional yang menggubah jiwa serta lagu anak-anak yang mendidik sudah menjadi cerita masa lalu yang siap untuk dikirimi karangan bunga kematian. Pada keadaan sekarang ini, Indonesia butuh sosok baru pengganti Pak Kasur, Ibu Sud, AT Mahmud, dan lain-lainya. Orang-orang yang pandai menciptakan lagu dan menaruh pesan untuk anak-anak di negeri ini.

Leonardo Ringo - Tanah Airku

Thursday, 24 November 2011

Penampilan Mengumbar Paha, Lirik Mengumbar Selangkangan

awalnya aku cium-ciuman
akhirnya aku peluk-pelukan
tak sadar aku dirayu setan
tak sadar aku ku kebablasan ...

Lirik di atas merupakan penggalan dari lagu Hamil Duluan yang sempat heboh di dubbing oleh duo Mojang Bandung, Shinta dan Jojo. Usai tenar dibawakan Shinta - jojo, dentangan dangdut ini menjadi lagu kebangsaan bagi hampir disetiap orkestra dangdut di tanah air. Liriknya yang sangat jelas menggambarkan dengan frontal keadaan masyarakat saat ini, ditambah oleh biduan dangdut berdandan aduhai yang membawakan menjadi sebuah magnet bagi para penonton yang mayoritas adalah lelaki. layaknya buaya diberi daging maka berebutlah mereka untuk maju kedepan sekedar untuk berjoget bersama atau sekedar memberikan saweran.

Musik dangdut bukanlah musik yang hina dan saya bukanlah orang yang anti terhadap genre musik ini. Beberapa belas tahun silam, saya termasuk anak kecil yang menikmati musik dangdut. Meggy Z, Evi Tamala, Irfan Mansyur, ataupun Iis Dahlia sudah menjadi sarapan pagi sebelum pergi kesekolah. Lirik yang sangat Indonesia dan teknik vokal yang khas menjadi daya tarik tersendiri. Akar tema dari musik dangdut sendiri adalah keseharian sosial Masyarakat Indonesia sendiri sehingga wajar dangdut menjadi musik rakyat.

Orkes Melayu Sera
Beranjak menuju dewasa ini, dangdut tampaknya sudah berubah menjauh dari bentuk awalnya. Keseharian masih menjadi sebuah pakem mendasar dalam menciptakan tema namun pengemasanya sangat berbeda. Saat ini bernyanyi dangdut tidaklah perlu teknik vokal dengan cengkok dangdut ataupun penggunaan Bahasa Indonesia yang sopan namun Berseni. Cukup suguhkan paha dan dada kemudian bergoyang bak menjajakan diri menjadi pengemasan dangdut masa kini. Belum lagi lantunan kata-kata yang erotis penggugah nafsu syahwat menjadi doa-doa para biduan dangdut agar shownya kian laris dan saweran mengalir deras.  Belum lagi ketika anak-anak kecil yang tak mengerti apa-apa yang mendengarkan lagu ini., racun syahwat mendoktrin otak kecil mereka. Apabila ini adalah pencitraan dari keseharian sosial Masyarakat Indonesia, maka sudah sampai pada tahap semacam inikah keadaan Bangsa Indonesia?

Mengkhawatirkan adalah sebuah tahapan yang sudah dicapai saat ini. Sudah sampai rusak semacam ini kah musik dan selera masyarakat kita? Entah apa yang ada dibenak kalian namun percaya musim semacam ini akan bertahan lama.

Keep absurd and abstrak!

Wednesday, 16 November 2011

Indonesia, Surganya Konser di Asia Tenggara!

"Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman ..." Kolam Susu - Koes Plus
Sebuah lirik yang legendaris dan mungkin hampir semua orang mengetahui lagu ini, namun entahlah bagi generasi sekarang. Sebuah lagu yang berisikan tentang kenikmatan hidup di Indonesia dengan segala kemudahan dan alamnya yang luar biasa. Bagi masa lalu, memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan begitu mudah. Seperti Koes Plus bilang "tongkat kayu dan batu jadi tanaman." Akan tetapi jaman berubah dan saat ini bukan hanya makanan yang makin mudah (re: sulit) didapat, namun konser-konser hebat makin mudah ditemui di Indonesia.

Saat ini para pecinta musik di Indonesia bak melangkah ditanah yang subur akan musik. setiap kaki melangkah akan selalu ada konser-konser musik, baik local maupun manca, yang siap menggebrak dunia konser Indonesia. Beragam genre, musisi, bahkan dari yang tak terkenal sampai kepada musisi yang sudah mencapai tingkatan legendaris hadir di Indonesia.

Awal tahun 2011 ini saja kita sudah di gebrak oleh Four Year Strong dan Set Your Goals, sampai pada musisi legendaris macam Iron Maiden, Janet Jackson, dan Kitaro. Betapa luar biasanya Indonesia menjadi tujuan para musisi Dunia. Crowd bermusik kita yang liar dan beringas menjadi sebuah trend mark tersendiri bahwa tanpa konser di Indonesia mungkin belumlah khatam live performance sang artis tersebut.

Pada 2012, kemungkinan line-up artis yang akan hadir menguras kantong pun kian sinting. Peningkatan? jelas dari segi banyaknya infasi musisi akan meningkat tajam, dari sisi kualitas? saya berani bertaruh akan lebih banyak lagi musisi-musisi absurd yang akan meramaikan. We can say Lady Gaga, Coldplay, or maybe Radiohead. Tak ada yang bisa memastikan peta konser 2012 ini namun prediksi tentu saja akan penuh dengan konser-konser yang akan menguras kantong.

Saran saya mulai dari saat ini adalah MULAI BUDAYAKAN MENABUNG! Kita tak tahu kapan ajal menjemput diri ini, begitu pula dengan kejutan-kejutan yang akan dihadirkan dunia konser di Indonesia. Kita tak akan pernah tahu siapa aja musisi yang akan mengguncang iman, dan begitu pula dengan kocek yang harus diraba. Siapkan dana mulai sekarang dan jangan sampai terlewatkan konser para musisi idola kalian semua. Maybe, they will come tomorrow!


Sunday, 16 October 2011

Youth Movement

Waktu silih berganti, jiwa-jiwa yang kosong kian terisi oleh waktu dan karakter. Semangat adalah bukti kedinamisan jiwa muda akan sebuah tatanan kehidupan baru. Lupakan pertimbangan materi, peluang, ataupun faktor-faktor pendukung selama ini. Movement and act menjadi senjata sebuah pergerakan baru untuk mengubah keadaan yang statis.

Nafas terengal, daya pikir yang sudah lelah, mencari keadaan yang tenang, dan semangat sudah kian pudar menjadi pertanda tua. Layaknya pohon tua yang tinggi menjulang menembus langit dan bergelut dengan kencangnya angin berhembus, mereka tetap tenang dan mencoba bergerak dengan terpaan keadaan. Tidak melawan, hanya menerima.

107.7 FiestA FM Crew
Sudah saatnya yang muda yang bergerak. Bergerilya mencari sebuah angin segar bagi tatanan. Sang Tua bergenerasi menjadi muda. Suntikan energi segar untuk kembali menjalankan apa yang sudah lama terhenti dan teersendat. Semangat, energi, dan pemikiran segar adalah bahan bakar untuk kelanjutan yang lebih baik.

Youth Movement for better life!

Sunday, 2 October 2011

Ada Bom di Rumah-MU, TUHAN!

TEMPO Interaktif, Solo - Sebuah bom bunuh diri meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh yang berada di kawasan Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Satu orang tewas seketika, diduga pelaku bom bunuh diri.

Petugas keamanan gereja, Suharto, menuturkan kejadian tersebut terjadi pada saat kebaktian selesai, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu para jemaat gereja sedang keluar dari gedung dan berada di halaman gereja.

"Pelaku membaur dengan jemaat gereja yang akan keluar," katanya kepada Tempo saat dihubungi melalui telepon, Ahad 25 September 2011.

Dia mengaku tidak sempat memperhatikan pelaku sebelumnya. Namun dia menduga bom tersebut disimpan di tubuh bagian depan. "Perutnya terurai," kata Suharto.

Akibat kejadian itu delapan jemaat dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Oen Kandangsapi, Solo. Sedangkan bangunan gereja tidak mengalami kerusakan berarti.
http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2011/09/25/brk,20110925-358119,id.html (Sunday, 02-10-2011)

Monday, 1 August 2011

Musik Aset Kebudayaan yang Dihiraukan

Alone At Last
Di tengah caruh marutnya segala aspek kehidupan di Indonesia, akan ada selalu sisi-sisi tersembunyi yang terpendam dan siap untuk digali. Banyak hal yang selama ini eksis dan tampak namun tak terasa dalam sendi-sendi kehidupan akibat terkikis oleh keparatnya hidup ini. Sebut saja salah satu aset di negara ini yang terkikis dan kian tenggelam adalah kebudayaan. Ketika kita membahas kebudayaan maka akan sangat luas, dan luasnya cakupan ini mungkin akan lebih banyak terkikisnya ketimbang yang kuat muncul dipermukaan masyarakat. Sesuai minat dan apa sajalah hal yang membuat saya tertarik ini, I'm gonna talk about music. Yess... Music is one of our culture.

Selama ini pemerintah berbicara mengenai kebudayaan yakni segala sebangsa adat istiadat, norma-norma, gerak tari klasik, arsitektur lawas, dan segala sesuatunya yang mengandung nilai bersejarah. Hal-hal tersebut yang kerap dibahas oleh pemerintah seputar kebudayaan membuat sebuah citra dibenak masyarakat bahwa kebudayaan itu adalah hal-hal klasik dan historical. Tak pelak masyarakat tidaklah sadar bahwasanya budaya bukan hanya kepemilikan para orang-orang pendahulu kita saja sehingga lupa bahwa sekarang pun semua orang bisa menciptakan kebudayaan.

Membahas musik, pemerintah nampaknya sebelah mata menghadapi ini. Antara menyadari atau tidak bahwa musik itu hadir dan memiliki masa tersendiri. Bagaimana musik bisa tampak manis dan menjilat pemerintah ketika berisikan sanjungan-sanjungan setinggi langit kepada mereka yang dipertuankan, dan bagaimana musik bisa menjelma menjari sebuah racun yang siap menggerogoti tampak kekuasaan. Mungkin ini sedikit banyak alasan kepada pemerintah agak malas menanggapi masalah musik. Pemerintah mungkin akan menganggap ini sebuah judi ketika memelihara industri musik sebagai salah satu sektor perekonomian, terlebih memelihara sebagai kebudayaan.

Menilik Korea Selatan yang sedang gencarnya mempromosikan musik mereka sebagai salah satu kebudayaan mereka. Efek yang dihasilkan bagai membuat gunung emas yang menggiurkan setiap orang yang menyaksikan. Korea Selatan yang terkenal akan industinya sekarang mulai dikenal sebagai salah satu kiblat bermusik dunia. Racun K-pop (dibaca Korean Pop) menyihir dunia dalam bermusik terutama musik-musik pop yang lucu, lincah, dan menggemaskan ditambah koreography panggung nan ciamik. Berawal sedari menjual musik K-pop sehingga dunia mulai melirik lebih kedalam ada apa saja yang dipunyai oleh Korea Selatan. Meningkatkan pariwisata mereka selaras memperkenalkan kebudayaan mereka yang diagungkan.

Bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah pemerintah mengklaim musik mereka sebagai sebuah aset kebudayaan yang mereka punya? Lekaslah sadar bahwa musik pun bagian musik yang membanggakan Indonesia dan disinilah salah satu kebanggan yang Indonesia miliki.

Thursday, 30 June 2011

Sebuah Doa Dilantunkan bersama "Nama"

Hampir 20 tahun gw mengembara dijejak langkah kerasnya dunia. Berbagai keadaan asam manisnya hidup telah terlewati meskipun tak seluruhnya dapat terselesaikan dengan baik dan menyenangkan. 20 tahun kurang 29 hari adalah sebuah rentang waktu yang mulai mematang untuk sebuah kehidupan. Bersiap menjalani dunia yang lebih keras, lebih berwarna, lebih berliku atau bahkan kian terjal siap menghadang. Hampir disetiap langkah dalam menghadapai itu semua, selalu melingkar dalam diri gw sebuah doa yang senantiasa mengiri kemana diri ini akan melangkah. Doa yang sudah tercipta semanjak gw hadir didunia ini dan diciptakan oleh ke dua orang tua gw. Sebuah doa yang menjadi identitas dan doa adalah nama.

Di era masa kini mungkin tak banyak lagi mereka yang bangga dengan nama asli mereka. Entah untuk  merahasiakan jati diri, sebuah tuntutan kamuflase, atau mungkin karena mereka malu untuk memperkenalkan nama mereka. Ada apakah dengan nama mereka? Apakah sebuah nama yang disematkan oleh kedua orang tua terlalu hina untuk diberitahukan? Mencoba mengganti dengan sebuah nama yang tampak keren namun ternyata tak semendalam yang mereka punya. Ketika diri sendiri mencoba membuat nama dengan berisikan doa-doa yang luar biasa tak mengapalah biar itu terlontar, namun fenomena dunia remaja seakan melupakan pakem dalam membuat nama yakni lantunan doa dan harapan kepada YANG MAHA PENCIPTA. Pernahkah kalian bertanya atau sejenak memikirkan arti mendalam dari nama-mu?

Nama saya adalah Ekawan Raharja. "Eka" berarti satu atau pertama dan "Wan" adalah lelaki. Ketika ini digabung menjadikan sebuah arti anak pertama. Namun doa yang dipanjatkan oleh kedua orang tua saya tidaklah hanya sekedar rasa syukur kepada Allah SWT namun terbersit sebuah harapan saya menjadi sebuah seseoarang yang kelak menjadi #1, terbaik, dan berusaha menjadi yang terbaik diantara semua. Berkat nama ini pula saya mewarisi kedua sifat kedua orang tua gw yang serasa sadar atau tidak sangat berpengaruh saat ini.
Bagaimana dengan anda? Sudahkan anda mengetahui lantunan doa apa yang tersirat pada namamu?

Monday, 30 May 2011

Straight Edge: Youth Movement For a Better Life

Sepanjang berjalannya waktu dan dunia yang terus berotasi pada sumbu utamanya, terjadi berbagai hal kemajuan dan kemunduran sebagai penghias kehidupan ini. Meskipun tak bisa ditampik bahwasanya kemunduran lebih dominan ketimbang kemajuan yang hadir dalam nadir-nadir kehidupan. Kemunduran tak usahlah kita bahas satu persatu karena sampai kau kehabisan gasoline pun tak akan habis kemunduran masyarakat yang dapat ditelaah. Membahas kemunduran sama saja dengan membicarakan buruknya tatanan dunia dan busuknya kehidupan yang sangat membuat kita bagai bangkai di tengah tanah lapang yang luas. Sedangkan kemajuan adalah sedikit air di padang yang tandus dan emas ditengah perkotaan yang matrealistis. Salah satu kemajuan yang ingin saya bahas ini adalah Straight Edge.

Beberapa hari yang lalu ketika membuka lini waktu dan melihat banyak sekali orang-orang yang memberikan imbuhan dan akhiran namanya dengan huruf X. Ada apakah dengan huruf X? Apakah ini sebuah lambang penunjuk identitas sesuatu? Ketika saya bertanya kepada salah seorang yang menggunakan huruf X pada awal dan akhiran namanya, dia hanya bisa menjawab ini adalah tanda Straight Edge. Dia hanya menjelaskan hanya pada sampai 12 huruf tersebut dan tak bisa menjelaskan apakah itu Straight Edge. Ironis ketika dia mencoba mengikuti sesuatu dan tak mengetahui dengan pasti apa yang diikutinya. Salah satu budaya buruk yang biasa saya sebut posser/alay, hanya bisa mengikuti tampa tahu dengan jelas apa yang diikutinya.

Straight Edge adalah sebuah gaya hidup yang intinya berkutat gaya hidup sehat. Tidak mengkonsumsi narkoba, tidak melakukan sex bebas, tidak meminum alcohol, bahkan tidak merokok. Pada penganut gaya hidup ini percaya bahwa mereka akan hidup lebih baik tanpa itu semua. Mengontrol kehidupan mereka agar mereka tidak digrogoti oleh gaya hidup yang membusuk dari tahun ke tahun. Filosofi utama yang dibawakan oleh penganut faham ini adalah penggunaan narkoba terhadap lingkungan sosial dan krisis moral yang bisa menyebabkan hancurnya rumah tangga, bisnis dan khususnya kehidupan anak-anak remaja.

Awal dari Straight Edge adalah lingkungan underground yang kian meliar dan sebelumnya ada kaum hippies yang cukup merajai dunia ini. Drugs, alcohol, sex, bahkan aturan diciptakan untuk dilanggar dan dibual sebagai hiasan belaka. Kebebasan yang tak terbatas merupakan pisau bermata dua yang siap menikam penganutnya tepat di titik pusat kehidupan. Sampai pada tahun 1970 lahirlah sebuah lagu dari Minor Threat - Straight Edge.

Pencetus awalnya gerakan ini awalnya adalah komunitas punk di tahun 70' The Modern Love. Minor Threat kemudian muncul dengan lagu Straight Edge dan sampai saat ini gerakan hidup lurus dan bersih dinamai oleh Straight Edge. Kemudian di tahun 80', terdapat sebuah band punk di Jepang yang menyanyikan Positive Mental Attitude (PMA). Lagu ini pun memiliki nafas yang sejalan dengan Straight Edge yang dicetuskan para pendahulu, dan pada akhirnya PMA pun menjadi sebuah movement bagi banyak masyarakat dunia. Sampai saat ini sudah banyak yang mengadakan seminar tentang PMA yang bertujuan for better life.

Sedangkan huruf X adalah simbol yang paling dikenal dari Straight Edge, yang umum dipakai sebagai tanda di punggung kedua tangan, tetapi bisa juga ditampilkan pada bagian tubuh lainnya. Beberapa pengikutnya dari Straight Edge ada juga yang dimasukkan simbol ke dalam pakaian dan pin. Menurut sejumlah wawancara yang dilakukan oleh wartawan Michael Azerrad, logo "X" Straight Edge dapat dilihat jejaknya dalam pelaksanaan pada acara singkat Band Teen Idles yaitu U.S. West Coast tour tahun 1980. Teen Idles telah dijadwalkan untuk bermain di Mabuhay Gardens, San Francisco, tetapi ketika band tiba, manajemen klub menemukan bahwa seluruh band ini masih di bawah umur minimum dan karena itu mereka ditolak masuk ke dalam klub tersebut. Sebagai kompromi, manajemen menandai tiap kedua tangan anggota band Idles dengan logo hitam besar "X" sebagai peringatan kepada seluruh staf klub agar tidak memberikan alkohol ke mereka. Setelah kembali ke Washington DC, band ini diberikan sistem yang sama oleh klu-klub lokal sebagai maksud membolehkan para remaja untuk masuk kedalam klub untuk menyaksikan acara musik tanpa memberikan alkohol kepada mereka. Tanda itu secepatnya diasosiasikan dengan gaya hidup Straight Edge.

Sebuah variasi melibatkan trio X's (xXx) berasal dari hasil karya seni yang dibuat oleh drummer Minor Threat yaitu Jeff Nelson, yang mana Jeff menggantikan tiga bintang dalam bendera Washington DC kampung halaman mereka menjadi X. Istilah ini kadang-kadang dipendekkan dengan mencantumkan X dengan kependakan istilah dari Straight Edge menjadi "sXe". Dengan analogi, hardcore punk kadang-kadang disingkat menjadi "hXc". Simbol ini dapat digunakan sebagai sebuah jalan untuk membedakan sebuah band atau seseorang yang menganut faham Straight Edge, dengan menambahkan huruf didepan dan belakang nama band, contoh band 'xFilesx'.

Friday, 20 May 2011

"GAUL" Tak Bersyarat

FUCK....... Ini lah pertama kali gw mengucapkan kosakata tersebut sebagai pembukaan gw kali ini. Entah abis pikir apa ketika semua orang berpikir bahwa menjadi gaul ataupun bergaul itu menjadi sebuah dosa turunan yang menjijikan bagi remaja masa kini. Berpikir bahwa anak gaul adalah sebuah kesalahan, harus memiliki barang-barang tertentu yang sedang up to date, hang out sepanjang hari ketengah keramaian, ataupun memakai pakaian yang trendies. Apakah gaul harus memiliki hal itu semua? FUCK..... tampaknya saya harus melempar kalian, yang berpikir demikian, dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan menendang kalian menuju era 90'an.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kosakata gaul (ga.ul) , ber.ga.ul v hidup berteman (bersahabat). Ketika kita menalar lebih luas, gaul ini merupakan bagaimana kita bergaul atau berteman. Ini merupakan sebuah sistem masyarakat untuk berinteraksi sehingga kita dapat saling mengenal dalam bermasyarakat. Bagaimana kita berkenal, memperbanyak teman, memperluas jaringan perkenalan, dan meningkatkan kualitas perkenalan apakah ini sebuah hal yang dianggap salah? ataukah anak muda saat ini salah menafsirkan hal ini.

Anak muda pada masa kini memiliki persepi bahwa gaul ada menggunakan gadget yang mutakhir, berfashion ala tertentu, selalu pada hadir disetiap acara-acara anak muda, menggunakan merk-merk terkenal, merokok, orientasi hedonisme, ataupun menggunakan kendaraan beroda 4 pribadi sebagai alat transportasi primer. Tanpa semua itu, tak layaknya disebut sebagai anak gaul. Ini adalah sebuah persepsi yang salah dan harus dibenarkan. Persepsi tersebut absurd dan menghasilkan banyak kekacauan akibat salah pandang dan bertindak.

Gw pribadi berharap, semua yang berpikir macam itu sadarlah. Tak perlu elu latah akan segala hal yang ada disekitar hidup elu agar elu di anggap gaul ataupun eksis semacamnya. Kembali tela'ah esensi dari pergaulan tersebut dan jadilah diri elu sendiri yang utuh.

Friday, 1 April 2011

Bermusik di Mulai Dari Kamar

Sebelum menulis, saya akan berterima kasih kepada Charles Babbage yang telah menemukan komputer yang dapat diprogram serta Dr. John W. Mauchly dan J. Presper Eckert, jr yang telah merakit komputer pertama didunia ENIAC (Electronic Numerical Integrator And Computer). Berkat sumbang sih mereka, maka segala kebutuhan duniawi masyarakat dapat dipenuhi.

Dahulu kala sekitar tahun 50-an, band-band yang ada di Indonesia sangatlah jarang sekali. Saya pun hanya bisa menyebutkan The Tielman Brothers sebagai band yang saya tahu saat ini. Terima kasih kepada ALLAH SWT yang sangat pemurah, memberikan manusia akal pikiran sehingga teknologi dan ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan pesat. Tahun tiap tahun kemajuan teknologi kian berkembang dan studio band atau pemilik alat musik modern kian ramai sehingga di tahun '60-'70 lahirlah Koes Plus, D'Lloyd, Pambers, Mercy's sebagai musisi yang kondang di era saat itu sampai sekitar tahun '80-an mereka tetap raja musik Indonesia. Pada era orde lama macam itu, studio musik dan alat musik modern pada awamnya hanya dimiliki oleh segelintir orang dan tak semua kalangan dapat memilikinya. Kemajuan dan membuat band di tahun seperti itu dianggap hanya orang-orang tertentu saja yang mampu; akan tetapi sekali lagi akal pikiran yang diberikan ALLAH SWT memecahkan semua itu dengan teknologi yang diberi nama MIDI.

MIDI yang merupakan singkatan dari Musical Instrument Digital Interface, suatu protocol standar industri  yang memungkinkan perangkat musik elektronik seperti synthesizers maupun drum machines serta perangkat elektronik lainnya seperti MIDI Controllers, sound cards maupun sampler untuk berhubungan, melakukan komunikasi serta proses sinkronisasi satu sama lain. Berbeda dengan media analog, MIDI tidak melakukan transmisi  audio signal, melainkan mengirim semacam messages berupa pitch atau intensitas, control signals untuk parameter seperti volume, vibrato dan yang lainnya. Teknologi MIDI ini mulai diperkenalkan ke seluruh dunia pada tahun 1982. Pengenalan teknologi MIDI di Indonesia pada awalnya semacam diangkut oleh para buruh nada seperti Fariz RM dan Harry Roesly. Hingga sampai saat ini banyak sekali musisi local kita yang mengaplikasikan teknologi MIDI ini pada karya mereka. Mari kita sebut saja Goodnight Electric, Zeke Khaseli, Saykoji, dan sebagainya.

Kedatangan teknologi MIDI di Indonesia bagaikan hujan yang berhembus di tanah yang subur, banyak orang hebat yang dapat menciptakan musik namun tak tahu harus bagaimana merealisasikannya. Kendala-kendala yang diciptakan oleh teknologi bermusik analog seperti biaya yang mahal, proses yang berat, perlu waktu yang lama, serta perlu tenaga lebih untuk memainkannya dapat diatasi MIDI. Cukup bermodalkan komputer, synthesizers, MIDI Controllers, software digital, sound cards, sampler, dan ruang sempit alias kamar tidur maka anda dapat menuangkan gagasan bermusik anda.

Goodnight Electric pada awalnya sebuah proyek kamar seniman hebat Henry Irawan alian Henry Foundation. Ia menciptakan lagu-lagu Goodnight Electric berdasarkan perlengkapan yang dia punya yaitu komputer. Saat ini, Goodnight Electric adalah sebuah grup musik yang telah tersohor dan acap kali merasakan udara di luar Indonesia.

Zeke Khaseli, saudara dari Amy Gumlar dan ipar dari Taufik Hidayat, memulai proyek solonya "Salacca Zalacca" di kamarnya. Bermodalkan teknologi MIDI sampai akhirnya dia menciptakan puluhan lagu dalam sebulan. Sebuah pencapaian yang fantastis bagi saya dan mungkin angka sebanyak itu tak bisa dicapai apabila menggunakan alat musik analog pada umumnya.

Contoh di atas merupakan sebuah bukti bahwa musik dapat terlahir dari sebuah kamar. Tak hanya bayi ataupun suara kegaduhan yang dapat keluar dari kamar, namun musik pun dapat terlahir dari tempat tersebut. Ketika anda mempunyai gagasan atau ide brilian tentang bermusik, segarakan menunaikan ibadah terlebih dahulu, kemudian segera tuangkan gagasan tersebut dengan teknologi MIDI ini. Simple, praktis, cepat, ringkas, dan tak memerlukan proses yang tak jelas adalah keunggulan dari MIDI. Sebuah teknologi brilian ketika di jaman serba cepat ini kita dituntut untuk bisa cepat dan tepat.

Keep abstrak and Absurd!

Sunday, 30 January 2011

Compact Disk Oh Riwayatmu!

Agustus 2010 adalah bulan yang sangat menyedihkan bagi para kolektor CD. Pasalnya pada bulan itu Aquarius menutup beberapa gerai kasetnya yang bertempat di Pondok Indah, Dago Bandung, dan Surabaya. Penutupan beberapa gerai ini akibat turunnya tingkat penjualan kaset dan CD di Indonesia. Penurunan angka penjualan ditengarai oleh maraknya pembajakan yang berkembang subur nan makmur di Indonesia dan penjualan secara digital kian marak.

Pembajakan di negara ini mungkin tak hanya pada sektor hak karya dan cipta namun pada segala aspek kehidupan kita pun sudah ada pembajakan di setiap hembusannya. Namun tampaknya pembajakan benar-bener menikam industri penjualan CD tepat pada bagian yang vital. Para pembajak menawarkan CD bajakan mereka dengan harga yang murah, isi yang sama, dan kualitas isi yang hampir setara dengan CD asli. Selain itu kita pun lebih mudah membeli CD bajakan ketimbang CD asli. Bisa anda hitung berapa banyak lapak CD bajakan yang anda lewati ketika anda sedang berjalan di Blok M atau Cawang? Bagi kita orang Indonesia awamnya, ketika ada yang lebih murah, kenapa juga mesti beli yang mahal. Jargon Sialan!

Selain pembajakan, kemajuan jaman dan teknologi melahirkan konsep pasar yang baru yakni penjualan secara digital. Bagi yang belum tahu apa itu penjualan secara digital, biar saya perjelas dengan kata RBT, beli MP3 pada situs-situs berbayar, dan itunes. Yah itu lah konsep penjualan digital. Hanya dengan duduk di depan komputer berkoneksi internet pas-pasan, anda sekalian sudah bisa membeli sebuah karya musik dan bisa anda langsung nikmati. Selain itu tak perlu repot juga menyiapkan rak untuk meletakan dimana barang yang anda beli karena semua sudah tersusun pada file musik anda dan semua rapih. Tak memerlukan space untuk meletakannya. Bahkan penjualan musik digital ini sangat up to date. Tak perlu menunggu berbulan-bulan agar CD tersebut sampai di Indonesia, pada saat itu juga anda bisa membelinya (saat musik tersebut dijual). Benar-benar trobosan yang sangat modern dan mematikan.

Entah CD bajakan banyak ataupun penjualan digital mempermudah, bagi gw pribadi membeli CD asli lebih menyenangkan dan rasanya lebih memuaskan birahi gw untuk menambah pundi-pundi koleksi CD gw. Bagi orang Indonesia typical gw, lebih puas rasanya membeli sesuatu yang berbentuk barang. Bagaimana dengan anda? Sudahkan anda mempunyai CD asli? Semoga CD tidak punah dan bisa terus menghidupi musisi kita.

Di muat dalam fanzine Jakarta Stage edisi I

Sunday, 23 January 2011

Menjujung Langit, Menginjak Bumi

Salam Abtrakers.

Like anothers Sunday, hari ini cukup dirumah dan tak mandi seharian. Apakah ini yang kita akan bahas? tentu saja tidak. I think, all of you doesn't interest about gak mandi seharian. Tapi yang akan kita bahas adalah sebuah kebiasaan orang-orang yang sedikit gw. Kebiasaan yang menurut gw gak masalah sih tapi itu menjadi masalah untuk telinga gw. Kebiasaan orang-orang di sekitar gw yang suka ngomong "elu-gw".

Sudahkah kalian pernah menonton FTV di salah satu televisi swasta di Indonesia? FTV biasanya mengambil lokasi di Yogya, Solo, dan Bali. Bagaimana tanggapan kalian terhadapat orang yang "medok" dan berusaha mengucapkan "elu-gw" kepada lawan mainnya? Cukup aneh terdengar bukan pada telinga orang-orang Jakarta dan sekitarnya. Mungkin apa bila ada orang Jakarta, ia akan tertawa ataupun membatin "how weird they are". Mungkin tak ada masalah dalam hal ini dan tak ada peraturan dalam mengucapkan "elu-gw" dan sudahlah.

Tapi ini adalah sebuah hal yang serius. Ketika gw tinggal di Solo, gw, meskipun orang Jakarta, sebisa mungkin tak berucap atau pun menggunakan kata ganti nama "elu-gw" dalam percakapan sehari-hari. Hal ini bagi gw untuk menghormati orang-orang Solo. Gw merasa tidaklah pas dan sopan menggunakan kata ganti "elu-gw" dalam percakapan sehari-hari dimana mereka biasanya menggunakan kata ganti sapaan "aku-kamu". Hal ini penting karena ini masalah kesopanan dan kesopanan ini masalah karena menyangkut ini penting.

Jadi bagi teman-teman ku yang asli orang Solo atau pun yang "medok" lingualnya, dimohon dan saya berharap tidak menggunakan kata "elu-gw" dalam perbincangan sehari-hari. Bukan karena gw rasis ataupun benci tetapi ini demi kebaikan kita semua. Dengan kalian yang tidak mengucapkan kosakata tersebut maka teman-teman sekalian telah menyelamatkan teman-teman yang dari Jakarta dari dosa memperolok orang lain. Tak ada maksud lain dan gw pun menghormati kalian. Tiada maksud apapun dan hanya ingin respect. 

Keep Absurd and, 
PMA

Sunday, 9 January 2011

KITA BELUM SIAP!

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera kawan dan abstraker.

Selamat tahun baru dan semoga tahun 2011 ini kita semua lebih baik dan berbahagialah ditahun ini. Berikut adalah tulisan pertama gw pada tahun ini dan sedikit serius, namun gw menulis ini berdasarkan apa yang gw alami dan hasil pengamatan gw. Gw menulis ini bukan bermaksud dari pada menyerang ataupun melecehkan namun hanya sebagai pengamatan saja. Adapun kalau ada salah, mari kita koreksi bersama. Tulisan kali ini akan saya beri judul "KITA BELUM SIAP!"

Liburan tahun baru ini gw pulang ke Jakarta dan inilah pertama kalinya gw pulang naik pesawat. Gw berangkat dari Yogya-Jakarta penerbangan 20.10 WIB. Pada penerbangan ini gw melihat banyak orang-orang yang akan kembali ke Jakarta dan tak sedikit pula wisatawan asing yang terbang bersama. Kebetulan yang duduk disamping gw adalah wisatawan asing dan I think he is chinese. Sehabis ia menghempaskan badannya pada kursi, ia meraih laptopnya, mematikan laptop, cell-phone, memasang seat-belt, dan membaca buku dengan khusuk dan nikmat. Sekilas hal itu biasa saja dan tak ada yang aneh namun bagi saya ini cukup berbeda dengan masyarakat kita. Pada penerbangan selanjutnya ketika gw pulang ke Solo, gw pun kembali menggunakan pesawat terbang. Pada kali ini mayoritas dan mungkin seluruhnya adalah orang lokal dan kebetulan disamping kanan gw adalah seorang ibu-ibu. Ketika ia duduk, baliau masih saja asik smsan melalaui telepon genggamnya, padahal larangan penggunaan telepon genggam sudah diberitahukan. Saat pramugari datang mengecek, beliau tampak panik, gugup, dan bahkan tak bisa mematikan telepon geggamnya padahal dia menggunakan dua telepon genggam. Melihat hal tersebut kontan gw teringat penerbangan pertama tadi bersama wisatawan luar tadi. Betapa jauhnya kesadaran kita akan hal ini dan tampak sang ibu belum siap untuk menaiki pesawat terbang.

Contoh lain yang membuat berpikir tentang KITA BELUM SIAP adalah tentang Blackberry (BB). Teringat benar dalam kemunculan Blackberry kepermukaan masyarakat awam Indonesia, betapa orang berbondong-bondong membeli blackberry bak kacang goreng. Bagi pengusaha dan orang yang memerlukan konektivitas unlimited maka BB adalah solusinya. Namun sekali lagi, kita tidak siap. Anak-anak remaja dan bahkan bocah ingusan pun tak kuat iman untuk menolak gadget satu ini. Bagi mereka dari kalangan yang berada tentu saja tak ada masalah dalam membeli barang satu ini namun bagi kalangan menengah kebawah tentu saja ini salah satu masalah. Berdasarkan pengamatan saya, banyak anak-anak dari kalangan menengah kebawah mengakali ini dari meminta paksa orang tua, menjual barang, ataupun memanipulasi uang-uang yang ada.

Contoh-contoh diatas bukan penggambaran secara generalisasi masyarakat Indonesia namun hanya pengamatan gw secara pribadi dan apa yang gw temukan. Gw menilai kalau kita, saya dan orang-orang yang saya amati, adalah orang-orang yang belum siap dalam kemajuan jaman. Mungkin kemajuan teknologi ataupun ilmu pengetahuan bisa kita pelajari secara mendadak dan otodidak akan tetapi disini kita belum siap secara mental.

Kita yang hidup dengan garis besar masih dalam kultur tradisional tampaknya belum siap untuk menyeberang kepada garis modernisasi yang banyak mengahamtam sendi-sendi kehidupan kita. Mental dan attitude kita pun tercermin dalam kelakuan tradisional kita para remaja. Kelakuan tradisional kita ini pun bukan tanpa alasan, para orang tua dan pemimpin kita pun cukup andil dalam menanamkan mental tradisional kedalam mental kita. Teringat ucapan Dr. Yanuar Nugroho dalam seminarnya di Fisip UNS, hanya di Indonesia saja orang sedang meeting dan dalam acara-acara penting nan formal yang memamerkan hp mereka di meja dan SMS-an selama acara tersebut berlangsung. "SmartPhone tak lantas membuat anda Smart!" tuturnya.

Yah segitulah sedikit otak ngawur gw dan pengamatan dari kacamata gw yg selalu buram. No offense and peace!

Keep absurd, vro!

Friday, 19 November 2010

Positive Mental Attitude

Assalamualaikum Wr. Wb.
salam sejahtera rumah tangga bagi kita semua.

I'm back again, fellas. How about you? Long time no see. sudah lama gw gak mengetik-klitik blog "Absurd dan Asbtrak". Pada saat ini gw sedang bersemangat untuk mengetik pada saat ini. At this time, I wanna share about my Positive Mental Attitude. Ketika kalian semua membuka blog "Absurd dan Abstrak" jelas akan tertampang sangat besar sebuat gambar yang berisi tulisan "Positive Mental Attitude". Positive Mental Attitude atau biasa gw singkat PMA kerap gw gaungkan disetiap dunia maya gw. banyak yang bertanya-tanya what is PMA? Makanan atau semacam agama apa kah itu?