Saturday, 27 September 2014

Pada Akhirnya Semua Kembali Pada Titik Nol

Beberapa kaos rangkap dan kemudian dibalut dengan sebuah jaket yang cukup tebal, menghalau terpaan angin malam. Sinar kota menerangi latar belakang pemandangan gedung-gedung yang tinggi menjulang, dan bunyi deru kendaraan sebagai lagu pengantar perjalanan malam hari. Menggilas aspal yang selalu panas dan polusi menemani sedari awal menjelang semua berakhir kelak. Kemang menjadi tujuan di malam hari (25/9), kawasan yang penuh dengan hingar bingar dan kesibukan dua puluh empat jam tiada henti.
Kondisi Thursday Noise Volume 5 Saat The Brandals memanaskan Ecobar (25/9)
Seharusnya tiada yang berbeda dan semua berjalan sama saja. Perasaan dan kesenangan yang sama berbanding beberapa tahun silam. Beberapa tahun silam ketika pertama kali menjadi fotografer musik di Jakarta. Bahkan seharusnya kali ini pun lebih lancar dan menyakinkan dengan pengalaman yang sudah jauh berkembang dan perlengkapan yang lebih memadai berbanding dahulu. Moment dan target objek yang akan dibidik pun bukan objek asing yang tidak terbayangkan. Semua sudah pernah dan kali ini hanya perulangan saja. Tiada yang berbeda dan semua pernah terjadi.

Cuma malam ini terasa sepi dan laju motor tidak berbanding dengan gerak pemandangan. Semua terasa lambat dan berharap tidak lekas menjejakan kaki di Ecobar. Semua terasa lain dan dingin, dingin yang menghembuskan relung hati dan meragukan keadaan nanti. Tiada sapa hangat dan sambutan kebahagiaan di acara kelak. Selimut ragu sempat menghampir, jadi atau tidak? Lanjutkan atau berbalik arah? Atau habiskan malam mencari kehangatan kuliner di kisaran Selatan Jakarta?

Acara berakhir dan sesungguhnya tidak senestapa yang dibayangkan. Gelak tawa bertemu tema-teman lama, merasakan euforia yang hilang sejak lama, serta kegilaan yang tak pernah diluapkan sebelumnya. Bahkan berkat malam ini juga, ini perama kali melakukan stage diving dengan spontan dan entah dari mana timbul keinginan tersebut. Semua liar namun kembali kepada fitrahnya untuk merasakan nikmatnya bersenandung dalam musik. Berteriak dan kita menjadi saudara semalam. Semua tersadar bahkan yang menjadi kerisauan selama ini adalah "Kowe wis ora ning Solo?".

Beberapa temen yang menyapa dan menanyakan kondisi terkini, membuat semua tersadar. Terbiasa di dalam lingkungan yang nyaman, posisi terbaik, penuh dikitari oleh teman-teman, dan menjadi yang berbeda sendiri hingga secara sadar terkontruksi sebagai Ekawan Raharja yang biasa memotret. Disini saatnya kembali dari nol. Mulai berjuang sendiri lagi, mencari dan berusaha mengumpulkan teman-teman yang hangat dan penuh dengan cengkrama, merasakan atmosfir yang liar dan penuh dengan kejutan, serta menjadi seragam dengan yang lainnya dan bersama hitam. Sebuah perbedaan yang mencolok dan gegar kondisi melanda yang harus segara diatasi. Lambat laun, semua ini akan datang sebagai pijakan berkembang dan berkembang. Hingga pada akhirnya semua kembali kepada titik nol.

Sunday, 17 August 2014

Kita Adalah Mahkluk Yang Lemah

Beberapa hari ini, seminggu lebih tepatnya, banyak hal-hal yang terjadi di sekitar. Hal baik dan buruk, cerita bahagia atau sedih, ataupun senyum dan tangis silih datang berganti. Semua datang dan kemudian kembali pergi. Semua sudah menjadi goresan takdir yang konon sudah terukir di saat kita masih di dalam rahim. Mau tidak mau kita hanya bisa menerima dan menerima. Sekeras apapun usaha dan rencana tapi semua sudah ada hasil yang ditentukan. Pasrah adalah menyerahkan sisanya kepada Sang Khalik setelah berusaha dengan segala keringat dan darah yang tersisa hingga mengering.

Akhir-akhir ini, diri ini terasa lemah dan tidak tahu hendak bagaimana. Lidah terlalu kelu untuk berujar, otakpun terasa tumpul untuk mulai berpikir, dan tenaga entah hilang kemana. Hanya bisa menyaksikan keadaan dan takdir yang bergerak mengatur segalanya. Hendak menolong apa daya, manusia biasa dan tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya doa, berdoa semoga Allah SWT. memberikan petunjuk dan jalannya. Jalan menuju apa yang terbaik dari yang terbaik. Membiarkan ruh dan jasad ini berjalan menuju takdir yang sudah ditetapkan.

Tak usah dipikir dengan akal sehat dan memperhatikan hati yang masih belum bisa menerima. Sudah kodrat manusia yang memiliki nafsu untuk selalu bergerak, berusaha, dan berencana akan tetapi jangan lupa bahwa kita bukanlah sesiapa. Bahkan sesungguhnya pun diri ini tidak berkuasa atas apa yang ada dan melekat. Biarkan hati ini mengikhlaskan dan logika menunduk rendah kepada kuasa Allah SWT yang Maha Perkasa. Sandarkan hati ini, dan berikan sujud tertinggi kepada Allah SWT sebagai bentuk syukur karena Allah SWT. masih menunjukan jalannya. Akhirnya ikhlaskan dan ingat bahwa kita bukanlah sesiapa, hanya mahkluk lemah yang butuh belas kasih dari Sang Pemilik Kehidupan.