Monday, 6 January 2014

Saatnya Kita Menendang Kembali Pantat Mereka!

Akhir pekan lalu, tepatnya 4 Januari 2014, adalah pertemuan kembali dengan Sore. Sebuah grup kontemporer yang sudah teruji klinis karya mereka. Terakhir menyaksikan sepak terjang unit berbahaya asal Jakarta ini sendiri pada tahun 2010 di Bandung. Sebuah rentan waktu yang cukup panjang dan mengurat dalam labirin kerinduan. Sayangnya tulisan kali ini bukanlah sebuah review atas penampilan mereka. Berbagai atraksi ataupun format termutakhir band ini tidak akan dibahas, melainkan sebuah perbincangan singkat dengan Ade Paloh (Vox & Guitar) menggelitik tajam di benak.
With Sore at The Parade 2014
Bermula dengan perbincangan hangat soal kaleidoskop musik 2013 perihal banjirnya konser musisi luar negeri yang melakukan lawatan tandang di bumi pertiwi. Kita, penikmat musik di Indonesia, selalu menyambut dengan gegap gempita dan bahkan tiket konser pun bisa ludes secepat kilat. Menghamba dan menyematkan tanda jasa kepada mereka sebagai idola. Hal ini tentu tidak salah karena kita dari awal lebih banyak dicekoki oleh musisi-musisi luar dan masih cukup melekat stigma "mendengarkan musik lokal tidak keren" terngiang-ngiang. Ade sendiri menyebut invasi musik dari luar ini sebagai bentuk kolonialisme musik. Kemudian hal yang selanjutnya dibahas adalah bagaimana dengan musik di Indonesia sendiri saat ini?

Meski beberapa tahun ini kurang mengikuti scene musik di Indonesia, karena berbagai urusan akademis dan hal teknis lainnya, namun musik Indonesia masih bisa dibilang mengalami progress meski cuma sejengkal. Musik di Indonesia bisa dibilang mengalami kemajuan, dilihat dari banyaknya band ataupun musisi-musisi baru yang cukup menjanjikan, pendokumentasian yang kian diperhatikan, banyaknya media independen yang bertebaran, rilisan album bagus di tahun ini, serta mulai bervariasinya bentuk dan pengemasan rilisan. Mulai dari pembuatan boxset, vinyl, hingga gimmick dan pemasaran rilisan kepada masyarakat. Akan tetapi scene musik di Indonesia juga menerima banyaknya tamparan hebat yang cukup membuat kita mengelus dada ataupun menitikan air mata. Masih kurangnya dukungan pemerintah, industri musik Indonesia yang kian berantakan, kemudian angka pembajakan yang masih tinggi dan berimbas kepada banyak tutupnya toko-toko musik di Indonesia seperti Aquarius Mahakam yang melegenda.

Bagai mengurai benang yang terbelit dan basah, dunia musik di Indonesia kian kompleks namun banyak musisi di Indonesia yang kemudian peduli setan dengan segala keadaanya dan terus berkarya dengan ikhlas yang diendapkan disetiap nada-nadanya. Hasilnya pun cukup memuaskan dan membuat mereka yang berhasil menepuk dada dengan bangga. From zero to hero, mereka mulai memiliki fans yang semakin besar dan militan. Bisa diambil contoh dengan fans dari THE S.I.G.I.T., Superman is Dead, Endank Soekamti, ataupun Seringai penuh sesak memenuhi disetiap sudut mosh-pit yang mereka gelar. Belum lagi beberapa penghargaan dan apresiasi dari luar negeri kepada insan musik Indonesia. Ini sebuah pertanda bahwa Indonesia memiliki musikalitas yang tidak kalah dengan musisi internasional.
Adhitia Sofyan at Rown Carnaval 2013
Menurut Ade, sudah bukan jamannya lagi kita mengidolakan musisi luar negeri tetapi orang luar negeri lah yang mengidolakan musisi Indonesia. Ade dan Echa (guitar & vox) bercerita bahwa Sore pernah manggung di luar negeri. Sebelum Sore on stage, ruang di depan panggung kosong tiada yang berdiri, namun takala lagu pertama dimainkan maka ruang kosong itu tidak ada seketika berganti lautan manusia yang penuh sesak. Selain itu Burgerkill dan THE S.I.G.I.T. pun menuai puja dan puji pula usai melaksanakan tour di Australia. Demikian adalah segelintir bukti bahwa musikalitas musisi Indonesia bukan cuma sekedar omong kosong.

Hanya saja perlu kerja keras dan kerja rodi untuk bisa membuat Neo Kolonialisme dimana musik Indonesia menjadi candu di mata dunia. Banyak hal yang perlu dibenahi dan diperhatikan. Semua stake holder scene musik Indonesia harus terlibat dan memberikan pembenahan yang menyeluruh. Bagaimana pun sebaik-baiknya emas apabila tidak di olah dan dipoles dengan baik, enggan orang membeli atau bahkan menyentuhnya. Akan tetapi, kita harus tetap berbangga hati dengan segala apa yang kita punya. Urusan musik, Indonesia harus berbangga hati karena memiliki ragam jenis musik dan musikalitasnya yang mumpuni. Sudah cukup kita mendatangkan para ekspatriat tersebut ke Indonesia, saatnya kita menjajah belahan dunia lain dengan musik-musik dari Indonesia. Sudah cukup kita menjadi kerbau yang dicucuk oleh kolonialisme, dan saatnya kita menendang pantat mereka!

Tuesday, 17 December 2013

Haruskah Kita Merasa Puas?

Teringat dengan perbincangan singkat dengan Yudita Trisnanda beberapa hari silam. Layaknya komentator, bahasan tentang gaya hidup mahasiswa masa kini yang beraneka ragam terlontar ekspresif. Mulai dari yang luar biasa mengagumkan hingga luar biasa mengundang helaan nafas. Meski singkat namun berjuta makna yang bisa diangkat untuk diambil hikmahnya. Salah satu hikmah yang bisa diambil adalah perihal kepuasan.
Salah satu hal yang bikin gw gak pernah puas sih yah koleksi apa yang gw pegang.
Kembali teringat dengan sebuah celetukan "Namanya juga manusia, gak pernah puas!" yang cukup akrab di telinga. Secara ilmiah hal tersebut ada benarnya. Terbukti Abraham Maslow membuat teori Hierarki Kebutuhan. Teori ini muncul karena Maslow sendiri memiliki latar belakang sebagai Psikolog Humanistik, dimana dia percaya bahwa manusia berusaha untuk mencapai kemampuan terbaiknya. Sehingga manusia akan terus dan terus menggali potensi dalam dirinya.

Tidak pernah merasa puas tentu menjadi sebuah sifat yang cukup baik. Sebuah bentuk kritis terhadap hal-hal yang ada disekitarnya. Tentu saja diperbolehkan untuk tidak merasa puas dan terus menerus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. Layaknya seorang karyawan yang tidak pernah merasa puas sebagai karyawan biasa, mahasiswa yang tidak pernah puas sebelum meraih nilai sempurna, ataupun seorang mahkluk hidup yang tidak pernah puas akan pahala yang didapatnya. Semua sah dan diharuskan tidak lekas berpuas diri.

Akan tetapi bagaimana posisinya bila ketidakpuasan tersebut melebihi ambang kemampuan dirinya? haruskah kita tetap harus tidak berpuas diri? Apakah kita harus terus mengejar rasa dahaga manusiawi? Banyak kasus belakangan ini, ketidakpuasan yang membabi buta dan gelap membuat semua salah langkah. Banyaknya teriakan ketidakpuasan membuat lupa untuk mempelajari syukur. Semua ada kesimbangannya, dan ketidakpuasan memiliki anti yakni syukur.

Jadi, sudahkah kalian bercermin dan menilik diri kalian sendiri hari ini? Sudahkah kalian melihat kondisi dan tertawa menertawakan diri sendiri? Semua sah, bebas berpendapat. Pada akhirnya semua pun akan kembali kepada jiwa masing-masing dalam menjalani cerita hidup sendiri.