Sunday, 4 January 2015

Retrospeksi Diri 2014

Banyak hal satu persatu yang terlewati. Senang, bahagia, gembira, tawa, dan berbagai macam perasaan lainnya. Tergores sudah cerita yang tidak kan pernah terhapuskan di dalam batu historikal. Sebuah jurnal imajinasi yang rapi tersimpan dalam benak dan kelak kan menjadi sebuah pembelajaran yang tentunya tidak ternilai harganya. Terasa tak lengkap dan berimbang jikalau senang dan berbagai perasaan senang lainnya tidak hadir bersama selimut duka yang mengahantui. Yah, datang dan pergi memberikan sebuah cipratan noda diatas memoar indah. Semua berbanding dan saling melengkapi, layaknya sepasang jari yang menggenggam erat.

Menyalahkan Tuhan atas suratan takdir dalam hidup kita? Tidaklah, semua murni atas pilihan umatnya. Jikalau 2010 hingga 2012 bisa dibilang tahun yang gemilang di dalam hidup, maka 2013 menjadi sebuah persimpangan hidup kemana akan menuju. Maka sebuah petunjuk jalan yang ditempuh adalah "KEMALASAN". Menuju malas, dan perlahan menggerogoti dari dalam perlahan namun pasti hingga sepotong hilang sudah. Sedih? Tiada yang menyukai kehilangan. Kecewa? Sudah terjadi dan semua dibalas dengan senyum getir yang menghiasi.

Rasa nyaman, dinding-dinding pembatas baru, serta beban yang kian banyak membuat malas untuk bergerak. Terlena dalam ranjang empuk berbalut selimut tebal mengusir dingin yang menyeruak membuat setan berbisik bahwa berbaring menjadi pilihan yang tampaknya tepat. Buai sanjung dan puji di telinga kiri dan kanan menghanyutkan dari hulu menuju hilir, dari puncak menuju dataran rendah. Singgasana yang tegak berdiri menopang perlahan digergaji satu persatu penyangganya hingga pincang dan siap untuk digulingkan. Malas memang ternyata sebuah perjalanan yang sungguh berat dan berbahaya.

2015, tahun baru sudah di mulai. Genderang perang sudah dipanaskan, siap menuju perang baru. Kekalahan di tahun sebelumnya memang menyakitkan dan membuat luka yang pedih. Saatnya kembali menantang hidup ini, mengais kembali dengan tangan-tangan yang gempal, dan menapaki semak belukar yang entah apa dibaliknya. Tantang lagi hidupmu, dan terjang lagi dunia ini. Dunia belum berakhir dan takkan berakhir hingga nafas terakhir terhembuskan.

Tuesday, 4 November 2014

Kondisi Tenang Yang Membosankan

Rutinitas yang begitu-begitu saja, berulang-ulang dan kemudian kembali berulang. Gelap diujung, diantara dinding-dinding dingin yang tinggi menjulang. Menutup kilau yang memperjelas semuanya. Percaya pada sebuah titik terang yang entah dimana letaknya, kapan digapai, dan semua masih kabur. Membuka kelopak mata yang kian menghitam, menatap langit-langit yang sama. Hitam dan gelap nestapa. Jalan setapak beraspal mulus sudah tersiap dengan rapi hingga entah dimana aspal ini berujung.

Gerak yang terbatasi oleh sulur tipis bak benang namun kokoh layaknya baja murni. Badan mungkin bisa berkelana sesuka namun apa daya kemana pikiran yang terpatri. Terpatri oleh beberapa tanggung jawab yang sesungguhnya semua hanya fana. Buah fikir yang sesungguhnya tidak harus dipenuhi namun terasa wajib karena tiada hal lain. Mengeluh bukan jalannya, rongrongan siap menerkam jika mulut berbicara
Pada akhirnya hanya tersenyum kecut bahwa kondisi tenang berakhir yang membosankan.