Tuesday, 4 November 2014

Kondisi Tenang Yang Membosankan

Rutinitas yang begitu-begitu saja, berulang-ulang dan kemudian kembali berulang. Gelap diujung, diantara dinding-dinding dingin yang tinggi menjulang. Menutup kilau yang memperjelas semuanya. Percaya pada sebuah titik terang yang entah dimana letaknya, kapan digapai, dan semua masih kabur. Membuka kelopak mata yang kian menghitam, menatap langit-langit yang sama. Hitam dan gelap nestapa. Jalan setapak beraspal mulus sudah tersiap dengan rapi hingga entah dimana aspal ini berujung.

Gerak yang terbatasi oleh sulur tipis bak benang namun kokoh layaknya baja murni. Badan mungkin bisa berkelana sesuka namun apa daya kemana pikiran yang terpatri. Terpatri oleh beberapa tanggung jawab yang sesungguhnya semua hanya fana. Buah fikir yang sesungguhnya tidak harus dipenuhi namun terasa wajib karena tiada hal lain. Mengeluh bukan jalannya, rongrongan siap menerkam jika mulut berbicara
Pada akhirnya hanya tersenyum kecut bahwa kondisi tenang berakhir yang membosankan.

Sunday, 12 October 2014

Mereka Pikir

Mereka pikir saya adalah orang yang tenggelam dalam hedonisme. Melaju dari sebuah keramaian anak muda masa kini menuju tempat yang serupa. Kepulan asap yang mengisi ruang-ruang dan cairan alkohol yang membahasi tenggorokan. Bergelimpangan wanita-wanita cantik pemancing birahi dalam dekapan tangan kiri dan kanan. Tenggelam dalam galak tawa dan hilangnya kesadaran sampai menjelang.

Mereka pikir saya adalah orang yang tahu akan segala hal. Menyanyai tentang apa-apa yang mereka ingin ketahui, entah baik ataupun buruk. Memuaskan rada keingintahuan mereka, menggaruk rasa penasaran mereka. Menjawab misteri yang menghantui mereka meski sesungguhnya mereka tidak perlu untuk mengetahuinya. Dahaga penasaran terbasahi tak kala semua terbuka dan lantas mereka hilang tak mengacuhkan.

Mereka pikir saya adalah orang yang tak peduli. Penuh dengan rasa sinis dan arogansi. Tenggang rasa hanya menjadi cerita di kelas sekolah dasar. Pribadi yang angkuh dan self-centris. Persetan dengan orang lain selama tidak menganggu. Tangan dingin yang tidak akan pernah menjabat erat mereka yang hadir dihadapannya. Apa urusan orang lain hingga mengulurkan tangan pun terasa berat. Jangankan uluran tangan, segaris senyum pun tak akan.

Mereka pikir saya adalah orang yang dapat memuaskan semua orang. Merealisasikan berbagai hal untuk keperluan pribadi. Membuat semua orang tertawa lega dan mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi. Memenuhi pundi-pundi mereka dengan emas yang kian tak terhitung jumlahnya. Engkau puas dan kemudian semua senang. Sikut kiri sikut kanan bagi mereka yang tidak sejalan ataupun saingan. Apapun terjadi selama puas.

Mereka pikir...